Penggunaan Gadget Berlebih Picu Siswa Terlambat dan Bolos Sekolah

  • 25 Mei 2026 17:16 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Belitung Timur - Penggunaan gadget secara berlebihan pada anak dinilai mulai memengaruhi konsentrasi belajar siswa di lingkungan sekolah. Hal tersebut disampaikan Kepala SMPN 5 Manggar, Laili Yuniarti saat kelas parenting di SMPN 5 Manggar dengan tema 'Membangun Batasan Sehat: Menghindar Dampak Negatif Gadget pada Anak', Senin, 25 Mei 2026.

Kepala SMPN 5 Manggar, Laili Yuniarti mengatakan kegiatan tersebut digelar karena pihak sekolah melihat penggunaan gadget yang berlebihan mulai berdampak terhadap kedisiplinan dan perilaku siswa di sekolah. Menurut Laili, sejumlah kasus yang terjadi di lingkungan sekolah seperti siswa terlambat masuk kelas hingga bolos sekolah dipicu kebiasaan bermain gadget hingga larut malam.

“Anak-anak sering tidurnya malam karena gadget, akhirnya terlambat masuk sekolah bahkan ada yang bolos. Salah satunya karena pengawasan orang tua yang kurang,” kata Laili.

Selain mengedukasi orang tua, sekolah juga menerapkan aturan pembatasan penggunaan telepon genggam di lingkungan sekolah. Siswa juga tidak diperbolehkan membawa handphone ke sekolah kecuali atas izin guru untuk kepentingan pembelajaran tertentu.

“Kalau memang ada materi atau kegiatan belajar yang menggunakan handphone, itu diperbolehkan. Tetapi handphone dikumpulkan terlebih dahulu ke wali kelas dan digunakan saat diperlukan saja,” ujarnya.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Provinsi Bangka Belitung Imelda Handayani juga mengingatkan orang tua agar mewaspadai maraknya modus predator digital melalui fenomena cybergrooming. Modus kejahatan seksual berbasis teknologi ini sering kali berawal dari game online atau media sosia yang menyasar anak-anak.

Menurutnya, para pelaku biasanya mendekati anak dengan berpura-pura menjadi teman sebaya, memberikan perhatian, hingga memanfaatkan kedekatan emosional untuk memperoleh data pribadi maupun melakukan tindakan kejahatan.

“Sekarang modus predator digital ini juga perlu diwaspadai. Anak-anak sering menjadi korban karena mudah percaya dengan orang yang dikenal melalui media sosial atau game online,” ucapnya.

Disinilah peran orang tua sebagai garda terdepan dalam membimbing anak di ruang digital. Artinya, lanjut Imelda bahwa pengawasan dan pembentukan karakter menjadi tanggung jawab utama keluarga dalam kehidupan sehari-hari.

"Dengan pendekatan yang tepat, pendampingan orang tua, serta penguatan literasi digital, diharapkan anak-anak tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkan ruang digital secara bijak dan bertanggung jawab," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....