Ironi Dubai Tak Lagi Aduhai
- 01 Jun 2026 19:39 WIB
- Pusat Pemberitaan
.
Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
SETIAP mendengar kata Dubai, fantasi orang tertuju ke sebuah kota impian ultra modern. Sebuah kota fantasi yang aduhai, hampir tak ada kembaran dan tandingannya. Masih tebal pula pujian kita tentang hebatnya tandem Dubai dan Emirates, bersaing dengan Changi dan Singapore Airlines sebagai pemilik mahkota hub dunia. Tetapi hanya dalam hitungan minggu, Dubai berubah sepi ditinggal eksodus warganya.
Dubai hidup dari 90 persen pendatang kaya raya. Jalanan Dubai mirip pemandangan di Monako, dipenuhi banyak supercar, singgah di hotel dan resort bintang tujuh. Harga propertinya termahal di dunia dan hanya para sultan yang mampu memilikinya. Para ekspatriat tajir berdatangan karena menganggap Dubai tempat paling aman dan berlimpah uang di kawasan Teluk. Ia mengalahkan pesona tetangganya, yaitu ‘’Madinat al-Kuwayt’’ atau Kuwait City dan Doha di Qatar.
Kini krisis Teluk mengubah segala kemegahan Dubai, sesuatu yang bahkan tak terbayangkan sebelumnya. Lebih dari 90 persen dari 1.700 proyektil Iran berhasil ditangkis sistem pertahanan UEA, tetapi beberapa di antaranya lolos menghantam target penting, pangkalan militer, kompleks industri, hotel ternama, dan bandara Dubai hingga lumpuh.
Serangan terhadap dua pusat data sempat membuat warga Dubai tidak dapat menggunakan ponsel mereka untuk pembayaran digital. Bom juga menghantam Hotel Fairmont, yang terletak di pulau buatan berbentuk pohon palem yang terkenal, tempat berdirinya hunian mewah, hotel megah, dan klub pantai kelas atas.
Sekutu Barat
The Guardian menulis Dubai diserang karena kemitraan militer dan intelijennya yang erat dengan kekuatan Barat. Dubai adalah pusat favorit bagi raja keuangan global dan liburan mewah ala Barat.
Tidak seperti negara Teluk lainnya, Dubai tidak memiliki sumber daya minyak yang melimpah untuk diandalkan. Jika perang berlarut-larut, reputasi kota ini sebagai surga pariwisata dan kepercayaan Barat terhadap bisnis, perbankan, serta investasi real estat akan ambruk. Citibank dan Standard Chartered pun sudah mengevakuasi karyawannya dari Dubai.
Nasib sama bisa juga terjadi di Kuwait, Qatar, atau bahkan Oman dan Arab Saudi. Tetangga Dubai ini juga dinilai Iran terlalu akrab dengan Barat, tumbuh modern bersimbah kemakmuran finansial.
Drone nirawak Iran sudah ratusan kali melintas di langit mereka. Hanya sebagian yang bisa dihadang, sisanya bisa nyasar ke berbagai objek vital mereka. Apalagi Iran tak gentar menghadapi perang militer dan narasi Amerika-Israel. Dan, jika krisis Teluk kian sulit dihentikan, nasib negeri petrodollar di Timur Tengah ini akan terseok dan termehek-mehek.
Dubai salah satu yang paling telak. Warga asing super kaya meninggalkan begitu saja apartemen, rumah mewah, bahkan mobil supercar di lapangan parkir bandara. Binatang piaraan berkelas sultan juga meradang jadi gelandangan kota. Dan, paling ambruk adalah pilar-pilar pariwisata dan surga belanja Dubai. Hari-hari ini tak ada lagi turis berani melancong ke sana.
Para turis yang terdampar di Dubai sejak 28 Februari—hari dimulainya operasi AS-Israel di Iran—kehilangan kesabaran. Dua pesawat Air France yang disewa Prancis terpaksa mengevakuasi 400 hingga 500 orang ke Mesir. Sedangkan Emirates, maskapai penerbangan yang berbasis di Dubai, membatasi tiket emas yang berharga dan mencegah calon penumpang mencoba peruntungan di bandara. Wisatawan berebut meninggalkan Dubai yang kemarin berhasil menjual mimpi bintang tujuh di atas pasir dan pantainya.
Tangkap Influencer
Memang petaka masih bisa diredam oleh perekonomian UEA. Tetapi jika krisis ini berlanjut 20 atau 30 hari lagi, dampaknya terhadap pariwisata, penerbangan, bisnis ekspatriat, dan minyak akan sangat berat. Kepolisian Dubai mengancam akan menangkap dan memenjarakan para influencer media sosial yang membagikan konten yang "bertentangan dengan pengumuman resmi atau yang dapat menyebabkan kepanikan sosial".
Banyak pencari kerja datang ke Dubai sebagai buruh, pekerja konstruksi, pengantar barang, dan pengemudi. Tak ada pesawat yang membawanya pulang. Terdapat dua juta warga India, 700.000 warga Nepal, dan 400 ribu warga Pakistan yang tinggal di Dubai. Banyak migran ekonomi berstatus rendah dan tidak bebas untuk pulang sesuka hati. Mereka takut berbicara hal-hal buruk tentang negara ini karena akan mendapat masalah.
Dari empat orang yang tewas di UEA sejak konflik meletus, tiga di antaranya pekerja Asia Selatan, termasuk seorang sopir taksi Pakistan, seorang petugas keamanan Nepal, dan seorang pengemudi truk tangki air Bangladesh. Serangan drone dekat Bandara Dubai melukai dua warga Ghana, seorang India, dan seorang Bangladesh. Para pekerja migran di Dubai takut berbicara hal-hal buruk tentang negara ini karena akan mendapat masalah.
Bandara Internasional Dubai melayani hampir 90 juta pelancong tahun lalu. Kini ribuan penerbangan dibatalkan, mengakibatkan pusat perjalanan tersibuk di kawasan Teluk itu lumpuh. Maskapai Emirates memangkas jadwal penerbangan, dan celakanya terjadi pada periode sibuk kunjungan wisata. Ribuan kamar hotel mewah kosong dan dijual jauh di bawah harga normal.
Proyek termahal di Dubai saat ini adalah mega-proyek perluasan Bandara Internasional Al Maktoum (DWC), dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp560 triliun. Proyek ini dirancang untuk menjadi bandara terbesar di dunia dengan kapasitas hingga 260 juta penumpang per tahun. Bandara ini akan memiliki lima landasan pacu dan 400 gerbang pesawat. Pembangunannya melampaui Burj Khalifa yang menelan dana Rp24 triliun.
Sebuah mal raksasa, Meydan One, menelan biaya 8,2 miliar dolar AS, dilengkapi lereng ski dalam ruangan terpanjang di dunia, air terjun menari, dan menara hunian. Dan tentu Palm Jumeirah, pulau buatan mewah berbentuk pohon palem bernilai USD12 miliar. Sedangkan Dubai Creek Harbour & Tower yang bernilai 13 miliar dolar AS berbentuk kompleks perkotaan tepi laut yang mencakup mega-mal serta pusat observasi ikonik.
Apakah hikmah di balik petaka Dubai? Bisa jadi saat para insinyur dan arsitek kondang merancang Dubai sebagai kota impian, terlupa menimbang aspek geopolitik Teluk. Kini kita tersadar, sebuah kawasan paling makmur pun dapat dalam sekejap terpuruk berdarah-darah. Dan dampak buruk perang ini terus meluas, menerjang negeri-negeri jauh darinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....