Hindari Memberi Hadiah Ini saat Perayaan Imlek
- 11 Feb 2026 11:47 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Perayaan Imlek identik dengan kebersamaan dan tradisi saling bertukar hadiah. Namun, pemilihan hadiah perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman secara budaya arti di baliknya.
Dalam tradisi Tionghoa, beberapa jenis barang memiliki makna simbolis yang dianggap kurang baik. Karena itu, memahami arti di balik hadiah menjadi penting agar suasana Imlek tetap hangat dan penuh keberuntungan.
Merujuk dari China Highlights, terdapat sejumlah hadiah yang sebaiknya tidak diberikan saat Imlek. Berikut beberapa di antaranya:
Jam Dinding atau Jam Tangan
Memberikan jam saat Imlek dinilai kurang tepat karena dalam bahasa Mandarin, frasa 'memberi jam' memiliki bunyi yang menyerupai ungkapan menghadiri pemakaman. Kemiripan pelafalan ini membuat jam dikaitkan dengan makna yang kurang baik.
Jam juga dimaknai sebagai simbol waktu yang terus berjalan atau waktu yang semakin habis. Makna tersebut dianggap kurang nyaman, terutama jika diberikan kepada orang yang lebih tua.
Sepatu
Sepatu termasuk barang yang tidak dianjurkan sebagai hadiah Imlek. Dalam bahasa Mandarin, kata sepatu memiliki pelafalan yang menyerupai kata bermakna kurang baik, seperti 'sial' atau 'jahat'.
Selain itu, sepatu juga merupakan benda yang dikenakan di kaki dan diinjak-injak. Secara simbolis, hal ini dapat dianggap kurang sopan dan menyinggung penerima.
Cermin
Dalam sejumlah budaya Asia, cermin dipercaya dapat menarik energi negatif. Kepercayaan ini membuat cermin kerap dikaitkan dengan hal yang kurang baik.
Selain itu, cermin yang mudah pecah dan memecahkannya dianggap sebagai pertanda buruk. Karena itu, cermin tidak dianjurkan sebagai hadiah Imlek dan sebaiknya diganti dengan pilihan yang lebih membawa keberuntungan.
Hadiah Berjumlah Empat
Memberi hadiah dengan jumlah empat atau angka yang mengandung unsur empat, seperti 4, 14, atau 24, dipercaya membawa simbol negatif. Kepercayaan ini cukup kuat, hingga beberapa gedung tidak mencantumkan angka empat pada penomoran lantai maupun kamar.
Dalam tradisi Tionghoa angka empat termasuk angka yang dihindari karena pelafalannya menyerupai kata yang berarti 'kematian'. Kemiripan bunyi inilah yang membuat angka tersebut kerap dikaitkan dengan makna kurang baik.
Bunga Potong
Dalam tradisi, bunga potong umumnya identik dengan suasana duka, terutama bunga krisan kuning dan bunga berwarna putih. Warna putih dalam budaya Tionghoa juga sering dikaitkan dengan pemakaman.
Makna simbolis tersebut membuat bunga potong kurang tepat dijadikan hadiah saat Imlek. Agar perayaan tetap menghadirkan nuansa sukacita dan keberuntungan, pemberian bunga potong sebaiknya dihindari.
Pemilihan hadiah yang tepat menjadi bentuk penghormatan terhadap nilai dan tradisi yang dijunjung dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Dengan memahami makna simbolis setiap pemberian, masyarakat dapat menjaga suasana perayaan tetap harmonis dan penuh keberuntungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....