Hari Nelayan Nasional: Laut Rusak, Nasib Nelayan Terpuruk
- 06 Apr 2026 18:47 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID: Sungailiat – Momen Hari Nelayan Nasional yang jatuh pada Senin (6/4/2026) ini terasa getir bagi masyarakat pesisir di Bangka. Lewat obrolan hangat namun kritis dalam siaran Bedincak Bedaek di RRI Pro 4 Sungailiat, warga menumpahkan keluh kesahnya soal kondisi laut yang tak lagi ramah.
Hari Nelayan Nasional sendiri ditetapkan sejak tahun 1960 di era Presiden Soekarno. Sejarahnya bermula dari tradisi upacara adat masyarakat pesisir sebagai bentuk syukur atas hasil laut. Namun kini, di tengah kerusakan lingkungan yang masif, peringatan ini menjadi pengingat keras bagi pemerintah untuk segera membenahi tata ruang laut dan melindungi nasib nelayan kecil.
Febri, salah satu pendengar, bicara blak-blakan soal hancurnya ekosistem laut akibat tambang timah. Ia menilai, profesi nelayan kini seperti di ujung tanduk karena ikan-ikan mulai "terusir" dari habitatnya.
"Kondisi laut kita saat ini parah, rusak akibat tambang timah. Biarpun ada hasil, nelayan masih dihadapi harga jual yang tidak menentu. Apalagi dengan kondisi laut rusak seperti ini, ikan banyak bermigrasi. Ini sangat butuh peran pemerintah dan dukungan doa dari masyarakat," ungkap Febri.
Kerusakan ini bukan isapan jempol. Pernah mencuat data yang menunjukkan kerugian ekologis akibat tambang di Bangka Belitung diperkirakan menembus angka Rp271 triliun hingga Rp300 triliun (Sumber: Kejaksaan Agung/Ahli Lingkungan IPB). Angka fantastis ini mencerminkan hancurnya terumbu karang yang menjadi "rumah" bagi ikan.
Di sisi lain, Cinta yang juga bergabung dalam siaran, mengingatkan kita semua untuk tidak lupa bersyukur dan mendukung para pahlawan protein ini.
"Profesi nelayan harus didukung dan didoakan, karena tanpa mereka masyarakat akan kekurangan ikan. Saya sendiri sangat suka ikan Kerisi karena dagingnya manis, apalagi kalau dimasak Lempah Kuning," tutur Cinta dengan penuh harap.
Sekilas Sejarah
Hari Nelayan Nasional sendiri ditetapkan sejak tahun 1960 di era Presiden Soekarno. Sejarahnya bermula dari tradisi upacara adat masyarakat pesisir sebagai bentuk syukur atas hasil laut. Namun kini, di tengah kerusakan lingkungan yang masif, peringatan ini menjadi pengingat keras bagi pemerintah untuk segera membenahi tata ruang laut dan melindungi nasib nelayan kecil.
Melalui suara di RRI Pro 4, warga berharap Hari Nelayan bukan sekadar seremonial tahunan, tapi jadi titik balik penyelamatan laut Bangka yang kian sekarat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....