Saat Airbus A380 Menghilang di Bali

  • 21 Mei 2026 16:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

DALAM beberapa minggu terakhir ini warga sekitar Bandara Ngurah Rai di Denpasar Bali, tak melihat lagi kegagahan Airbus A380 Emirates datang dan pergi. Padahal A380 sejauh ini hanya satu-satunya burung aluminium paling jumbo, yang bersedia mengunjungi surga wisata di Pulau Dewata. Ke manakah perginya A380 milik maskapai Uni Emirat Arab UEA) ini?

Emirates sudah sejak 2023 menerbangkan Airbus A380 ke Bali. Satu-satunya operator pesawat super jumbo yang melayani rute Dubai-Denpasar. Mulai Januari 2026, Emirates mengganti pesawat A380 dengan Boeing 777. Frekuensi penerbangan tetap setiap hari. edanya langsung menyolok, Airbus memiliki 615 kursi dengan dua kelas, sementara Boeing 777 hanya 421 kursi.

Pesawat Emirates A380 biasanya mengangkut antara 480 hingga 615 penumpang bergantung konfigurasinya, sedangkan Boeing 777 hanya mengangkut sekitar 350 penumpang. Penggantian pesawat ini mengurangi jumlah kursi yang tersedia sekitar 25 hingga 35 persen per penerbangan. Ada yang menyatakan penggantian pesawat lebih kecil ini semata disebabkan musim sepi wisatawan Eropa.

Di pihak lain, terbetik kabar pejabat penerbangan Indonesia menginginkan Emirates membangun fasilitas perawatan di sini, mempekerjakan lebih banyak pilot Indonesia, dan terbang ke lebih banyak kota di Indonesia. Pejabat bandara mengklaim Emirates hanya menurunkan kelas rutenya secara musiman. Sampai hari ini, Emirates belum memberi keterangan apapun.

Jelasnya Airbus A380 Emirates tidak dilarang terbang ke Bali. Memang sempat terjadi Emirates mengganti A380 dengan wide-body Boeing 777-300ER antara 17 Januari hingga 24 Februari 2026. Ini keputusan maskapai menyesuaikan selama low season (musim sepi penumpang), bukan akibat larangan otoritas penerbangan Indonesia.

Setelah jeda sementara, Emirates kembali mengoperasikan A380 rute Dubai–Bali. Ada dua penerbangan setiap harinya, salah satu menggunakan A380 dan jadwal lainnya Boeing 777. FlightRadar24 mencatat A380 terbang terakhir ke Bali pada 16 Januari 2026 dan kembali ke Denpasar pada 25 Februari 2026.

Ada Tiga Syarat

Saat berbicara di depan Asosiasi Penerbangan Indonesia baru-baru ini, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa, menginginkan tiga hal sebagai syarat agar Emirates bisa terus menggunakan A380 ke Bali.

Pertama, Emirates membangun fasilitas perawatan, perbaikan, dan perombakan (MRO) di Indonesia. Kedua, Emirates mempekerjakan lebih banyak pilot dan awak kabin Indonesia. Ketiga, Emirates diharapkan menambah rute tambahan selain Bali dan Jakarta.

Negosiasi seperti itu terkesan tidak biasa di dunia penerbangan komersial antarbangsa. Apalagi karena Bali hidupnya sangat bergantung dari jumlah wisatawan.

Sebagai perbandingan Qatar Airways mempekerjakan 90 pilot Indonesia, Etihad 40 pilot Indonesia yang belum termasuk jumlah awak kabin. Hanya ada enam pilot dan hanya satu awak kabin Indonesia, di Emirates. Jadi karena masalah kurangnya tenaga kerja Indonesia itulah, permintaan izin tiga pesawat Airbus A380 Emirates ke Bali masih ditunda.

Banyak maskapai seluruh dunia memiliki penerbangan regular ke Bali. Data pemesanan untuk 12 bulan dari November 2024 hingga November 2025 terdapat lebih dari 550.000 penumpang pulang pergi transit di Dubai untuk mencapai Bali.

Sebagian besar lalu lintas ke Bali, sekitar 80%, terbang ke atau dari Eropa. Amerika Utara berada di urutan kedua dengan 7%, diikuti oleh Timur Tengah sebesar 6 persen dan Afrika 5 persen.

Inggris adalah pasar negara yang paling populer. Bahkan, Emirates mengangkut lebih banyak penumpang rute Inggris-Bali daripada maskapai lain mana pun. Jerman berada di urutan kedua, kemudian Belanda, Prancis, AS, Rusia, Polandia, Arab Saudi, Italia, dan Spanyol.

Di tingkat bandara, Amsterdam-Denpasar memiliki jumlah penumpang terbanyak. Bandara Paris Charles de Gaulle berada di urutan berikutnya, diikuti oleh Frankfurt, Moskow, London Heathrow, Warsawa, London Gatwick, Manchester, Düsseldorf, dan Jeddah. Di tingkat kota, London-Bali berada di urutan pertama.

Sekitar 24 Juta Penumpang

Bali biasanya mengalami permintaan tinggi dari Juni hingga September dan meriah lagi pada Desember, sementara bulan-bulan awal tahun pengunjungnya rendah. Bali menangani sekitar 24 juta penumpang pada tahun 2024, mendekati level sebelum pandemi tetapi masih mengalami fluktuasi musiman, sehingga memengaruhi perencanaan maskapai penerbangan. Maskapai rutin mengganti jenis pesawat untuk menyesuaikan dengan jumlah penumpang, terutama setelah periode puncak liburan.

Saat penutupan ruang udara di sejumlah negara Timur Tengah, 64 penerbangan internasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai, dibatalkan. Akibatnya 8.187 penumpang terdampak pembatalan. Pejabat PT Angkasa Pura Denpasar, Gede Eka Sandi Asmadi, mengungkapkan jumlah tersebut terhitung sejak 28 Februari hingga 6 Maret 2026 pukul 17.00 Wita.

Pembatalan terbang dialami 34 rute keberangkatan dan 30 rute kedatangan. Maskapai yang terdampak adalah Qatar Airways untuk rute Doha-Denpasar/Denpasar-Doha, Emirates rute Dubai-Denpasar/Denpasar Dubai, serta Etihad rute Abu Dhabi-Denpasar/Denpasar Abu Dhabi.

Saat Emirates mengurangi ukuran pesawat, AirAsia mulai 10 Maret 2026 meluncurkan penerbangan harian Melbourne ke Denpasar dengan tarif promosi. Australia tetap menjadi pasar pariwisata terbesar Bali, mendukung permintaan perjalanan yang stabil sepanjang tahun. Penerbangan berangkat dari Melbourne pukul 06.00 pagi dan tiba di Bali pukul 09.35 pagi, dengan penerbangan kembali pada malam hari yang mendarat di Melbourne keesokan paginya.

Kini Bali terus memperluas infrastruktur penerbangannya untuk mendukung pertumbuhan pariwisata jangka panjang. Kapasitas Bandara Ngurah Rai akan menjadi 32 juta penumpang dalam waktu dekat, berlanjut hingga 42 juta dan 55 juta penumpang setiap tahun.

Bandara Internasional Bali Utara segera difungsikan untuk mengurangi kemacetan langit Ngurah Rai, sekaligus menggairahkan wisata Bali sisi utara. Dengan tandem dua bandara ini, Bali akan menjelma sebagai pusat transit regional (hub) setara Singapura, Bangkok, dan Kuala Lumpur. Dan, akan lebih banyak lagi Airbus A380 terbang ke sana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....