Ke Mana Perginya Hi-Tech Kita?

  • 22 Jun 2026 19:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Satu pertanyaan besar yang menunggu jawab hari ini; sampai di mana laju capaian hi-tech kita?
  • Program nasional "Tol Laut Nusantara", misalnya, masih mempekerjakan kapal-kapal bekas eks impor.
  • Pesan BRIN, riset harus dibangun berbasis masalah nyata masyarakat dan industri untuk menciptakan nilai tambah.

.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

AGUSTUS nanti kita merdeka 81 tahun. Sejauh itu perjalanan Republik, terdapat satu pertanyaan besar yang menunggu jawab hari ini; sampai di mana laju capaian hi-tech kita? Sudah ratusan seminar membahas ini. Tumpukan makalah, kesimpulan, dan rekomendasi mungkin sudah setinggi plafon ruang diskusi. Tetapi mana hasil nyata yang sudah benar-benar bisa dinikmati masyarakat?

Lebih khusus tentang teknologi transportasi, kita mandeg sebatas pemakai dan konsumen loyal. Mungkin industri kereta api dan persenjataan, sebagai peninggalan cetak biru Repelita era Soeharto, berhasil tumbuh. Sedangkan industri kelautan dan perkapalan, apalagi dirgantara dan aviasi, terjerembab ke jurang ilusi.

Program nasional "Tol Laut Nusantara", misalnya, masih mempekerjakan kapal-kapal bekas eks impor. Industri kapal domestik, meski ditunjang fasilitas dan riset akademik ITS, lama termehek di meja diskusi para insinyur. Padahal kita sudah membuat sendiri kapal-kapal versi mini Kambuna eks galangan Pappenburg, Jerman.

Insinyur muda yang bekerja di Leursen, Jerman, juga pernah berhasil membuat kapal cepat hydrofoil yang dioperasikan ASDP. Galangan swasta di luar BUMN juga mencoba berkarya membuat kapalnya sendiri. Namun kiprah mereka membentur minimnya fasilitas negara, seperti ruwetnya regulasi, bunga bank tidak kompetitif, garansi pasar lemah, berbagai infrastruktur pendukung belum lengkap, dan dukungan politik anggaran.

Riset Kalah Cepat

Hambatan lain adalah studi dan riset kampus teknologi hampir selalu kalah cepat dari perkembangan industri di ruang praksis. Banyak terobosan justru dihasilkan warga biasa yang bahkan tidak mengenyam pendidikan khusus. Kehadiran masif mobil baterai dan kereta Whoosh, bisa dijadikan contoh betapa departemen Litbang kampus dan swasta, butuh akselerasi lebih bergegas.

Industri kereta api kita di Madiun dan Banyuwangi patut dipuji. Tak hanya berlimpah memenuhi kebutuhan domestiknya, melainkan juga ekspor. Namun mengapa kita lambat sekali membangun jejaring rel tambahan di Sumatra dan rel baru di Kalimantan, Sulawesi. PT KAI bisa dinobatkan sebagai BUMN yang paling sehat bermanfaat.

Industri swasta non-BUMN yang tumbuh baik adalah karoseri berikut elemen pendukungnya, seperti pembuatan kursi, kaca, ban, aki, kecuali mesin, transmisi, dan sasis (chassis). Kualitas karoseri kita setara dengan produk Jepang, Eropa, Amerika. Juga tembus pasar ekspor. Industri karoseri ini didominasi pemain besar.

Malang masyhur sebagai ‘silicon valley karoseri’ atau rajanya Asia Tenggara, karena 70% industri ini berpusat di Malang, di sini terdapat Adiputro, Laksana, Tentrem, Morodadi Prima, Restu Ibu Pusaka. Dari Kediri ada Gunung Mas, dari Magelang New Armada, dan Rahayu Sentosa dari Purwakarta, Jawa Barat. Satu lagi Nusantara Gemilang, kerja sama antara PO Nusantara dan Gemilang Malaysia, yang khusus membuat bus-bus mewah PO (Perusahaan Otobus) Nusantara.

Ekosistem bus antarprovinsi (AKAP) yang ditunjang produktivitas karoseri dan banyaknya jalan tol Jawa dan Sumatra, tumbuh pesat hanya dengan sedikit saja sentuhan pemerintah. Kekuatan swasta industri karoseri dan PO, meluas hingga Banda Aceh dan Sulawesi. Jejaring rute bus ini menjadi pilihan paling efisien di tengah mahalnya tiket pesawat dan lamanya perjalanan kapal. Ribuan tenaga kerja terserap di ‘teknologi menengah manufaktur’ ini, menciptakan ruang ekonomi transportasi yang bergairah.

Apa Capaian Kita

Jika hari ini kita bertanya sampai di mana capaian tertinggi hi-tech Indonesia, terlihat dari keberhasilan transformasi digital nasional, teknologi infrastruktur, hingga pengakuan riset di kancah global. Di bidang Transformasi Digital dan Ekonomi Startup, kita berhasil menembus peringkat 54 dunia dalam Global Innovation Index. Selain itu, ekosistem startup Jakarta memiliki nilai ekosistem hingga USD71 miliar. Kita juga meraih berbagai penghargaan bergengsi, termasuk tiga inisiatif digital yang masuk sebagai WSIS Champions (kategori internasional yang diselenggarakan PBB).

Di bidang teknologi satelit dan jaringan, adalah terpasangnya jaringan serat optik sepanjang 460.000 km melingkar ke seluruh penjuru kepulauan. Adopsi jaringan 5G telah menembus puluhan kota besar dan internet bergerak (mobile broadband) dengan kecepatan rata-rata di atas 25 Mbps.

Kita pun mencatat capaian bersejarah rekayasa pesawat terbang berteknologi fly-by-wire melalui IPTN N-250 Gatotkaca. Teknologi konstruksi ‘Pondasi Cakar Ayam’ (oleh Ir. Sedyatmo) dan teknologi pemutar gelagar jalan layang/tol pada sumbunya, disebut ‘Sosrobahu’ karya Ir. Tjokorda Raka Sukawati, sudah digunakan di berbagai proyek internasional.

Berkembang Alot

Masalahnya mengapa pengembangan teknologi berjalan alot? Penyebabnya antara lain anggaran penelitian dan pengembangan (Litbang) yang terbatas, minimnya kolaborasi antara lembaga riset dan industri, serta kesenjangan infrastruktur digital di berbagai daerah. Dana riset relatif kecil dibandingkan negara maju, membatasi kapasitas ilmuwan untuk melakukan riset mendalam atau menciptakan inovasi berskala komersial.

Hasil riset dari kampus atau lembaga pemerintah sering kali berhenti di tahap prototipe dan sulit masuk ke tahap produksi massal (komersialisasi) karena minimnya dukungan industri lokal. Geografis sebagai negara kepulauan masih menyulitkan pemerataan jaringan internet dan teknologi, sehingga implementasi inovasi di daerah terpencil terhambat. Masih terdapat kesenjangan literasi digital di berbagai lapisan masyarakat.

Bagaimanakah seharusnya riset diarahkan? Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional pun sudah disusun Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Intinya riset dituntut mewujudkan kontribusi nyata terhadap peningkatan nilai tambah ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat. Dan itu tidak mudah, karena dunia sedang dihembalang oleh disrupsi teknologi, kompetisi geopolitik, dan percepatan transisi ekonomi hijau dan digital.

Pesan BRIN, riset harus dibangun berbasis masalah nyata masyarakat dan industri untuk menciptakan nilai tambah, menggerakkan industrialisasi berbasis teknologi, dan memperkuat kemandirian nasional. Di situlah hi-tech jadi pilarnya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....