Pers, Paradoks di Mata Generasi Z
- 08 Feb 2026 10:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
BAGI generasi muda yang lahir di tengah riuh rendah algoritma, pers bukan lagi tumpukan kertas koran atau siaran berita radio, atau tv yang kaku pragmatis. Dalam imajinasi Gen Z dan milenial, pers adalah paradoks: dinanti sebagai penjaga kebenaran, tetapi juga kerap dicurigai sebagai pilar usang.
Di era digital, ‘berita’ telah bermutasi menjadi fragmen video pendek di TikTok atau materi utas di X. Bagi anak muda, informasi yang valid adalah yang hadir secara waktu nyata.
Namun di tengah banjir hoaks yang merajalela, imajinasi mereka terhadap pers profesional tetap berpijak pada satu kebutuhan fundamental: verifikasi. Pers dibayangkan sebagai filter yang menyaring kebisingan media sosial, menyampaikan konteks di balik teks, dan kedalaman di balik tren sesaat.
Sekarang ini tantangan terbesar pers adalah memenangkan kembali kepercayaan tersebut. Sebab, generasi digital cenderung kritis terhadap bias kepentingan.
Mereka memimpikan pers yang tidak hanya berfungsi sebagai pengawas kekuasaan (watchdog). Lebih dari itu sebagai ruang inklusif yang menyuarakan isu-isu keberlanjutan, hak asasi, dan keadilan sosial alias suara bagi ‘voice of the voiceless’.
Jadi, dalam benak generasi muda, pers masa depan bukanlah institusi yang mendikte opini, melainkan mitra dialog yang adaptif. Pers yang ideal adalah yang mampu memadukan etika jurnalistik yang ketat dengan cara bertutur yang dinamis.
Jika pers gagal bertransformasi, bisa jadi hanya akan menjadi artefak dalam sejarah digital mereka. Namun jika berhasil, pers akan tetap menjadi pemandu arah moral di pusaran samudra informasi yang menyesatkan.

Penulis: Aries Widojoko (Praktisi Penyiaran)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....