Refleksi Supersemar, Tekankan Pentingnya Literasi Sejarah Bangsa

  • 11 Mar 2026 17:12 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Tanjungpandan - Momen bersejarah 11 Maret atau Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) menjadi bahasan utama dalam sesi interaktif bersama pendengar di RRI Belitung, Selasa (11/Maret/2026). Memasuki usia ke-60 tahun sejak peristiwa tahun 1966 tersebut, masyarakat diajak merefleksikan kembali perjalanan transisi kepemimpinan nasional dalam bingkai persatuan bangsa.

Dalam sesi interaksi via telepon, Yaman, seorang warga Tanjungpandan, menyoroti urgensi penyajian sejarah yang transparan bagi generasi muda. Menurutnya, pemahaman terhadap naskah asli Supersemar harus didasari pada fakta objektif agar tidak menimbulkan keraguan di masa depan. "Kita tidak boleh melupakan sejarah, namun yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah memastikan generasi muda mendapatkan versi sejarah yang objektif dan tidak simpang siur terkait naskah asli Supersemar tersebut," ujar Yaman.

Yaman menambahkan bahwa peringatan 11 Maret bukan sekadar rutinitas kalender tahunan, melainkan pengingat akan pentingnya stabilitas negara. Ia menegaskan bahwa setiap keputusan besar yang diambil pemimpin terdahulu harus menjadi pelajaran berharga dalam menjaga kedaulatan rakyat. "Refleksi ini harusnya menjadi pengingat bahwa stabilitas negara adalah segalanya, dan kita harus belajar dari cara pemimpin terdahulu dalam mengambil keputusan sulit demi keselamatan rakyat," tegas Yaman.

Senada dengan hal tersebut, Naini, pendengar setia RRI lainnya, turut memberikan pandangannya mengenai dampak pemahaman sejarah terhadap karakter bangsa. Ia menilai bahwa pemahaman yang dangkal terhadap peristiwa besar seperti Supersemar dapat memicu lunturnya rasa nasionalisme di kalangan milenial dan Gen Z serta Gen Alpha. "Anak cucu kita harus tahu bahwa setiap perubahan besar di negeri ini punya proses panjang yang harus dihargai, bukan sekadar dihafal tanggalnya saja," tutur Naini.

Lebih lanjut, Naini berharap lembaga penyiaran publik seperti RRI juga terus konsisten menjadi wadah edukasi dalam membedah nilai-nilai patriotisme Indonesia. Baginya, ruang diskusi terbuka melalui telepon sangat efektif untuk menyelaraskan persepsi masyarakat mengenai keutuhan NKRI pasca-peristiwa besar di masa lalu. "Saya sangat mengapresiasi ruang bicara seperti di RRI ini, karena lewat diskusi terbuka kita bisa saling berbagi pemahaman tentang bagaimana menjaga keutuhan NKRI. Ini literasi sejarah yang baik untuk kestabilitasan ekkonomi juga politik di daerah maupun Bangsa ini, terlepas dari segala kontroversi teknis yang menyertainya," jelas Naini

Peristiwa 11 Maret sendiri merujuk pada dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tahun 1966 oleh Presiden Soekarno kepada Letjen Soeharto. Perintah ini memberi wewenang kepada Soeharto untuk mengambil tindakan demi memulihkan keamanan dan stabilitas negara pasca-G30S/PKI, yang menjadi titik balik lahirnya era Orde Baru. namun hingga kini, isi asli Supersemar masih menjadi perdebatan karena dokumen aslinya tidak ditemukan.

Rekomendasi Berita