Desa ‘Serpih Surga’ Nusantara

  • 23 Mar 2026 13:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

LIBUR panjang Lebaran, di saat banyak usaha libur kerja, berbagai obyek wisata justru sedang panen raya. Inilah saat paling tepat menghasilkan uang, meski di luar liburan banyak lokasi wisata kembali sunyi senyap.

Dalam lima tahun terakhir banyak lokasi alam yang eksotis disulap menjadi wahana pelesiran. Para pengusaha dari kota besar, membangunnya bermodal belasan hingga puluhan miliar rupiah.

Warga desa pun berpatungan membenahi lokasinya hingga punya daya tarik khas. Tanpa diarahkan, dan tanpa banyak dibantu Pemerintah, para pejuang wisata ini tumbuh mandiri.

Mereka berhasil membuka lapangan kerja baru bagi warga lokal. Menciptakan peluang ekonomi baru dari tempat yang bahkan sangat terpencil tak dikenal. Kita menyebutnya ‘surga tersembunyi‘ (hidden gem).

Serpihan surga itu bertebaran di seluruh pelosok Nusantara, berupa keindahan alam pantai, air terjun, hutan belantara, sawah berundak, parit meliuk, hingga beragam kuliner khas dan keunikan budaya lokal.

Semuanya menawarkan pengalaman baru bagi banyak orang yang ingin keluar dari rutinitas hidup. Mereka datang sambil merekam diri, lalu menyebarkannya melalui banyak platform media sosial. Melahirkan banyak profesi baru sebagai youtuber.

Lain lagi selera Generasi Z. Sumber tiket.com menyebut pilihan Gen Z dalam berwisata berbeda dengan generasi lainnya. Gen Z lebih suka mengunjungi destinasi wisata yang menawarkan pengalaman lebih melokal atau ‘local immersion’. Mereka kurang suka pergi ke tempat wisata yang sudah mapan dan terkenal.

Mereka mencari wisata yang menawarkan pengalaman otentik, unik dan tidak biasa. Tempat-tempat keren dan anti-mainstream atau tempat wisata yang jarang dikunjungi turis.

Gen Z juga lebih mengapresiasi tempat wisata yang mengedepankan keberlanjutan (sustainability) atau yang mendorong sadar lingkungan (enviromental friendly). Mereka pula yang paling aktif menggunakan medium TikTok untuk temuan selera personalnya itu.

Bentangan Surga

Bentangan surga tersembunyi yang layak kita kenal antara lain Danau Kakaban, Kalimantan Timur. Danau air tawar di Pulau Kakaban ini unik karena dihuni ubur-ubur yang tidak menyengat.

Sikakan berenang bersama mereka di air jernih, sambil snorkeling. Di Sumatra Utara terdapat air terjun Sipiso-Piso, terletak dekat Danau Toba.

Air terjun ini setinggi 120 meter ini menawarkan pemandangan megah seperti pisau yang menghujam kolam. Suasana sekitarnya asri dan sejuk.

Maluku Tenggara memiliki pantai Ngurtafur di Kepulauan Kei. Pasirnya putih dan air laut biru jernih. Pantai ini secara berkala sering dikunjungi burung pelikan yang bermigrasi dari Australia, menambah daya tariknya.

Pulau Lombok punya Bukit Selong di Sembalun, menawarkan pemandangan sawah hijau dan Gunung Rinjani. Sunrise dan sunset di sini sangat memukau.

‘Green Canyon Pangandaran’ di Jawa Barat menyuguhkan sungai hijau bening di antara tebing karst. Kita bisa menyusuri sungainya dengan perahu atau rakit.

Sedangkan Banyuwangi punya Pantai Pulau Merah, yang menghadirkan sebuah gugusan pulau berubah memerah saat matahari tenggelam. Sepi dan alami sekitarnya, nyaman untuk berkemah atau menepi dari keramaian.

Destinasi hidden gem ini menawarkan pengalaman otentik tanpa keramaian. Kita bisa menikmati keindahan alam yang masih asri, budaya lokal yang kaya, dan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat wisata populer. Banyak tempat ini sulit dijangkau, beberapa destinasi membutuhkan kesiapan fisik untuk treking atau perjalanan panjang.

Pilihan Desa Wisata

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) pun menggelar Anugerah Desa Wisata Indonesia. Ada 6.016 desa wisata di seluruh provinsi di Indonesia yang berlomba menampilkan wajah terbaik. Mereka terbagi empat klasifikasi desa wisata, yakni Desa Wisata Rintisan, Desa Wisata Berkembang, Desa Wisata Maju, dan Desa Wisata Mandiri.

Desa wisata rintisan adalah klasifikasi untuk desa wisata yang baru mulai beroperasi, serta masih dalam lingkup yang terbatas. Salah satunya Desa Wisata Pulau Pramuka di Kelurahan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu.

Berbagai aktivitas yang ditawarkan, snorkeling dan bersepeda keliling pulau yang masih sangat alami laut jernih biru dan terumbu karang indah. Desa wisata rintisan lainnya adalah Desa Wisata Kaduela, Kabupaten Kuningan; Padarincang, Kabupaten Serang; serta Buluh Perindu Desa Baru Semerah, Kabupaten Kerinci.

Berikutnya Desa Wisata Maju, yakni klasifikasi bagi desa wisata yang memiliki peran aktif terhadap perkembangan ekonomi warga desa dan sekitarnya. Satu di antaranya adalah Desa Wisata Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Daya tariknya berupa gugusan pulau-pulau termasuk Pulau Sangalaki yang menjadi tempat habitat penyu hijau. Dan, Pulau Derawan dengan keindahan pantai dan bawah lautnya.

Kategori Desa Wisata Mandiri ditujukan bagi desa wisata yang sudah memiliki pengunjung dari lingkup lebih luas. Menariknya, hanya ada satu yakni Desa Wisata Krebet, di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Selain menawarkan keindahan alam dan budaya, Desa Wisata Krebet terkenal dengan membatik kayu yang dilakukan oleh sebagian besar warga. Wisatawan bisa mencoba proses memilih jenis kayu yang tepat, hingga pewarnaan.

Banyak atraksi wisata di sini, seperti Merti Dusun Krebet, Jathilan tradisional Sri Mudha Budaya, Jathilan kreasi baru Bekso Kudho Mataram, dan Gejog Lesung.

Desa Wisata Berbasis Budaya adalah desa Adat Osing Kemiren (Banyuwangi, Jawa Timur): Peraih ASEAN Homestay Award 2025, menawarkan pengalaman budaya autentik, kuliner, dan kopi tradisional. Desa Wisata Penglipuran (Bali): Desa adat yang terkenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia. Juga desa wisata Jatiluwih & Wukirsari: Peraih penghargaan Best Tourism Villages dari UNWTO (World Tourism Organization) sebelumnya yang tetap menjadi unggulan di 2025.

Dalam rangkaian ASEAN Tourism Forum (ATF) 2025, ada penghargaan ASEAN Tourism Awards (ATA) 2025 untuk mengapresiasi pelaku pariwisata atas upaya menghadirkan destinasi wisata yang unggul dan berkualitas yaitu penghargaan ASEAN Homestay Award, ASEAN Community-Based Tourism (CBT) Award, dan ASEAN Public Toilet Award.

Dari 15 desa wisata pemenang dari Indonesia, ada Desa Perkampungan Adat Nagari Sijunjung, Sumatra Barat. Ia memenangkan penghargaan ASEAN Homestay Award, karena memiliki 76 rumah adat (Rumah Gadang) berjajar rapi dalam satu kawasan perkampungan.

Inilah kekayaan negeri indah ini yang telah dimanfaatkan secara baik oleh pengusaha maupun warga lokal. Desa wisata menahan urbanisasi dan membuka lahan ekonomi baru. Tinggal bagaimana merawat dan menampilkannya, agar tetap ramai dikunjungi wisatawan.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....