Genre Pop Tak Terbantahkan

  • 10 Sep 2026 07:11 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Taylor Swift mencatat rekor pendapatan konser terbesar di dunia dengan The Eras Tour meraup USD1,04 miliar (Rp17,04 triliun) dari November 2023 hingga November 2024.
  • The Eras Tour tersusun dari 80 pertunjukan dengan total penjualan tiket mencapai 5,21 juta unit di seluruh dunia.
  • Coldplay menempati urutan kedua dengan pendapatan USD421,71 juta (Rp6,88 triliun) dari tur Music of the Spheres dengan 54 pertunjukan dan 3,29 juta tiket terjual.

.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

MESKI data dalam negeri menyebut pendengar musik dangdut lebih banyak dari pop, namun faktanya musik pop tetap cetar-bersinar. Genre pop tak tertandingi di level nasional dan dunia. Di level global, penyanyi Taylor Swift memuncaki pendapatan. Sumber databoks mengutip laporan Pollstar, menyebut tur konser Taylor Swift bertajuk The Eras Tour menjadi konser dengan pendapatan kotor terbesar di dunia periode November 2023-November 2024.

Taylor Swift berhasil mengantongi USD1,04 miliar atau sekitar Rp17,04 triliun diraih melalui penjualan 5,21 juta dari 80 pertunjukan di seluruh dunia. Peringkat kedua diisi oleh Coldplay, yang mendulang USD421,71 juta (Rp6,88 triliun) melalui tur konsernya yang bertajuk Music of the Speheres. Total tiket konser yang terjual mencapai 3,29 juta dari 54 pertunjukan.

Nilai pasar pop sebesar ini jelas tak tertandingi oleh genre apapun seperti jazz, rock, reggae, klasik, apalagi dangdut.

Musik pop menguasai sekitar 27,65 persen dari total pangsa pasar industri musik global. Para pendengar global didominasi platform online atau streaming yang menyumbang sebagian besar (sekitar 85,82 persen) dari total pendapatan industri musik saat ini. Festival bertema musik pop saja menyumbang sekitar 28 persen dari pasar global karena daya tariknya yang menjangkau beragam kelompok usia.

Dikutip dari Spotify Wrapped pendengar berusia 18 hingga 34 tahun mendominasi aktivitas streaming, dengan preferensi genre yang beragam mulai dari pop, hip-hop, EDM, hingga dangdut dan musik indie lokal. Fenomena viralnya lagu di media sosial seperti TikTok dan Instagram Reels juga berperan besar dalam mendongkrak angka streaming, saat sebuah lagu bisa meledak popularitasnya dalam hitungan hari berkat algoritma dan user-generated content. Laporan International Federation of the Phonographic Industry (IFPI) pun menunjukkan, pasar musik digital Asia Tenggara tumbuh pesat dengan Indonesia sebagai salah satu penggerak utamanya.

Nomor 8 Dunia

Di Indonesia sendiri, survei menunjukkan musik pop sangat mendominasi dengan tingkat kesukaan mencapai 71 persen. Pendapatan dari pasar musik digital di Indonesia diproyeksikan mencapai USD231,64 juta (sekitar Rp3,7 triliun) pada 2025 menurut data Kementerian Kebudayaan. Indonesia juga menjadi pasar musik streaming terbesar kelima hingga kedelapan di dunia dengan catatan lebih dari 32 miliar kali pemutaran (streaming) sepanjang tahun. Musik pop lokal (Indo Pop) sangat mendominasi tangga lagu domestik, menguasai sekitar 80 persen daftar putar populer di berbagai platform streaming.

Berdasar data Luminate, perusahaan analitik musik, Indonesia kini menempati posisi kedelapan sebagai pasar musik terbesar di dunia dengan total 178,9 miliar streaming sepanjang 2025. Angka ini menempatkan kita dalam jajaran negara-negara dengan konsumsi musik digital tertinggi. Sekaligus menunjukkan pergeseran perilaku mendengarkan musik yang kini didominasi platform digital.

Capaian ini tidak lepas dari penetrasi internet dan adopsi platform streaming musik yang terus meningkat. Laporan ‘We Are Social dan Meltwater’ di awal 2024, pengguna internet di sini mencapai 185,3 juta jiwa atau sekitar 66,5 persen dari total populasi.

Akses layanan terbanyak adalah streaming musik seperti Spotify, YouTube Music, Apple Music, dan platform lokal seperti Joox serta Langit Musik. Kemudahan akses, harga berlangganan yang terjangkau, hingga kehadiran paket bundling dari operator telekomunikasi turut mendorong lonjakan angka streaming.

Secara demografi, generasi muda menjadi kontributor utama dalam konsumsi musik digital. Pendengar berusia 18 hingga 34 tahun mendominasi aktivitas streaming, dengan preferensi genre yang beragam mulai dari pop, hip-hop, EDM, hingga dangdut dan musik indie lokal.

Namun, angka streaming yang tinggi tidak otomatis berbanding lurus dengan kesejahteraan musisi. Sistem royalti dari platform streaming seringkali masih menjadi perdebatan, mengingat pembagian pendapatan per stream yang relatif kecil. Musisi independen kerap mengeluhkan minimnya penghasilan dari streaming, sehingga mereka harus mengandalkan konser, merchandise, dan kolaborasi brand untuk menopang karier. Hal ini menjadi catatan penting bagi ekosistem musik Indonesia agar pertumbuhan industri dapat dinikmati secara merata oleh seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem musik nasional.

Pengguna Gratis Terbanyak

Indonesia jadi salah satu pasar musik terbesar dunia, spesifik lagi di ranah streaming. Data terbaru Luminate menunjukkan, fans Indonesia streaming lagu dengan total 32 miliar kali sepanjang tahun 2025. Data laporan A Global Force In Music, yang diakses detikpop, memperlihatkan pasar musik Asia berkembang dan berkontribusi buat panggung musik dunia. Indonesia ada di posisi 5 pendengar streaming musik on-demand yang menggunakan layanan premium. Unggul dari Thailand, Taiwan, Malaysia, Singapura, hingga Hong Kong yang berturut-turut ada di posisi 6-10.

Streaming musik on-demand maksudnya secara aktif memilih dan memutar track spesifik di waktu yang spesifik juga. On-demand ada yang gratis, ada yang berbayar atau premium. Platform-nya bisa Spotify, YouTube Music, atau Apple Music.

Jepang berada di urutan pertama daftar ini dengan total streaming on-demand premium mencapai 151 miliar. Posisi berikutnya India (78 miliar), Korea Selatan (67 miliar) dan Filipina (46 miliar). Data streaming dengan iklan (gratis, ad-supported) sepanjang tahun 2025 menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah pengguna platform musik gratis terbanyak kedua setelah India. Total pengguna platform gratis (video dan audio) mencapai 82 persen. Berarti baru 18 persen saja yang mau membayar biaya berlangganan.

Gratis ataupun berbayar, genre pop mutakhir kita sedang ditandai dengan banyaknya pendatang baru yang mencapai viral. Lagu ‘Sesi Potret’ yang dibawakan Enau dan Arie Lesmana melejit di mana-mana, hingga dihapal anak-anak sekolah. Arie yang pernah menciptakan ‘Mangu’ kembali memilih pendekatan melankolik dengan tekukan nada sulit. Raim Laode yang menggubah ‘Komang’ juga kembali melejitkan ‘Dunia yang Nanti’. Grup The Hijau melambungkan ‘Tulus’ dan Nadhif Basalamah membawakan ‘Kota Ini Tak Sama Tanpamu’. Tri Suaka mengandalkan ‘Kita dan Kenangan’.

Deretan lagu-lagu viral ini menggantikan popularitas para pendahulunya seperti Ghea Indrawari, Mahalini, Awdella, Agnes Monica. Meski daur hidupnya cepat terlewat, genre pop tak pernah kehabisan daya pikat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....