Doa Rajab dari "Buju’ Pongkeng" untuk Keselamatan Bangsa

  • 17 Jan 2026 10:49 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep — Setelah Subuh, warga sibuk memasak dan menyiapkan makanan seadanya untuk dibawa. Sekitar pukul 07.00 WIB, langkah-langkah kecil warga Desa Pekandangan Sangra, Kecamatan Bluto, Sumenep, mulai menapaki jalan setapak menuju puncak bukit. Di sanalah Pasarean Syekh Arif Muhammad Al-Maghribi, yang akrab disebut Buju’ Pongkeng, menjadi saksi pertemuan doa dan harap pada Sabtu pagi, 17 Januari 2026.

Momentum peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW sekaligus penghujung bulan Rajab dimaknai warga dengan cara sederhana namun penuh hikmah. Mereka datang tidak dengan tangan kosong, melainkan membawa hasil bumi dari rumah masing-masing. Jagung rebus, pisang goreng, hingga aneka masakan lengkap tersaji di atas daun dan wadah seadanya sebagai simbol syukur atas rezeki yang selama ini mengalir.

Anak-anak duduk berdekatan dengan orang tua mereka sambil menikmati pemandangan pulau-pulau kecil di sebelah selatan Pulau Madura. Tawa kecil sempat terdengar sebelum suasana perlahan berubah khusyuk. Kepala Desa Pekandangan Sangra, H. Sukandar, bersama para tokoh masyarakat memimpin istighosah. Lantunan Surah Yasin, tahlil, dan doa bersama mengalir pelan, menyatu dengan semilir angin bukit.

“Sekarang bertepatan dengan peringatan Isra Mi’raj dan akhir bulan Rajab. Ini saat yang tepat untuk memperbanyak amaliah dan doa bersama,” ujar H. Sukandar usai memimpin doa.

Warga kompak gelar istighosah, (Foto:RR/Rosi)

Bagi warga, istighosah ini bukan sekadar ritual tahunan. Ada harapan yang diselipkan di setiap doa agar desa mereka senantiasa makmur, dijauhkan dari musibah dan bencana, serta kehidupan ekonomi masyarakat terus membaik.

“Membangun dan mendoakan bangsa harus dimulai dari desa. Jika desa aman dan tenteram, maka negara juga akan damai,” tambahnya dengan nada penuh keyakinan.

Hamid, salah seorang warga, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk kebersamaan yang telah mengakar. Sebagian warga menyebutnya rokat desa, tradisi spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Alhamdulillah, tahun ini bisa menutup bulan Rajab dengan istighosah dan doa bersama. Semoga ke depan desa kita dan bangsa ini semakin baik,” tuturnya lirih.

Anak-anak dan ibu-ibu juga kompak hadir (Foto: RRI/Ros)

Di puncak bukit itu, doa-doa sederhana pun dipanjatkan. Dari desa kecil di ujung Madura, harapan untuk keselamatan bangsa kembali disemai, perlahan namun penuh keyakinan.

Rekomendasi Berita