Tembus Dominasi Boeing-Airbus
- 29 Jun 2026 22:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- COMAC punya ambisi besar menantang hegemoni Boeing dan Airbus.
- COMAC muncul sebagai pilihan menarik karena telah mengirim lebih 200 jet C909 dan C919.
- Jika COMAC tak bisa memenuhi kebutuhan besar pesawat, Boeing dan Airbus tetap mengendalikan langit Asia-Pasifik.
.
Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
LUPAKAN sejenak nama-nama besar ini: Boeing, Airbus, ATR, Bombardier, De Havilland, Cessna, Tupolev. Palingkan sejenak perhatian pada bandara kota Shanghai Pudong di daratan Tiongkok. Di tempat ini sedang diwujudkan mimpi besar Tiongkok merebut langit Asia Tenggara dengan pesawat andalannya, COMAC (Commercial Aircraft Corporation of China Ltd).
Raksasa industri pesawat terbang Tiongkok ini baru berdiri 11 Mei 2008, berstatus BUMN pemerintah Beijing. Masih sangat muda jika bandingkan dengan IPTN yang sudah lahir sejak 26 April 1976. Status IPTN (Industri Pesawat Terbang Nurtanio) yang semula proyek strategis gagasan Soeharto dan BJ Habibie, alih-alih berstatus BUMN malah terdepak dari PSN (Proyek Strategis Nasional).
COMAC punya ambisi besar. Ia menantang hegemoni Boeing dan Airbus dalam merebut pasar pesawat regional berkapasitas 60-90 penumpang. Bermodal dana pemerintah yang berlimpah, akselerasi teknologinya mengagumkan. Ia tak hanya merancang pesawatnya, tetapi sekaligus membangun mesin sendiri. Suatu hal yang nyaris mustahil bersaing dengan dominasi trio mesin dunia di genggaman Rolls-Royce, Pratt & Whitney, CFM.
Hanya dalam rentang waktu kurang 18 tahun saja, COMAC sudah menghasilkan pesawat jet regional yang sebelumnya dikenal dengan nama ARJ21. Kapasitas kursinya 70 hingga 95 penumpang, sanggup terbang antara 2.225 km hingga 3.700 km. Selain melayani rute domestik Tiongkok, pesawat ini ternyata sudah disewa dan dioperasikan oleh maskapai internasional seperti TransNusa (Indonesia) dan VietJet (Vietnam) untuk rute regional.
Pesawat terbarunya yang paling menonjol di sektor komersial adalah COMAC C919 (pesawat lorong tunggal) dan COMAC C909 (jet regional, sebelumnya disebut ARJ21). Tidak main-main, C919 jet komersial berbadan sempit (narrow-body) ini dirancang khusus sebagai pesaing langsung Boeing 737 Max dan Airbus A320 Neo.
Kapasitasnya 164 hingga 192 kursi. Jarak tempuh mencapai 5.555 km, dan telah beroperasi secara komersial di maskapai domestik Tiongkok (China Eastern Airlines) dan terus memperluas ekspansinya di kawasan Asia. Lebih jauh lagi, pabrik Shanghai sedang mempercepat pengembangan pesawat berbadan lebar jarak jauh C929, menggeser Airbus A350 atau Boeing 787 Dreamliner.
Bikin Jet Siluman
Industri dirgantara termuda dan terbaru ini sekaligus juga membangun generasi militernya. Lihatlah Chengdu J-35A, sebuah jet tempur siluman generasi kelima terbaru yang sanggup beroperasi di darat maupun lepas landas dari kapal induk. Mesin perang multiguna ini digadang-gadang sebagai tandingan jet F-35 Amerika Serikat. Ia dilengkapi radar AESA (Active Electronically Scanned Array) dan sistem sensor terintegrasi mutakhir.
Catatan Indo Aviation Plus, kehadiran pesawat tempur siluman generasi kelima Shenyang J-35 mulai memikat dunia. Siluman langit ini berpotensi mengubah keseimbangan teknologi pertahanan global, sekaligus menantang dominasi pesawat tempur Barat seperti F-35 Lightning II. Ia dikembangkan Shenyang Aircraft Corporation dan merupakan pengembangan dari proyek FC-31 yang telah diperkenalkan sejak beberapa tahun lalu.
J-35 dirancang menggunakan teknologi stealth (siluman) yang memungkinkan lenyap di layar radar lawan. Selain itu, jet tempur ini juga dilengkapi radar AESA, sistem sensor terintegrasi, kemampuan tempur jarak jauh, serta dukungan sistem peperangan berbasis data dan kecerdasan buatan. Kemampuan ini membuat J-35 menjadi pesaing serius bagi pesawat generasi kelima Amerika Serikat.
Toh, sejumlah pakar menilai kemampuan stealth dan integrasi sistem tempur J-35 masih belum sepenuhnya menyamai teknologi militer Barat yang telah lebih dulu matang di medan operasi.
Beberapa negara berkembang berpotensi menjadi calon pengguna karena biaya produksi dan operasional J-35 lebih murah dibanding pesawat tempur Barat. Pakistan salah satu negara yang berminat.
Banyak negara yang selama ini bergantung pada sistem pertahanan Barat, kini punya pilihan baru dari Beijing. Hal ini bisa mengubah lanskap rantai pasok industri militer dunia dan memperketat persaingan teknologi pertahanan internasional. Kemajuan teknologi militer China juga memunculkan kekhawatiran akan meningkatnya perlombaan senjata global, terutama di kawasan Indo-Pasifik yang saat ini menjadi pusat persaingan kekuatan besar dunia.
Raksasa Ketiga
Pada waktunya, COMAC akan menjadi pesaing global, 10 tahun atau 15 tahun lagi kita akan membicarakan Boeing, Airbus, dan COMAC, kata Willie Walsh, direktur jenderal Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) kepada BBC. Pada podcast bersama YouTuber aviasi Tamara Delf, Ilham Habibie pun meyakini kekuatan ketiga dirgantara akan ditempati Tiongkok.
Selama ini maskapai penerbangan di kawasan Asia sering tertekan akibat keterlambatan pengiriman dari Boeing dan Airbus, kekurangan mesin dan hambatan pasokan suku cadang. Ini memengaruhi pertumbuhan di kawasan ini. Data IATA menunjukkan maskapai penerbangan global menunggu lebih lama beroleh pesawat baru, sekitar tujuh tahun.
Akibatnya, usia rata-rata pesawat dan biaya operasional meningkat lantaran pesawat yang lebih tua kurang efisien. Padahal Asia Pasifik dapat mengalami pertumbuhan dua digit pada tahun 2026 jika pesawat baru cepat tersedia.
COMAC muncul sebagai pilihan menarik karena telah mengirim lebih 200 jet C909 dan C919. Sebagian besar dioperasikan maskapai penerbangan di Laos, Vietnam, Brunei, dan Kamboja. Di Indonesia baru maskapai Transnusa yang secara regular mengoperasikan ARJ21-700 buatan COMAC, untuk rute domestik dan internasional. Sebagai pendatang baru perusahaan milik negara, COMAC mendapat dukungan kuat Beijing menawarkan harga pesawat lebih rendah cocok bagi maskapai LCC (Low Cost Carrier).
Di Asia Pasifik, COMAC punya pesaing di luar Boeing dan Airbus. Embraer dari Brasil, misalnya dipesan maskapai Singapura Scoot, Virgin Australia, dan All Nippon Airlines (ANA) Jepang. Tantangan terberatnya, jika COMAC tak bisa memenuhi kebutuhan besar pesawat dalam jadwal yang dijanjikannya, maka Boeing dan Airbus tetap mengendalikan langit Asia-Pasifik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....