Mata-Mata Siapa Saja yang Mengawasi MBG?

  • 22 Feb 2026 23:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

SETIAP dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), setidaknya dijaga oleh 50 petugas terlatih. Pengawasan ini semakin berlapis dengan kehadiran 3.000 pasang mata bening para pelajar, 6.000 orang tua siswa, ratusan guru, hingga masyarakat sekitar.

Kekuatan pengawasan ini semakin lengkap dengan keterlibatan indra tajam para wartawan, serta jutaan mata netizen yang memberikan kritik dan saran. Hal ini belum termasuk pengawasan ketat dari auditor lembaga-lembaga negara.

Saat ini telah berdiri 23.222 SPPG di seluruh Indonesia, kalikan saja jumlah pengawasnya. Karena itu kita akan melihat salah satu barisan pencegahan korupsi terbesar dalam sejarah kebijakan publik kita.

Jutaan mata memelototi tanpa henti dan pancaindra memantau serta mengawasi dan melaporkan. Inilah sistem pengawasan semesta untuk peradaban baru Indonesia.

Kita menyadari, tidak semua orang mampu mendeteksi korupsi pada perjalanan dinas, pembelian ATK, dan pembangunan jembatan. Namun dalam MBG, hampir semua orang bisa mendeteksi kualitasnya.

Jutaan mata mengawasi setiap porsi yang disajikan. Mata bening tidak bisa dibuat hening dan ini harus selalu diingat oleh siapa pun yang mengelola SPPG.

Tidak ada ruang bagi kelalaian dalam menyajikan menu yang sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG) bagi ibu hamil, balita, pelajar, dan santri kita. Mengapa pengawasan super ketat adalah harga mati?

Karena meskipun sudah 80 tahun Indonesia merdeka, data gizi kita darurat. Data terungkap 96% lebih penduduk Indonesia (termasuk anak-anak) kurang mengonsumsi sayur dan buah, 66% pola makan anak Indonesia sangat buruk, 65% tidak sarapan ke sekolah, 32% anemia, dan 19% stunting.

Semua negara sedang berlomba-lomba menyelamatkan SDM mereka. Negara lain butuh puluhan tahun untuk membangun sistem MBG.

Saat ini, 107 negara sudah memiliki kebijakan nasional terkait pemberian makan di sekolah. Jumlah negara ini meningkat hampir dua kali lipat sejak tahun 2020.

Namun, di tengah perjuangan besar ini, kita harus berhati-hati terhadap disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK). Termasuk foto dan video palsu buatan kecerdasan buatan (AI) yang telah terbukti menyebabkan kerusuhan dan korban jiwa di banyak negara.

MBG tidak memotong anggaran pendidikan. MBG terbukti mencegah anak putus sekolah, meningkatkan kehadiran, mengamankan proses pendidikan, serta meningkatkan gizi dan fokus siswa dalam belajar.

MBG juga tidak memotong hak saudara-saudara kita yang berada dalam kemiskinan. Anggaran pendidikan kita tetap 20 persen, sesuai konstitusi!

Bahkan secara jumlah, anggaran 2026 ini adalah yang terbesar dalam sejarah. Penelitian membuktikan bahwa setiap uang yang dikeluarkan negara untuk gizi pelajarnya, hasilnya akan balik berlipat-lipat kepada pelajar itu, keluarganya, dan negaranya.

Untuk mencegah penyimpangan dan melawan korupsi, pemerintah membuka pintu lebar-lebar bagi partisipasi masyarakat di kanal resmi. Itu bisa dilihat dan kontak langsung melalui Call Center 127 (SAGI/Sentra Aduan Gizi Indonesia) atau WhatsApp Hotline: 0811-1000-8008

Itulah mengapa pada tahun 2025 dan 2026 ini, kita bekerja keras membangun fondasi MBG, di mana kritik, saran dan laporan dari seluruh masyarakat akan memperkokoh fondasi tersebut. "Kritik itu menyelamatkan kita, kita semua akan mati, kita tidak tahu siapa yang duluan mati. Mari berbuat yang terbaik untuk rakyat,” kata Presiden Prabowo.

Terima kasih. Salam Indonesia bergerak maju.

Oleh : Hariqo Wibawa Satria

Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI

Rekomendasi Berita