Sergap Gabah Petani Tembus 235 Ton, Hasilkan Rp 1,5 M
- 11 Mar 2026 13:05 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Program penyerapan gabah petani di Kabupaten Sumenep terus menunjukkan perkembangan positif. Dalam dua pekan terakhir, sebanyak 235 ton gabah kering panen (GKP) telah berhasil diserap oleh Bulog dengan harga Rp6.500 per kilogram.
Katimker Penyuluh Pertanian BPPSDMP Kementerian Pertanian RI Wilayah Kerja Kabupaten Sumenep, Dewo Ringgih mengatakan, penyerapan gabah tersebut merupakan bagian dari instruksi Menteri Pertanian dalam rangka memperkuat stok beras nasional.
“Setelah dua minggu kami melakukan serap gabah petani sesuai instruksi Menteri Pertanian untuk mendukung stok beras nasional, saat ini sudah terserap 235 ton gabah kering panen oleh Bulog dengan harga Rp6.500 per kilogram,” ujar Dewo Ringgih, Rabu 11 Maret 2026.
Ia menjelaskan, dari proses penyerapan tersebut, sedikitnya sekitar Rp1,5 miliar dana telah digelontorkan untuk membeli gabah dari petani di Kabupaten Sumenep.
“Sehingga kurang lebih ada Rp1,5 miliar dana yang sudah digelontorkan untuk membeli gabah dari petani. Ini merupakan capaian luar biasa,” katanya.
Menurut Dewo, capaian tersebut juga menunjukkan mulai terjadinya perubahan pola pikir di kalangan petani Sumenep. Selama ini, sebagian besar petani menanam padi hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
“Petani di Sumenep sebelumnya memiliki kebiasaan atau mindset bahwa mereka bercocok tanam padi hanya untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga atau menjaga ketahanan pangan di tingkat rumah tangga,” katanya menjelaskan.
Namun seiring meningkatnya produktivitas dan hasil panen, kini petani mulai melihat peluang untuk menjual gabah sebagai bagian dari aktivitas ekonomi tanpa mengabaikan kebutuhan pangan keluarga.
“Sekarang dengan meningkatnya produktivitas dan produksi, mereka mulai berpikir bagaimana cara menjual hasil panennya dalam bentuk gabah kering panen, tetapi tidak serta merta melupakan ketahanan pangan keluarga,” ucapnya.
Ia menilai perubahan pola pikir tersebut menjadi sinyal positif bagi sektor pertanian di daerah, karena petani tidak hanya berperan sebagai produsen pangan, tetapi juga sebagai pelaku usaha yang berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.
“Jadi pola mindset ini mulai berubah. Petani Sumenep bukan hanya menjadi petani produsen, tetapi sekarang mulai menjadi petani yang berbisnis sehingga mampu berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan nasional,” ujarnya menambahkan.