Gegar Paham Tragedi Bekasi Timur
- 04 Mei 2026 08:17 WIB
- Pusat Pemberitaan
.
Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
TABRAKAN kereta api (KA) di Bekasi Timur masih tinggalkan kepedihan, merenggut belasan nyawa penumpang KRL yang seluruhnya wanita. Ini tragedi terburuk dalam 10 tahun terakhir di transportasi publik berbasis rel.
Diawali mogoknya taksi hijau Green SM di perlintasan sebidang yang tertabrak KRL. Dari sini terpicu tabrakan berikut yang lebih mematikan, yaitu rangkaian KRL lain (yang berhenti berbeda jalur) diseruduk Argo Bromo Anggrek berkecepatan tinggi. Rangkaian tragedi ini mengundang gemuruh pertanyaan, apa dan siapa sebenarnya penyebab awal malapetaka.
Apakah penyebab awalnya pada taksi hijau yang mogok? Gagap teknologi mobil baterai? Sistem sinyal yang kacau? Kelengahan masinis? Atau malafungsi manajemen ‘train dispatcher’ KAI? Seluruhnya teraduk di benak kita, yang coba diurai dan dijelaskan kelak oleh KNKT (Komisi Nasional Kecelakaan Transportasi).
Mobil baterai murni (EV atau Electric Vehicle) masih sangat baru di tengah budaya lama mobil manual bertenaga mesin bakar (Internal Combustion Engine). Mobil EV meniadakan getaran mesin, membuang fungsi kopling (clutch) dan persneling (pemindah gigi).
Ia berjalan nyaris di luar kontrol kita karena otak komputer menggantikan semua. Saat mogok, mobil konvensional tinggal pindah gigi netral dan bisa didorong. Sedangkan pada EV respon komputer seketika mengunci seluruh sistem termasuk roda-roda mobil, saat terpicu benturan.
Pengemudi taksi hijau itu dikabarkan baru dua hari beroperasi, itupun pengenalan cara kerja EV hanya sehari. Boleh jadi sepanjang hidupnya sang pengemudi hanya terbiasa dengan mobil manual, bukan mobil transmisi otomatis apalagi bertenaga baterai.
Mengubah kebiasaan dari manual ke transmisi matik dan penggerak EV butuh waktu. Tidak mungkin instan. Dan, penabrak taksi itu adalah badan besi KRL yang juga digerakkan listrik voltase besar. Listrik beradu listrik.
Benturan keras antara taksi dan KRL juga bisa merusak jaringan elektronik pengatur sinyal, yang jaringannya terpasang di sekitar rel. Ini berakibat kacaunya petunjuk sinar lampu merah (untuk berhenti) dan hijau untuk melaju, bagi para masinis.
Kekacauan sinyal inilah yang kemungkinan menyebabkan sebuah rangkaian KRL lain tiba-tiba ikut berhenti di jalur sebelah. Apalagi masinis Argo Bromo Anggrek mengakui melihat sinyal hijau (yang seharusnya merah) di jalur yang masih dihuni KRL tadi. Karena yang terlihat sinyal hijau Argo Bromo tetap melaju kencang. Tak mungkin lagi bisa mengerem dari kecepatan sekitar 100 kilometer per jam.
Bukan Mobil Biasa
Akselerasi teknologi informasi memaksa kita masuk ke otak cerdas komputer, sebelum kita sepenuhnya siap. Taksi hijau buatan pabrik terbesar Vietnam, Vinfast, bukan sekadar mobil biasa. Dia komputer berjalan. Komputer pula yang mengatur kendali KRL dan sebagian panel Argo Bromo meski masih bergerak dengan mesin diesel.
Selalu ada kemungkinan komputer gagal berfungsi. Pada kasus jatuhnya pesawat terbang, kendali otomatis pilot (auto pilot) pun bisa salah membaca data. Dua pesawat terbaru dan tercanggih Boeing 737 Max 8 milik Lion Air dan Kenya jatuh berkeping di laut dan gurun.
Penyebabnya (versi KNKT) data sensor pada ‘angle of attack’ rusak dibarengi cacat desain pada MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System). Celakanya pilot tidak tahu cara mengatasinya, karena Boeing belum memasukkan MCAS di buku manual pelatihan pilot. Harga yang terlalu mahal untuk hilangnya 189 nyawa penumpang Lion Air dan 157 Ethiopian Airlines Kenya.
Hadirnya mobil listrik, apalagi langsung beroperasi sebagai taksi umum, butuh kesiapan dan pemahaman baru. Seluruh sistem penggerak dan kendalinya pindah ke sebuah layar di dashboard. Anda berada dalam kesenyapan absolut, tanpa suara mesin, tanpa getaran.
Sedikit saja terdapat gangguan, komputer mengunci segalanya demi keamanan. Dan, jantungnya terletak pada aki kecil kapasitas 30-45 ampere yang sewaktu-waktu bisa hilang daya. Jika mobil mogok ia berubah jadi batu besar yang tak bisa didorong atau ditarik, harus dinaikkan truk. Mustahil pula Anda temukan montir atau bengkel jalanan jika bermasalah dengan EV.
Pilihan lebih aman sebenarnya pada hibrida (hybrid) gabungan mesin bakar dan baterai di satu tubuh. Pabrikan besar Jepang seperti Toyota lebih memilih hybrid ketimbang EV murni. Teknologi hybrid terbaru sudah mampu menjawab kebutuhan mobilitas yang murah, aman, dan berjangkauan jauh.
Mesin bakar yang terpasang pun bisa beragam, boleh segaris (inline), berhadapan (boxer), maupun silindris berputar (rotary). Mazda dan Subaru memilih cara nonsegaris ini. BYD jagoan baterai dari Tiongkok pun masih mengembangkan hybrid.
Ditolak di AS
Ekspansi taksi hijau Green SM memang mengagumkan. Hanya sekejap hampir semua kota besar di Indonesia diserbunya, menyaingi pemain lama Blue Bird Group. Vinfast juga membidik Negara-negara padat penduduk yang belum terlalu mengenal kendaraan baterai. Afrika Selatan, Amerika Latin, dan sebagian Asia seperti Pakistan, India, Malaysia, Tailan berhasil dihijaukannya.
Sebelum memilih Indonesia, VinFast sempat membidik pasar otomotif Amerika yang dihuni raksasa Detroit seperti General Motors, Ford, dan Stellantis. Persyaratan mobil listrik di AS sangat ketat mengingat dominasi pasar pabrikan milik Elon Musk (sahabat dekat Trump) yaitu Tesla Inc dengan market share sebesar 55 persen pada 2023. Belakangan Tesla goyang akibat masifnya perkembangan cepat mobil listrik Tiongkok, membuat dominasi pasar Tesla anjlok tinggal 49,7 persen pada kuartal II/2024.
AS menerapkan tarif bea masuk hingga 100 persen bagi mobil listrik yang diimpor dari Tiongkok demi melindungi pasar otomotifnya sendiri. Sepanjang 2023 VinFast hanya berhasil menjual 34.855 unit mobil di AS, jauh di bawah target penjualan tahunannya yang dipatok 50.000 unit. Itu artinya Vinfast hanya menyumbang kurang dari 1 persen total penjualan EV di negara “Paman Trump”.
Selain bersaing sengit melawan produk Tiongkok, di beberapa wilayah AS penyerapan kendaraan listrik masih lambat. Akibatnya penjualan VinFast di pasar internasional ikut tersendat. VinFast pertama kali mengirimkan mobilnya ke AS awal Maret 2023, langsung diserbu ulasan negatif.
Riuh komentar di medsos menduga mobil listrik VinFast, khususnya model VF3 yang viral di Indonesia, terlalu prematur dilepas ke pasar. Ia belum menjalani tes unjuk kerja yang cukup. Baru pada tahap rintisan dan bakar duit, demi mengejar kecepatan produsen Tiongkok yang cepat dan masif.
Keluhan pengguna Vinfast didominasi masalah quality control (QC), kaki-kaki (onderstel=Bld) berbunyi, pintu kurang presisi, dan sejumlah gangguan elektronik. Layanan purna jual belum merata, suku cadang susah didapat, dan sistem sewa baterai justru berakhir memberatkan.
Ada laporan pula masalah saklar rem yang membuat mobil mendadak tidak bisa jalan. Akhirnya Vinfast merugi 18,76 triliun dong atau setara Rp11,5 triliun pada kuartal II/2024. Periode sebelumnya ruginya 13,4 triliun dong.
Meski merugi, Vinfast membangun pabrik perakitan di Subang, Jawa Barat pada 15 Juli 2024. Investasi awalnya setara Rp3,23 triliun dengan kapasitas produksi 50 ribu mobil per tahun.
Kesimpulan akhir yang penting, kita simak hasil investigasi KNKT. Era mobil listrik sarat kerja komputer ibarat makhluk asing yang hadir begitu cepat. Lebih cepat dari kebisaan kita memahami dan mengendalikannya. Belajar lengkap tentang sistem EV sebuah niscaya. Jangan sampai gegar dan gagal faham saat Anda berada di balik kemudinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....