Beranikah Jadi Tuan Rumah Piala Dunia?
- 03 Jul 2026 18:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- FIFA mensyaratkan minimal 4 stadion dengan kapasitas 60.000-80.000 penonton, 150 lokasi latihan, hotel bintang 5, jaminan keamanan, dan infrastruktur untuk 104 pertandingan Piala Dunia selama 39 hari.
- Piala Dunia 2026 diproyeksikan menghasilkan dampak ekonomi sebesar USD80 miliar, penjualan tiket 6,3 juta, dan 1,5 juta lapangan kerja, tetapi volume taruhan yang diperkirakan mencapai Rp60 triliun dapat menguras likuiditas domestik.
- Hak siar gratis TVRI untuk seluruh 104 pertandingan di daerah 3T menghadirkan peluang untuk pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat melalui acara nonton bareng, festival UMKM, dan promosi pariwisata lokal.
.
Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
BERBAGAI negara bermimpi besar menjadi tuan rumah Piala Dunia sepak bola. Masalahnya, berani atau tidak menanggung segala kerepotannya. Sebab, perhelatan ini meski hanya menggelar satu cabang olahraga, levelnya setara Olimpiade.
Dunia pun masih akan bertanya, siapa Indonesia? Setinggi apa level sepak bolanya? Keistimewaannya, tim nasional Indonesia akan mendapat privilese bermain pada babak penyisihan grup sebagai tuan rumah.
Semua itu tetap ditentukan oleh "malaikat sepak bola" yang memiliki kewenangan besar, yakni FIFA sebagai federasi sepak bola dunia. Seluruh persyaratan kelayakan calon tuan rumah harus melalui proses penilaian yang ketat. Minimal tersedia empat stadion berstandar internasional dengan kapasitas 60 ribu-80 ribu penonton, sekitar 150 lokasi latihan, infrastruktur akomodasi, fasilitas medis, ruang media, teknologi penyiaran, hingga sistem pencahayaan untuk pertandingan malam hari.
Jika sebelumnya FIFA mewajibkan calon tuan rumah memiliki 14 stadion siap pakai, aturan terbaru memangkas persyaratan menjadi minimal empat stadion. Negara kandidat juga harus memiliki hotel berbintang lima yang memadai bagi tim, ofisial, dan tamu, didukung transportasi publik serta bandara yang mampu menampung lonjakan mobilitas dalam skala besar.
Selain itu, pemerintah wajib memberikan jaminan hukum dan komitmen penuh terhadap penyelenggaraan, termasuk kemudahan keimigrasian dan berbagai perizinan. Jauh hari sebelumnya, negara kandidat harus mengajukan proposal penawaran (bidding) yang akan dinilai oleh FIFA melalui Satuan Tugas Evaluasi Tawaran berdasarkan aspek teknis dan risiko. Penentuan tuan rumah dilakukan melalui pemungutan suara dalam Kongres FIFA setelah kandidat dinyatakan lolos penilaian kelayakan teknis dan kepatuhan.
| Baca juga: Senjakala Gerendel Italia |
FIFA juga mensyaratkan sistem keamanan yang menyeluruh. Pemerintah tuan rumah harus menjamin stabilitas politik dan keamanan selama turnamen berlangsung, termasuk pengamanan stadion, ruang publik, hingga fasilitas penginapan. Komitmen pemerintah, baik berupa dukungan pendanaan, kebijakan imigrasi khusus, maupun regulasi pendukung, menjadi faktor yang sangat menentukan.
Proposal bidding juga harus memuat rencana pendanaan yang jelas, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga operasional turnamen. FIFA meminta jaminan ekonomi, termasuk kepastian sponsor, pendapatan tiket, dan kesiapan menanggung risiko finansial. Kini, FIFA juga memasukkan aspek legacy sebagai salah satu indikator utama. Negara kandidat harus menjelaskan bagaimana stadion, infrastruktur, dan investasi yang dibangun dapat terus memberikan manfaat setelah turnamen berakhir.
Tragedi Qatar
Amerika Serikat sudah dua kali menjadi tuan rumah Piala Dunia, meski pada masa lalu kualitas sepak bolanya belum diperhitungkan. Kini, bersama Meksiko dan Kanada, Amerika Serikat kembali menjadi tuan rumah bersama. Level tim nasional Amerika Serikat kini sudah setara Kanada, meski masih berada di bawah Meksiko.
Mengapa harus digelar di tiga negara? Bisa jadi karena pertimbangan efisiensi biaya, meski Amerika Serikat dan Kanada termasuk negara kaya.
Pada 2022, Qatar yang berukuran kecil mampu menjadi tuan rumah sendirian berkat kekuatan finansial dari industri migasnya.
Didukung kelimpahan dana, Qatar juga rutin menggelar berbagai ajang olahraga bergengsi dunia, mulai dari pertandingan elite sepak bola, turnamen penutup musim bulu tangkis, hingga turnamen tenis internasional.
Tahun 2026 ini Qatar kembali lolos ke Piala Dunia, meski proses kelolosannya sempat menuai kritik dari sejumlah pihak.
| Baca juga: Trio Perkasa: Senegal, Norwegia, Argentina |
Namun, sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, Qatar gagal memenuhi ekspektasi. Bermain di Grup A, mereka tidak pernah menang dan menjadi tuan rumah pertama yang kalah dalam laga pembuka. Qatar kalah 0-2 dari Ekuador, takluk 1-3 dari Senegal, lalu menyerah 0-2 dari Belanda. Sebelumnya, mereka juga pernah dibantai Kanada 0-6 dalam laga uji coba.
Di sisi lain, penyelenggaraan Piala Dunia 2026 juga menghadapi tantangan. Keterlambatan penerbitan visa ke Amerika Serikat membuat banyak wisatawan internasional terancam gagal datang tepat waktu.
Situasi tersebut berpotensi memengaruhi tingkat kunjungan ke kota-kota penyelenggara, seperti New York/New Jersey (tuan rumah final), Los Angeles, Dallas, San Francisco Bay Area, Miami, Atlanta, Seattle, Houston, Philadelphia, Kansas City, hingga Boston.
Tim nasional Iran juga mengaku dirugikan karena gagal menggunakan Tucson, Arizona, sebagai pusat latihan. Mereka akhirnya memilih bermarkas di Tijuana, Meksiko, sehingga harus bolak-balik menuju SoFi Stadium di Los Angeles saat bertanding.
Di New York, tingkat pemesanan hotel untuk laga final baru mencapai sekitar 65 persen dari target. Sementara di Seattle, tingkat hunian hotel sekitar 80 persen lebih rendah dibandingkan musim panas pada umumnya. Kondisi serupa juga terjadi di Vancouver, Kanada.
TVRI dan Taruhan
Penyelenggaraan Piala Dunia diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, di sisi lain, aktivitas taruhan dan judi sepak bola juga diperkirakan meningkat sehingga berpotensi menyebabkan kebocoran likuiditas dalam negeri.
Piala Dunia 2026 berlangsung selama 39 hari. Turnamen ini diproyeksikan menjual sekitar 6,3 juta tiket, menciptakan 1,5 juta lapangan kerja, dan menghasilkan dampak ekonomi hingga US$80 miliar.
| Baca juga: Siapa Bisa Patahkan ‘Samurai Biru’ |
Di sisi lain, perputaran uang dari taruhan sepak bola diperkirakan mencapai Rp60 triliun, sementara transaksi judi online diproyeksikan melampaui Rp280 triliun. Jika dibandingkan dengan pasar modal, nilai tersebut setara sekitar 40-70 persen dari total net sell investor asing di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sehingga berpotensi mengurangi dana yang seharusnya mengalir ke sektor produktif.
Lalu, siapa yang paling diuntungkan?
Meski hanya berlangsung dalam jangka pendek, Piala Dunia mampu meningkatkan pendapatan perusahaan penyedia layanan broadband dan platform OTT berkat lonjakan trafik data serta aktivitas streaming. Sektor perhotelan, restoran, transportasi, pariwisata, hingga perbankan juga diperkirakan menikmati peningkatan pendapatan.
Jaringan televisi yang memiliki hak siar pun berpotensi memperoleh keuntungan besar melalui iklan. Bagaimana dengan TVRI yang memegang hak siar nasional? Momentum ini semestinya dimanfaatkan sebagai pengungkit ekonomi masyarakat, bukan sekadar menayangkan pertandingan.
TVRI akan menyiarkan seluruh 104 pertandingan Piala Dunia 2026 secara gratis hingga menjangkau wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Jangkauan tersebut dapat mendorong tumbuhnya berbagai aktivitas ekonomi berbasis komunitas selama turnamen berlangsung.
Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini menilai Piala Dunia dapat menjadi instrumen penggerak ekonomi daerah apabila dikelola secara kreatif melalui kegiatan nonton bareng (nobar), festival UMKM, industri kuliner, ekonomi kreatif, hingga promosi destinasi wisata lokal.
Jangan sampai hak siar sudah dimiliki negara, tetapi manfaat ekonomi yang lebih luas tidak benar-benar dirasakan masyarakat.
Sejujurnya, Indonesia masih belum layak menjadi tuan rumah Piala Dunia, terlebih jika harus membiayainya sendiri. Jepang dan Korea Selatan pun pernah berbagi penyelenggaraan.
Kualitas tim nasional Indonesia juga masih menghadapi banyak tantangan agar tidak mengalami nasib memilukan seperti Qatar.
Namun, sebesar apa pun tantangannya, tekad nasional yang kuat dapat menjadi modal untuk mewujudkan mimpi menjadi tuan rumah Piala Dunia pada masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....