Menggapai Reputasi Maskapai
- 29 Mei 2026 20:19 WIB
- Pusat Pemberitaan
.
Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
DUNIA penerbangan tak bisa mengelak bicara tentang Emirates dan Singapore Airlines (SIA). Dua maskapai ini unik karena menggabungkan kekuatan maskapai dengan kehebatan bandaranya. Tandem seperti ini tak disamai maskapai besar sekalipun sekelas Air France, Qantas, Lufthansa, Delta, yang beroperasi tunggal sebagai maskapai saja. Mereka belum mampu membangun komponen bisnis ganda yang saling menguntungkan.
Emirates dan SIA sama-sama tumbuh di negeri kecil, sehingga tak memiliki penerbangan lokal. Emirates selalu mampu meraih pendapatan tertinggi, dan paling menguntungkan, meski hanya menerbangkan jet besar untuk jarak jauh. Ini didorong oleh pusat operasinya di Dubai sebagai salah satu hub tersibuk di dunia. Emirates mendominasi pasar penerbangan jarak jauh dan premium.
Delta Air Lines (Amerika Serikat) konsisten menjadi pemimpin dalam hal total pendapatan operasional, nilai merek, dan kapitalisasi pasar. Delta bersaing dengan grup IAG (British Airways, Iberia), Ryanair (Eropa), dan Singapore Airlines.
Data Companies Market Cap menyebut tiga maskapai besar AS menghasilkan pendapatan jauh lebih besar, ternyata margin operasinya sangat rendah. American Airlines margin operasinya hanya 1,57%, jauh lebih rendah daripada rata-rata global. Sedangkan Delta dan United masuk dalam 10 maskapai paling menguntungkan dengan margin sekitar 5,5 persen. Teristimewa tetap saja Emirates dan Singapore Airlines, keduanya bertahan margin operasi lebih dari 14%. Emirates hanya unggul tipis 0,2 persen di posisi pertama, tetapi kedua maskapai ini sangat efisien.
Maskapai penerbangan murah Ryanair juga mencetak margin operasi 13,65 persen, meski beroperasi dengan anggaran terbatas. Ia mengalahkan Southwest Airlines dan dua maskapai Tiongkok, yaituAir China dan China Southern. Capaian Turkish Airlines sebesar 10,6 persen tak boleh diremehkan, sementara IAG dan Qatar Airways mencetak margin 8,7 persen dan 7,7 persen.
Masih Tetap Unggul
Jika berbicara soal laba bersih, Emirates adalah pemenangnya. Laba tahun 2024 yang meroket sebesar USD4,7 miliar telah dilampaui pada 2025, dengan rekor laba tahunan USD5,2 miliar.
Dua dari tiga maskapai besar AS mengikuti jejak Emirates. Delta dan United menghasilkan USD3,46 miliar dan USD3,15 miliar. Tetapi American Airlines yang pendapatan fantastisnya $54 miliar justru keuntungannya relatif rendah, hanya USD850 juta akibat tenaga kerja mahal.
Singapore Airlines dan Emirates sangat ketat karena keduanya merupakan maskapai papan atas yang bersaing di pasar berbeda. Emirates kerap mengungguli Singapore Airlines dalam beberapa penghargaan global (seperti ULTRAs) berkat jaringan global (hub) yang masif, kapasitas pesawat super jumbo, dan strategi penetapan harga.
Emirates kadang menyalip Singapore Airlines berkat konektivitas global via Dubai. Ia memanfaatkan Bandara Internasional Dubai sebagai pusat transit terbesar yang menghubungkan Eropa, Asia, Amerika, dan Afrika dengan sangat efisien. Emirates juga mengandalkan armada pesawat besar seperti Airbus A380 dan Boeing 777 yang memungkinkan kapasitas kursi lebih banyak dengan berbagai fasilitas mewah.
Emirates menerapkan sistem hiburan ice yang sangat populer dan layanan premium yang konsisten. Singapore Airlines tidak tertinggal. Ia maskapai yang sukses memanfaatkan bandara Changi sebagai hub Asia dan Pasifik. SIA punya anak usaha Scoot, dan diakui paling ikonik di dunia berkat layanan kru yang sangat ramah, dan efisiensi pelayanannya.
Emirate punya salah satu operator katering terbesar di dunia, mengakuisisi Emirates Bustanica yang sebelumnya bernama Emirates Crop One, kini sepenuhnya dimiliki Uni Emirat Arab (UEA). Tujuannya mempertahankan visi ketahanan pangan dan pertaniannya, memanfaatkan keahlian lokal dan pengetahuan teknologi termaju. Bustanica mampu menanam lebih dari 1 juta kilogram sayuran berkualitas per tahun, atau tiga ton setiap hari.
Selada, bayam, kangkung, tanaman herbal, dan sayuran mikro yang ditanam tanpa pestisida sehingga diklaim 100 persen bersih, segar, dan kaya nutrisi.
Emirates menyajikan lebih dari 450 ribu porsi makanan nabati di pesawat, dan lebih 300 ribu resep yang dibuat secara bergiliran untuk 140 destinasi. Konsumsinya melampaui pertumbuhan volume penumpang. Peningkatan signifikan terjadi khususnya pada rute ke Tiongkok, Jepang, dan Filipina.
Maskapai Baru Kita
Kita ternyata punya maskapai baru. Menurut Bloomberg Technoz, PT Indonesia Airlines Group resmi didaftarkan menjadi anak perusahaan baru dari Calypte Holding Pte Ltd. Inilah maskapai baru Indonesia yang hanya akan fokus pada penerbangan premium rute internasional.
Indonesia Airlines merupakan anak perusahaan baru dari Calypte Holding Pte Ltd, sebuah perusahaan pengembang energi terbarukan, penerbangan, dan pertanian yang berkantor pusat di Singapura. Calypte Holding memiliki proyek raksasa pembangkit listrik tenaga surya 2.500 megawatt di Riau.
Indonesia Airlines akan berbasis di Bandara Soekarno-Hatta, fokus pada penerbangan internasional. Akan dioperasikan 20 pesawat yang didatangkan secara bertahap terdiri 10 unit pesawat berbadan kecil (Airbus A321neo atau A321LR) dan 10 unit pesawat berbadan lebar (Airbus A350-900 dan Boeing 787-9). Maskapai ini akan melayani rute ke 48 kota tujuan di 30 negara dalam lima tahun pertama.
Telah disiapkan tim berpengalaman dari berbagai maskapai besar di dunia. Misalnya, Direktur Operasional direkrut dari Singapore Airlines yang telah berpengalaman lebih dari 40 tahun dan merupakan salah satu pilot pertama di dunia yang menerbangkan pesawat Airbus A380. Direktur komersial akan diisi personel yang sudah puluhan tahun bekerja di berbagai maskapai besar seperti Emirates, Asiana Airlines, dan lain-lain.
Posisi Direktur Produk dan Layanan akan diisi sosok yang telah bekerja di Royal Brunei dan Emirates selama 25 tahun. Ada pula seorang Manajer Awak Kabin dari British Airways yang juga bagian dari Komite Korporasi Pramugari Eropa (EBAA) dan seorang Wakil Manajer Awak Kabin dari Emirates.
Pada saat hampir bersamaan, Scoot maskapai bertarif rendah anak perusahaan Singapore Airlines membuka layanan baru ke Labuan Bajo, Medan, Palembang, dan Semarang. Disiapkan lima pesawat dari keluarga Airbus A320neo. Bisa ditambah enam pesawat lagi Airbus yang dikirim bertahap mulai 2028. Ditenagai mesin handal Pratt & Whitney PW1100G-JM (GTF), pesawat baru ini punya setelan 186 kursi untuk tipe A320neo dan 236 kursi pada tipe A321neo.
Scoot telah memperkuat konektivitas SIA Group dengan 25 destinasi baru, ke kota-kota sedang berkembang seperti Chiang Rai di Thailand dan Phu Quoc di Vietnam. Pada Juni 2026, Scoot akan melayani total 85 tujuan, separonya langsung terhubung dengan Singapura melalui Bandara Changi.
Andaikan saja Garuda Indonesia bisa dipasangkan dengan Bandara Soekarno-Hatta atau Ngurah Rai sebagai kesatuan kinerja, kita akan punya kisah tandingan terhadap Changi dan Dubai.***
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....