Tekad KAI Menghubungkan Nusantara

  • 05 Okt 2026 15:16 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah Indonesia berkomitmen memperluas jaringan kereta api dengan membangun jalur Trans Sulawesi yang menghubungkan Makassar, Manado, dan Kendari.
  • Di Kalimantan, rel kereta api akan menghubungkan kota-kota besar provinsi seperti Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin, Palangkaraya, Pontianak, dan Kaltara.
  • Pulau Sumatra akan memiliki jalur kereta api penuh dengan trek ganda yang menghubungkan Lampung hingga Aceh untuk meningkatkan konektivitas regional.

.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

LAJU kereta api Indonesia akan semakin cepat dan luas menjangkau bentang daratan Nusantara. Jalur baru di Sulawesi Selatan yang telah dibahas, akan berlanjut menjadi Trans Sulawesi. Dari Makassar rel akan membentang ke utara hingga Manado dan ke tenggara hingga Kendari.

Di Kalimantan rel KA akan menghubungkan kota-kota besar provinsi Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin, Palangkaraya, Pontianak, hingga Kaltara. Begitu pun Pulau Sumatra akan terhubung penuh Lampung ke Aceh sekaligus trek ganda.

Jika seluruh jaringan rel lama diaktifkan kembali, dan jalur sepanjang 14.000 kilometer dibangun, anggarannya diperkirakan mencapai Rp1.200 triliun hingga tahun 2045. Itu artinya setiap tahun perlu dicadangkan anggaran Rp60-65 triliun selama 20 tahun untuk mencapai target jaringan rel nasional. Untuk proyek Sumatra saja estimasi kebutuhan dana hampir USD20-25 miliar atau sekitar Rp350 triliun.

Saat ini alokasi APBN 2026 untuk KA hanya sekitar Rp5 triliun, kalah jauh dibandingkan alokasi jalan nasional sebesar Rp46 triliun. Tahun depan 2027 anggaran Kemenhub naik menjadi Rp32,93 triliun dengan prioritas pengembangan jaringan kereta seperti jalur menuju Sukabumi serta elektrifikasi hingga Cikampek dan Tanah Abang.

Pengembangan jaringan kereta api Nusantara ditekatkan menjadi prioritas pembangunan kewilayahan. Pembiayaannya akan didorong melalui berbagai skema, antara lain melalui APBN, APBD, kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), serta investasi swasta dan luar negeri.

KAI Kelas Dunia

PT Kereta Api Indonesia (Persero) sendiri menargetkan jaringan rel kereta api aktif hingga 60.000 kilometer pada 2045. Ini menjadi bagian dari roadmap transformasi KAI untuk menjadi operator kereta api berstandar dunia (world class operator). Juni lalu dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Direktur Utama PT KAI (Persero) Bobby Rasyidin menyatakan telah menyusun peta jalan pengembangan hingga 2045.

Saat ini panjang rel aktif di Indonesia baru sekitar 6.700 km. Hingga 2030, KAI menargetkan panjang rel meningkat lebih dari 7.000 km, seiring dengan pertumbuhan pendapatan perusahaan. Sekarang

revenue perusahaan Rp35,7 triliun, diharapkan tahun 2030 saat panjang rel lebih dari 7.000 km revenue KAI sekitar Rp66 triliun.

Jangka panjangnya kebutuhan jaringan rel nasional diperkirakan mencapai 37.000 km hingga 60.000 km pada 2045. Caranya mengaktifkan kembali rel-rel yang pernah ada di Jawa. Pada zaman Belanda rel di Jawa sudah 10.000 km kini tinggal 7.000 an yang aktif.

Selain memperluas jaringan rel, KAI juga berupaya mengubah struktur pendapatan perusahaan. Saat ini, sekitar 96 persen pendapatan KAI masih berasal dari angkutan penumpang (farebox) dan logistik, sementara kontribusi dari pengembangan kawasan berbasis transit atau Transit Oriented Development (TOD) baru sekitar 4 persen. Contoh ideal di Jepang, JNR (Japan National Railways) pendapatan dari farebox dan logistik 60 persen, dan 40 persen dari TOD. KAI akan mulai memperkuat bisnis TOD sebagai sumber pertumbuhan baru. Misalnya tengah dikembangkan kawasan hunian di Manggarai, Jakarta Selatan yang diharapkan tahun 2027 tumbuh sekitar 5.000 unit perumahan baru. Dari kawasan ini diharapkan potensi pendapatan bertambah.

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menetapkan pembangunan rel akan bertambah 12.100 km hingga 2030. Jaringan di Jawa akan dikembangkan hingga Bali sepanjang 6.800 km, Sumatra 2.900 km, Kalimantan 1.400 km, serta Sulawesi dan Papua masing-masing membutuhkan 500 km. Sedangkan kebutuhan kereta penumpang hingga 2030 tercatat 2.805 lokomotif, 27.960 unit gerbong. Sementara untuk kereta logistik dibutuhkan 1.995 lokomotif baru dan 39.655 gerbong. KAI dan industri PT Inka di Madiun menjadi bagian ekosistem Danantara dalam perluasan layanan serta pengembangan teknologi transportasi nasional.

Unjuk Kerja Mengesankan

Pencapaian KAI pun cukup mengesankan dalam hal transformasi layanan dan teknologi. Misalnya diterapkan ‘Face Recognition Boarding Gate’ yaitu teknologi pemindaian wajah untuk boarding dengan sensor wajah. Layanan penumpang juga berkembang ke perkotaan (commuter), kereta bandara, kereta wisata, hingga integrasi dengan moda transportasi cepat modern. Pengiriman barang melalui kereta api tumbuh pesat seiring tingginya kepercayaan publik terhadap efisiensi logistik berbasis rel.

Stasiun kini bertransformasi menjadi titik temu mobilitas yang terintegrasi dengan transportasi publik lain seperti layanan pengumpan (feeders), ojek online, dan LRT/MRT. KAI juga menghadirkan kawasan hunian terpadu di sekitar stasiun besar (seperti kawasan Manggarai) untuk memudahkan masyarakat mengakses transportasi publik ini.

Dahulu KA lebih banyak digunakan untuk bepergian ke kota lain atau pulang ke kampung halaman, kini telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, mulai dari bekerja, bersekolah, berdagang, hingga menghabiskan waktu bersama keluarga.

Sepanjang Januari–Agustus 2026 jumlah pelanggan mencapai 351.602.397, atau meningkat 7,09 persen dibandingkan 328.311.868 pelanggan pada periode yang sama tahun 2025. Kontribusi terbesar berasal dari KAI Commuter dengan 277.272.682 pelanggan, tumbuh 6,32 persen. Sementara layanan KA jarak jauh dan lokal mencatat 40.379.062 penumpang, meningkat 8,69 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Mobilitas perkotaan melalui LRT Jabodebek yang melayani 21.809.797 pelanggan, naik 19,05 persen

Tingginya penggunaan komuter dan LRT menunjukkan peran transportasi massal dalam mendukung aktivitas masyarakat di kawasan perkotaan. Ini terlihat pada Bogor Line yang mencatat 105.704.913 pelanggan sepanjang Januari–Agustus 2026, dengan rata-rata sekitar 435 ribu penumpang setiap hari. Kereta cepat Whoosh melayani 4.078.168 pelanggan sepanjang Januari–Agustus 2026, meningkat 0,68 persen. Tahun lalu penumpangnya 4.050.791 orang.

KAI Bandara mencatat 4.647.947 pelanggan, naik 0,19 persen. Di Sumatra Selatan, LRT Sumsel melayani 2.965.997 pelanggan, sedangkan KA Makassar–Parepare melayani 231.764 pelanggan, tumbuh 13,13 persen. Untuk perjalanan wisata, layanan yang dikelola KAI Wisata mencatat 216.980 pelanggan, meningkat 49,09 persen dibandingkan 145.537 pelanggan sepanjang Januari–Agustus 2025.

Layanan spesifik melalui Kereta Ekonomi Kerakyatan pun telah melayani 182.208 pelanggan sejak mulai beroperasi 2026 hingga 9 September 2026. Jumlah tersebut terdiri atas 181.900 pelanggan K3 Kerakyatan dan 308 pelanggan Kereta Petani dan Pedagang jarak jauh pada relasi Garut–Pasar Senen dan Pasar Senen–Garut. Di Banten, Kereta Petani dan Pedagang pada lintas Merak–Rangkasbitung telah melayani 43.780 pelanggan sejak beroperasi pada 1 Desember 2025 hingga 14 September 2026. Tarifnya hanya Rp3.000 sekali perjalanan.

Penting diingat KA jelas lebih ramah lingkungan. Transportasi darat yang didominasi kendaraan pribadi, menyumbang sekitar 89% emisi karbon, sedangkan kereta api kurang dari 1%. Tugas KA berikutnya adalah memindahkan jutaan pemakai kendaraan pribadi di kota-kota besar kita, ke angkutan publik yang efisien.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....