TOKO Buku Gunung Agung akan menutup semua gerai dan tokonya. Padahal toko buku ini adalah salah satu yang terbesar, bahkan merupakan perintis jaringan toko buku di Indonesia sejak 1953.
Selain Toko Buku Gunung Agung, sejumlah lainnya juga sudah tutup. Misalnya Kinokuya, QB World Books, Toko Buku Aksara, Djawa, Togamas, Eureka, dan sebagian Gramedia.
Bisnis cetak literatur mulai punah, penggantinya adalah bisnis digital, e-books. Kepunahan literatur cetak tidak dianggap penting. Segala sesuatu yang digital dianggap lebih modern, ekonomis dan baik. Sebab, pembuatan dan penyebarannya mudah, orang hanya butuh gawai untuk mengakses.
Padahal kelemahan literatur digital juga banyak, misalnya sangat bergantung dengan teknologi, listrik, dan gawai. Sedikit saja salah penanganan, bisa berdampak hilangnya data, padahal data kita rentan serangan dari peretas.
Penggunaan gawai berdampak terhadap kesehatan mata dan penurunan fungsi kognisi sistem otak manusia. Efek merugikan internet telah dirasakan dunia pendidikan, saat lebih dari 85 persen guru di Amerika Serikat (AS) mendapati siswa menjadi sangat mudah terdistraksi.
Hyperlink, notifikasi, dan prompt penyedia aliran tanpa batas ke media digital telah mendorong untuk terus-menerus berinteraksi dengan banyak masukan secara bersamaan. Tingkat yang dangkal dalam perilaku ini dikenal dengan istilah "media multi-tasking".
Dampaknya ternyata dahsyat! Para ahli psikologi menemukan ada kerentanan dan penurunan kemampuan kognitif. Dan, itu makin bertambah dan sejalan dengan tingkat keparahan.
Kelemahan dunia digital walau telah kita ketahui dan alami, ternyata ini tidak menjadi topik yang dikehendaki untuk dibicarakan. Sebagian besar dari kita sangat bergantung kepada kekuatan perusahaan digital.
Posisi kita di depan perusahaan digital tidak lagi setara. Startup (perusahaan rintisan), e-commerce, sosial media, hingga kecerdasan buatan, telah menjelma menjadi raksasa baru dalam skala global. Kekuatan modal internasional berperan bukan hanya dalam ekonomi, tetapi punya posisi tawar dalam berbagai bidang, termasuk sosial politik.
Begitu perusahaan multinasional menyetop semua akses dunia buku digital, maka kita tiba-tiba mendadak seperti tidak punya apa-apa: paperless, kemampuan kognitif telah menurun dan terdistraksi, kemampuan audio visual telah melemah, kita tergagap saat tersadar telah berada di bawah telapak kaki kekuatan asing. Punahnya buku adalah punahnya sistem ketahanan kita.
Penulis: Ester Yusuf (Aktivis HAM)
*)Tulisan atau artikel opini yang dipublikasikan tidak mencerminkan pandangan redaksi. Hak cipta dan pertanggungjawaban dari tulisan, berita, atau artikel yang dikutip dari media lain atau ditulis sendiri sepenuhnya dipegang penulis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....