Hari Kesehatan Telinga: Momentum Cegah Gangguan Pendengaran Nasional
- 03 Mar 2026 19:41 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Tanjungpandan – Peringatan Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran Nasional setiap 3 Maret menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan telinga.
Mengacu pada kampanye global yang diinisiasi oleh World Health Organization, peringatan ini mengajak masyarakat lebih peduli terhadap risiko gangguan pendengaran yang kian meningkat, terutama akibat paparan kebisingan dan penggunaan gawai secara berlebihan.
Dalam sesi interaktif RRI Tanjungpandan, Selasa (3/Maret/2026), dua pendengar setia RRI, Ari dan Rendy, warga Tanjungpandan, Belitung, berbagi pengalaman mereka melalui sambungan telepon. Keduanya menyoroti kebiasaan penggunaan earphone dalam durasi lama yang kini menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari, baik untuk bekerja, belajar, maupun hiburan.
Ari mengaku mulai merasakan denging di telinga setelah terlalu sering menggunakan headset dengan volume tinggi. Ia menyadari kebiasaan tersebut kerap dianggap sepele. “Awalnya cuma terasa berdengung sebentar, tapi lama-lama jadi sering. Sekarang saya lebih batasi volume dan waktu pakai,” ujarnya. Menurutnya, edukasi seperti ini penting karena banyak orang baru sadar setelah muncul keluhan.
Sementara itu, Rendy menyoroti kondisi lingkungan kerja dan aktivitas luar ruang di Belitung yang juga berpotensi memicu gangguan pendengaran. Ia menyebut suara mesin, kendaraan, kenalpot brong, hingga kebisingan acara hiburan bisa berdampak jika tidak diantisipasi. “Kita sering anggap biasa suara keras, padahal kalau terus-menerus bisa berpengaruh. Saya sekarang lebih hati-hati,” katanya.
Secara nasional, isu gangguan pendengaran memang menjadi perhatian serius. Data kampanye World Hearing Forum menunjukkan paparan kebisingan yang berlebihan dan tidak terkendali menjadi salah satu faktor utama meningkatnya risiko kehilangan pendengaran, terutama pada kelompok usia produktif. Hal ini sejalan dengan kondisi nyata di masyarakat yang semakin akrab dengan perangkat audio pribadi. Disisi lain kesadaran akan pentingnya pemeriksaan telinga rutin masih relatif rendah. Banyak warga baru memeriksakan diri ketika gangguan sudah cukup mengganggu aktivitas. Padahal, deteksi dini dan perubahan perilaku sederhana seperti menurunkan volume, membatasi durasi penggunaan earphone, serta menggunakan pelindung telinga di lingkungan bising dapat mencegah kerusakan permanen.
"Saya harapkan masyarakat tidak lagi menganggap remeh kesehatan pendengaran. menjaga telinga berarti menjaga kualitas hidup. Di tengah era digital dan tingginya paparan kebisingan, langkah kecil hari ini dapat menentukan kemampuan mendengar di masa depan," tutup Rendy.