MTHQ Puding Besar Tekankan ke Hafidz/Hafidzah Jaga Hafalan

  • 21 Jun 2026 16:57 WIB
  •  Sungailiat
Poin Utama
  • Komitmen MTHQ Puding Besar mencetak generasi Qurani di Bangka Belitung

RRI.CO.ID, Bangka- Pondok Pesantren Ma'had Tahfidz Hidayatul Qur'an (MTHQ) Puding Besar, Kabupaten Bangka, kembali sukses mencetak generasi Al-Qur'ani di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) lewat acara Haflah Akhirus Sanah, Tasyakuran Tahfidz dan Pelepasan Kelas Akhir pada Minggu 21 Juni 2026.

Momentum spesial ini juga bertepatan dengan perayaan hari jadi (milad) pondok pesantren tersebut yang ke-13.

Pimpinan Ponpes MTHQ Puding Besar, KH Masyhuri, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas kelancaran proses pendidikan di pondok hingga mampu melahirkan banyak hafiz dan hafizah di Pulau Bangka.

Ia berharap para lulusan ini dapat membawa keberkahan yang luas, dimulai dari lingkungan keluarga hingga skala nasional.

"Kami berharap mereka nanti setelah pulang ke rumah bisa membawa berkah untuk rumahnya, kampungnya, kepulauan kita, bahkan mampu memberikan keberkahan untuk seluruh negeri yang kita cintai. Kami mohon doa di ulang tahun ke-13 ini semoga MTHQ semakin dewasa, semakin baik, dan semakin maju," kata Masyhuri.

Di hadapan para wisudawan dan wisudawati, KH Masyhuri memberikan pesan mendalam mengenai esensi setelah lulus dari program tahfiz. Ia meluruskan pemahaman keliru status sebagai wisudawan berarti tugas berinteraksi dengan Al-Qur'an telah selesai. Sebaliknya, momen kelulusan justru merupakan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

"Menghafal Al-Qur'an itu bagi saya sangat mudah. Saya dulu satu jam saja mampu menghafal empat halaman, tetapi menjaganya (muraja'ah) itu yang luar biasa berat. Jadi, menjadi wisudawan-wisudawati justru awal beratnya kita untuk menjaga hafalan tersebut," ujarnya.

Ia menekankan, tantangan zaman saat ini sangat dinamis dan berat, terutama ketika para santri sudah kembali ke rumah dan berbaur dengan masyarakat luar yang memiliki lingkungan berbeda dengan pondok pesantren.

Memahami beratnya tantangan menjaga hafalan di luar pondok, KH Masyhuri mengimbau para alumni untuk tetap bergabung dengan kelompok-kelompok tahfiz atau rutin menyetorkan hafalan mereka kepada guru-guru pembimbing.

Sebagai bentuk komitmen berkelanjutan, pihak MTHQ Puding Besar secara terbuka memfasilitasi para alumni yang ingin kembali ke pondok demi menjaga kualitas hafalan mereka.

"Kami memahami ketika anak-anak pulang ke rumah, kondisinya penuh tantangan untuk bisa menjaga hafalan. Oleh karena itu, kami sudah membuka program itu. Silakan kembali ke pondok untuk menyetorkan hafalannya di sini. Intinya, tugas berat mereka baru dimulai saat menjaga hafalan tersebut," ujarnya.

Salah satu Wisudawan Tahfidz 30 juz, Muhammad Iqbal Ar-royan mengaku senang bisa membanggakan orang tua, bisa membanggakan guru-guru yang ada di pondok dengan menuntaskan hafalan tersebut.

“Bisa menunjukkan sama kawan kalau menghafal Al-Quran itu bukan tentang siapa yang pintar, siapa yang mampu. Namun siapa yang bisa bersabar, berjuang, hingga bertahan sampai titik akhir,” ujar Iqbal.

Menurut Iqbal, motivasi dalam menghafal Al-Quran yakni mencari rida Allah, ingin menjadikan Al-Quran sebagai pedoman jalan hidup dan bisa membanggakan orang tua di dunia dan di akhirat.

“(Rencana) lelanjut kuliah. Pengen ngambil jurusan teknologi. (Dukungan orang tua) biasanya orang tua itu setiap bulan, setiap kunjungan, selalu nekenin setoran, murajaah, jangan sampai lupa. Jangan terlalu banyak main dengan kawan. Tekan dulu rasa pengen main, rasa malas-malasan. Karena menghafal Al-Qur'an itu kata orang tua, enggak bisa kalau cuman modal baring di bantal,” kata Iqbal menuntaskan hafalan 2,5 tahun ini.

Senada dengan itu, wisudawati 30 juz lainnyq, Nadzifa Aprilia mengaku bersyukur sebagai anak punya suatu hal yang bisa membuat orang tuanya bangga dengan menghafal 30 juz Al-Quran.

“Menghafal Al-Quran menurut saya sebuah bakti untuk orang tua saya, karena saya pun sadar saya sebagai anak tidak akan bisa membalas jasa mereka berdua,” ujar Nadzifa.

Bagi Nadzifa motivasi dalam menghafal yakni mengejar rida Allah, membuat orang tua bangga, serta membalas jasa mereka walaupun tahu semua itu tidak akan terbalas.

“Tapi bagaimanapun juga saya ingin ada satu hal yang membuat saya bisa berbakti pada mereka. (Cita-cita) Cita-cita saya sejak lama, saya ingin menjadi seorang dokter,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....