Gegar Baru Robot Humanoid

  • 16 Mar 2026 10:13 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

SAAT Teluk Persia dibakar amarah perang rudal dan artileri canggih, di belahan Asia, Tiongkok juga sedang menebar ancaman melalui revolusi robotika. Meski tak menimbulkan gemuruh mesiu, aksi robot-robot humanoid di daratan Tiongkok mulai mencemaskan negara-negara tetangganya. Tiongkok menargetkan posisi terdepan dalam robotika global seiring dengan kebutuhan mengatasi kekurangan tenaga kerja muda.

Dunia baru saja terguncang saat Tiongkok menggempur mobil/motor listrik. Lebih seratus pabrik mobil di sana berlomba sengit memroduksi mobil listrik berteknologi tinggi, dan yang ajaib berharga murah. Para kampiun otomotif seperti Jepang, Korea Selatan, Jerman, Amerika bagai dihantam gempa besar.

Tiba-tiba saja mobil Toyota, BMW, Mercedes terkesan kuno, obsolence, dan mahal. Lompatan pabrik BYD (Build Your Dream) yang diikuti VinFast (Vietnam) dan seratus pabrik lainnya, mendobrak kemapanan industri mobil konvensional.

Kini Tiongkok menggebrak melalui robot humanoid yang dirancang menggantikan berbagai tugas rutin manusia. Ia akan mengubah lanskap tenaga kerja di banyak sektor, mengancam pengangguran massal dan mendistorsi upah kerja.

Layanan robot Tiongkok sudah pada tahap komersialisasi massal, diterapkan langsung di pabrik, layanan umum, dan rumah tangga berbasis AI. Robot humanoid sudah digunakan di pabrik (BYD), pengantaran makanan otomatis, SPBU mandiri, taksi, hingga perawatan lansia.

Awal 2026 ini toko robot humanoid 4S pertama di dunia dibuka di Beijing. Robot humanoid seperti Walker S2 digunakan secara komersial, bahkan ada "mal robot" di Chengdu.

Robot pengantar makanan terlihat di area publik, perkantoran, dan bandara. Di pusat perawatan lansia, robot bertugas memantau kesehatan dan menemani. Robot juga dilatih melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyetrika dan membuat kopi.

Pelabuhan Tianjin menjadi pelabuhan cerdas nol karbon pertama yang beroperasi penuh menggunakan AI dan teknologi 5G. Perusahaan robotika Tiongkok seperti Unitree, Galbot, Noetix, MagicLab, kini mendominasi pasar global, bahkan dilaporkan menguasai 90 persen pasar robot humanoid.

Sebanyak 46 perusahaan robotika terkemuka telah memamerkan teknologi mereka, dan lebih dari 80% menerima pesanan luar negeri. Di Eropa, layanan taksi robot otonom dijadwalkan beroperasi di London tahun ini. Fokus utama ekspor dan uji coba layanan robot Tiongkok saat ini berada di Eropa, Amerika Serikat, dan Asia, termasuk Indonesia.

Toko tanpa Kasir

CNN Indonesia melaporkan, ibu kota Wuhan, Hubei menarik perhatian karena menampilkan robot-robot bekerja di sebuah toko. Toko bernama 7S yang dikelola Pusat Inovasi Robot Humanoid Hubei menampilkan robot yang melakukan berbagai tugas, mulai kasir dan perawatan hingga perakitan industri dan hiburan.

Model toko "7S" ini dikembangkan dari konsep tradisional "4S" otomotif yang merujuk pada penjualan, layanan, suku cadang, dan survei. Ditambahkan lagi fungsi solusi, pameran, dan pendidikan untuk menciptakan ekosistem terintegrasi bagi industri dan konsumen.

Kantor berita Xinhua menambahkan, Wuhan sedang berkembang menjadi pusat industri robot humanoid Tiongkok dengan enam produsen mesin, lebih dari 80 perusahaan inti, dan hampir 1.000 perusahaan terkait. Kota ini juga mendorong penggunaan robot humanoid di sektor otomotif, logistik, farmasi, dan peralatan rumah tangga pintar.

Wuhan menyiapkan dana investasi besar untuk mendukung pengembangan perusahaan dan membangun kluster industri robot humanoid pada 2027. Dengan basis industri yang kuat dan sumber daya manusia yang melimpah, Wuhan memiliki keunggulan unik dalam mengembangkan industri robot humanoid.

Berbagai gerai di Wuhan merupakan bagian dari gelombang eksperimen ritel bertema robot yang sedang berlangsung di seluruh negeri. Toko robot "6S" yang diklaim sebagai yang pertama di dunia dibuka di Shenzhen, pusat teknologi selatan Tiongkok.

Dibangun pula ‘Robot Mall Beijing’, sebuah arena pameran robot seluas 4.000 meter persegi, menampilkan lebih 50 produk mencakup robotika medis, industri, dan pendamping. Lembaga think tank memprediksi pada 2045, Tiongkok akan memiliki lebih dari 100 juta robot humanoid yang dioperasikan, menciptakan nilai pasar total sekitar 10 triliun yuan.

Kalahkan Amerika

Data International Federation of Robotics menyebut Tiongkok berhasil mengalahkan sejumlah negara maju seperti Jepang, Jerman, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Pencapaian itu tidak lepas dari kebijakan strategis pemerintah Tiongkok dalam mendorong adopsi automasi industri, melalui investasi besar dalam teknologi manufaktur dan penguatan infrastruktur digital. Ekspansi ini mendapat dukungan swasta.

Sementara itu pertumbuhan pasar ‘kecerdasan berwujud’ (embodied intelligence), yakni kombinasi AI dan robotika, diproyeksikan meningkat tajam dari 5,3 miliar yuan pada 2024 menjadi 103,8 miliar yuan pada 2030. Hasilnya membuat negeri tirai bambu itu menguasai pangsa pasar global di sejumlah bidang. Tiongkok konsisten membangun fondasi teknologi yang kokoh, bahkan memiliki lebih 40 taman industri robotika, berikut sekolah-sekolah robot yang mendidik robot dalam tugas-tugas praktis.

Robot juga ditugaskan di stasiun kereta api Zhengzhou Timur, untuk memindai wajah penumpang dan menjawab pertanyaan umum. Robot jelas sudah menggantikan pekerja manusia di industri ritel. Pelanggan di cabang KFC Hangzhou dapat membayar pesanan hanya dengan menggunakan wajah. Banyak toko beroperasi tanpa kasir.

Di banyak restoran robot juga dipakai memikat pelanggan dengan pengalaman baru, serta menghemat biaya staf. Namun pelayan robot bisa sangat lambat bagi pelanggan yang telanjur lapar. Sebagian besar bergerak di sepanjang jalur yang telah diprogram sebelumnya. Ini terbukti lebih merepotkan daripada bermanfaat .

Jeffrey Ding, peneliti dari Universitas Oxford, mencemaskan tentang AI dan robotika yang dapat memperburuk kesenjangan sosial, distorsi kekayaan semakin lebar. Banyak konsumen Tiongkok merasa perkembangan AI dapat menimbulkan ancaman serius terhadap privasi mereka.

Cepat atau lambat, serangan serdadu robot humanoid akan merangsek ke Indonesia juga. Perusahaan ritel paling rawan diserang, juga pekerja kantor dan lainnya di banyak bidang. Kementerian Tenaga Kerja dan DPR RI layak segera bersiaga, menyiapkan regulasi baru yang kompatibel dan relevan menghadapi robot.

Sebab, lambatnya antisipasi Pemerintah bisa menimbulkan gegar sosial lebih hebat daripada akibat perang nun jauh di Teluk Persia.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....