Liminal Space dan Rasa Tidak Nyaman yang Sunyi
- 10 Feb 2026 12:54 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Fenomena liminal space semakin sering dibahas dalam budaya visual dan psikologi populer, terutama di ruang digital. Konsep ini banyak dikaji dalam diskursus seni, arsitektur, dan perilaku manusia yang dilansir dari berbagai sumber, karena kemampuannya memicu rasa tidak nyaman tanpa ancaman yang jelas. Liminal space merujuk pada ruang transisi seperti lorong kosong, ruang tunggu tanpa aktivitas, atau bangunan publik yang seharusnya ramai namun terlihat sepi. Ketidakpastian fungsi dan waktu menjadi sumber utama keganjilan yang dirasakan.
Secara psikologis, liminal space bekerja pada ketidaksesuaian ekspektasi. Otak manusia terbiasa mengaitkan tempat tertentu dengan aktivitas dan kehadiran orang lain. Ketika ruang tersebut hadir tanpa konteks yang jelas, muncul perasaan asing dan terputus. Rasa tidak nyaman ini bukan berasal dari bahaya langsung, melainkan dari ketiadaan makna yang biasanya melekat pada ruang tersebut.
Di era internet, liminal space berkembang menjadi fenomena visual yang tersebar luas. Foto-foto ruang kosong dengan pencahayaan datar dan komposisi statis sering viral karena memicu emosi yang sulit dijelaskan. Banyak orang mengaitkannya dengan nostalgia, mimpi, atau perasaan terjebak di antara masa lalu dan masa depan. Ruang-ruang ini seolah menangkap momen ketika waktu berhenti bergerak.
Liminal space juga mencerminkan kondisi sosial modern. Kehidupan yang serba cepat dan penuh distraksi membuat manusia jarang berada dalam fase transisi secara sadar. Ketika ruang-ruang kosong itu muncul di hadapan kita, ada jeda yang memaksa refleksi. Perasaan hampa dan sunyi yang muncul sering kali berkaitan dengan kondisi mental seperti kecemasan dan kesepian.
Menurut opini penulis, popularitas liminal space bukan sekadar tren visual, melainkan respons emosional terhadap kehidupan modern yang penuh tekanan. Ruang-ruang ini menghadirkan ketenangan yang tidak nyaman, sekaligus jujur. Liminal space mengingatkan bahwa manusia membutuhkan jeda, bahkan dalam ketidakpastian. Di situlah rasa gelisah dan makna sering bertemu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....