BMI Babel Ajak Generasi Muda Jaga Demokrasi dan Konstitusi
- 29 Jul 2026 06:55 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Pangkalpinang- Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Banteng Muda Indonesia (BMI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menggelar Malam Renungan Peringatan Peristiwa Kudatuli Kerusuhan 27 Juli 2026 di Nol Kilometer Pangkalpinang.
Momentum ini menjadi sarana refleksi sejarah sekaligus edukasi politik bagi generasi muda akan pentingnya merawat demokrasi di Indonesia.
Sekretaris Jenderal DPD BMI Babel, Rais Abdilah, mengatakan. demokrasi yang dinikmati masyarakat hari ini merupakan buah dari perjuangan panjang dan pengorbanan banyak pihak.
"Peringatan Malam Renungan Kudatuli ini menjadi pengingat bagi kita semua, khususnya anak muda, bahwa demokrasi di Indonesia tidak lahir begitu saja, tetapi melalui perjuangan dan pengorbanan banyak orang," ujar Rais.
Atas dasar sejarah tersebut, Rais menekankan bahwa menjaga keberlangsungan demokrasi adalah tanggung jawab bersama yang harus dijalankan sesuai dengan koridor hukum dan konstitusi yang berlaku.
Menurut Rais, semangat dari peristiwa Kudatuli tidak hanya mengajarkan tentang kebebasan berpendapat, melainkan juga tentang kedewasaan dalam berbangsa dan bernegara.
“Semangat Kudatuli mengajarkan bahwa demokrasi bukan hanya soal kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga soal tanggung jawab untuk menjaga persatuan, keadilan, dan menghormati konstitusi sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Setiap warga negara, kata dia, berhak menyampaikan aspirasi dan ikut berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi. Namun, semua itu harus dilakukan dengan cara yang baik, saling menghormati, serta tetap berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan DPD PDI Perjuangan Babel, Riski, mengatakan, peringatan ini merupakan momentum penting untuk mengingatkan generasi muda akan pentingnya kebebasan berpendapat yang diperjuangkan dengan penuh penindasan di masa Orde Baru.
| Baca juga: DPD Demokrat Babel Gelar Musda V |
Riski menceritakan bagaimana dinamika politik saat Mimbar Bebas di jalan Diponegoro memicu tekanan luar biasa terhadap partai, hingga menelan banyak korban.
"Cerita kelam ini tidak boleh terulang kembali pada bangsa kita. Bangsa kita memiliki kedaulatan demokrasi dan kebebasan untuk berbicara serta mengekspresikan diri yang harus dijaga sepanjang masa," kata Riski.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna, mengapresiasi inisiatif generasi muda dalam merawat ingatan sejarah bangsa.
Dessy berpesan agar nilai-nilai perjuangan Kudatuli dijewantahkan ke dalam nilai-nilai demokrasi yang santun, damai, dan merangkul persatuan.
“Dengan sejarah, kita tahu ke mana arah kita melangkah ke depan. Sesuai dengan prinsip 'Jasmerah' (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah), jadikan sejarah Kudatuli sebagai pengingat perjuangan demokrasi. Mari kita isi demokrasi dengan cara yang santun dan menjaga Kota Pangkalpinang serta Babel tetap kondusif," ucap Dessy.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....