Membentung Budaya Asing dengan Nilai Pancasila

  • 02 Jun 2026 14:03 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Pangkalpinang - Di tengah masifnya perkembangan teknologi informasi dewasa ini, membuat bangsa Indonesia dihadapkan pada tugas berat untuk membendung "banjir budaya asing". Sejatinya, masuk dan berkembangnya budaya asing merupakan bentuk keniscayaan seiring kian berkembangnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi global. Jika tak ada upaya membendung banjir budaya asing tersebut, dikhawatirkan kian mengancam eksistensi kearifan lokal di Indonesia.

Budayawan dan Sejarawan Bangka Belitung, Akhmad Elvian mengibaratkan kondisi yang dihadapi kebudayaan Indonesia saat ini bak sedang dilanda 'banjir deras informasi dan budaya asing'.

"Nah kalau yang namanya banjir itu kan membawa limbah, membawa sampah, jadi yang dibawa ya sampah dan limbah budaya. Dan ironinya selama ini kan banyak yang menganggap budaya asing itu superior, hebat, sementara budaya sendiri jadi inferior, termarjinalkan,” katanya kepada RRI, di Pangkalpinang, Selasa, 2 Juni 2026.

Mau tak mau, suka tidak suka kondisi ini harus siap dihadapi bangsa ini. Cara yang bisa ditempuh 'warga lokal' untuk membendung banjir tersebut adalah dengan memperkuat budaya lokal dan nasional. Menurutnya, arus banjir informasi dan budaya tersebut harus dibendung.

"Jadi sampah budaya akibat banjir derasnya informasi itu harus kita bendung, dengan cara memperkuat budaya kita, kristalisasi nilai-nilai budaya luhur yang terkandung dalam Pancasila itu yang harus kita perkuat,” ujarnya.

Pada era abad ke depan menurutnya akan banyak sekali kompetensi dan kecakapan hidup yang harus ditanamkan kepada generasi penerus bangsa. Kompetensi dan kecakapan hidup itulah cara yang bisa dilakukan agar arus informasi dan budaya asing dapat 'tersaring' dengan baik.

"Ya seperti kecakapan berpikir kritis tidak mudah begitu saja menerima budaya asing, kecakapan memecahkan masalah, kecakapan komunikasi, kecakapan berinovasi, ide-ide dan gagasan baru yang berlandaskan budaya," ucapnya.

Sementara, seorang mahasiswi Universitas Bangka Belitung, Silvia mengaku anak muda seperti dirinya sangat rentan dipengaruhi budaya asing. Menurutnya anak muda membutuhkan bimbingan yang tepat agar arus budaya asing yang ada terfilterisasi dengan baik.

"Kita tahulah kalau budaya asing luar biasa, mudah sekali masuk dan mempengaruhi pikiran anak muda kayak kami ini. Lihat saja musik K-Pop dan kulinernya, banyak anak muda terobsesi budaya Korea, ini bahaya menurut saya, sementara kalau dengan budaya daerah justru mereka menjauhi," ucap Silvia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....