Merawat Tradisi Ratusan Tahun, Maulid di Desa Kemuja Serasa Lebaran

  • 26 Agt 2026 08:12 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Bangka - Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw 1448 Hijriah di Desa Kemuja, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, berlangsung meriah dan penuh kehangatan serasa lebaran, Selasa, 25 Agustus 2026.

Tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun hingga kini masih dijaga dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Bupati Bangka Fery Insani mengatakan, peringatan Maulid Nabi di Desa Kemuja telah menjadi tradisi khas masyarakat yang tidak terpisahkan dari kehidupan warga.

“Setiap kali peringatan Maulid Nabi, Desa Kemuja selalu menjadi pusat perayaan. Ini sudah menjadi tradisi yang tidak terputus dan menjadi bukti kita terus menjaga warisan Islam dari para pendahulu,” ujar Fery.

Menurutnya, tradisi ini bukan hanya sekadar kegiatan seremonial keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari perpaduan nilai agama dan budaya yang telah mengakar di tengah masyarakat.

Fery mengajak masyarakat tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga mengambil nilai-nilai keteladanan dari akhlak dan ajaran Nabi Muhammad.

“Mari kita maknai perayaan ini dengan meneladani akhlak dan ajaran Rasulullah SAW. Tradisi Maulid di sini bukan sekadar upacara, melainkan perpaduan nilai agama dan budaya yang indah,” katanya.

Ia menilai tradisi Maulid juga menjadi momentum mempererat silaturahmi dan memperkuat kebersamaan masyarakat.

“Harus senantiasa dipelihara dan dijaga keberadaannya, karena selain ibadah, ini juga menjadi ajang silaturahmi dan kebersamaan yang menyatukan hati seluruh masyarakat Kabupaten Bangka,” tambahnya.

Sementara, Kepala Desa Kemuja Muhammad Solehan mengatakan, tradisi Maulid di desanya telah berlangsung selama ratusan tahun dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Menurutnya, masyarakat Desa Kemuja terus menjaga keaslian rangkaian tradisi tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.

Warga Desa Kemuja membaca barzanji sebagai tradisi Maulid Nabi (Dok. RRI)

“Perayaan ini sudah berjalan ratusan tahun dan diwariskan secara turun-temurun. Kami tetap menjaga keasliannya hingga sekarang,” kata Solehan.

Rangkaian perayaan biasanya dimulai sehari sebelum puncak Maulid. Warga melaksanakan tradisi Nganggung Sepintu Sedulang, yakni membawa hidangan secara bersama-sama untuk kemudian disantap dalam suasana kebersamaan.

Tradisi ini, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan riwayat serta sifat-sifat luhur Nabi Muhammad Saw. Keesokan paginya, masyarakat kembali berkumpul untuk mengikuti puncak peringatan Maulid Nabi.

Solehan menyebut antusiasme masyarakat dalam menjaga tradisi tersebut menjadi kekuatan utama sehingga perayaan Maulid di Desa Kemuja tetap bertahan hingga saat ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....