‘From Banyumas to Bantargebang’
- 12 Jan 2026 09:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
SEBUAH sengkarut lama yang terus berulang dan kian akut adalah sampah kota. Tidak ada wilayah permukiman yang terbebas darinya. Semakin bertambah manusia bermukim, kian runyam sampahnya. Kota Jakarta, Bandung, Tangerang, dan Bali hanyalah contoh betapa manajemen sampah masih begitu konvensional, dibandingkan gemerlap kotanya.
Pasar Kramatjati membangun gunung sampah setinggi 6 meter. Bantargebang lebih tinggi lagi. Gunung buatan manusia ini sama sekali tak indah. Belepotan, berantakan, menebar bau busuk, dan mengalirkan lindi tercemar. Di musim hujan cairan lindi menyebar merendam permukiman. Di musim kemarau, angin membagikan bau tak sedap ke radius jauh.
Sepanjang tahun 2025 volume sampah harian Jakarta mencapai 8.000 ton yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Sampah plastik menyumbang porsi 23persen dari total sampah Jakarta.
Secara nasional, produksi sampah plastik itu mencapai 12,4 juta ton per tahun pada 2025. Total timbunan sampah tahunan sekitar 3,17 juta ton. Sementara lahan Bantargebang sudah hampir penuh, tinggal sekitar 10 juta ton dari total kapasitas 59 juta ton. Semakin tinggi gunungan, sering terjadi longsor.
Pulau Dewata yang dikenal sebagai surga wisata, pun tak luput dari bencana sampah. Banjir yang melanda Bali 10 September mencerminkan rapuhnya tata kelola lingkungan. Diguyur hujan 245 milimeter hanya dalam satu hari, dibekap tumpukan sampah yang menutup aliran sungai, banjir besar merendam kawasan padat penduduk. Bencana itu menelan 17 korban jiwa.
“Kerugian sosial dan ekologis ini menegaskan bahwa sampah bukan lagi sekadar isu kebersihan, melainkan ancaman nyata bagi daya dukung lingkungan dan keselamatan manusia,” kata Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, pada suatu waktu.
Di wilayah Bandung Raya, bulan Ramadan dan Idulfitri, volume sampah meningkat signifikan akibat penggunaan kemasan sekali pakai, serta aktivitas belanja secara daring. Total timbulan sampah sebanyak 25.333 ton per hari, didominasi sisa makanan 40,60 persen, plastik 19,6 persen, dan kertas 13 persen.
Inspirasi Banyumas
Di balik masalah sampah kita tengok Banyumas di Jawa Tengah dan Ciamis (Jawa Barat) sebagai contoh pengelolaan sampah terbaik di Indonesia. Banyumas terkenal dengan sistem Zero Waste to Landfill yang diakui ASEAN dan Ciamis memiliki tingkat daur ulang tertinggi nasional berkat filosofi 3R (Runtah, Rongsok, Rupiah) yang melibatkan masyarakat aktif melalui bank sampah dan maggot. Beberapa daerah lain seperti Kota Banda Aceh, Kota Kediri, dan Kabupaten Pelalawan juga masuk 10 besar nasional.
Banyumas mengelola sampahnya terintegrasi dari hulu ke hilir. Sampah organik menjadi kompos/maggot dan anorganik menjadi RDF (bahan bakar) serta paving block. Cara ini menjadi percontohan di Asia Tenggara, menerapkan Zero Waste to Landfill, dan diapresiasi oleh program ASEAN. Kunci suksesnya keterlibatan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di 29 TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) dan penciptaan nilai ekonomi dari sampah.
Ciamis (Jawa Barat) Inovasi: Menggunakan filosofi 3R (Runtah, Rongsok, Rupiah) dengan pengelolaan sampah organik (maggot dan kompos) dan anorganik (bank sampah) yang menghasilkan nilai ekonomis. Prestasi: Tingkat daur ulang tertinggi di Indonesia (lebih dari 56persen), menurut data KLHK. Kunci suksesnya partisipasi masyarakat sebagai pilar utama melalui bank sampah, didukung infrastruktur pemerintah seperti rumah maggot dan TPS 3R.
Sedangkan daerah lain yang juga berprestasi adalah Banda Aceh: Kota terbaik pengelolaan sampah (2020), dengan sistem WCP dan pengelolaan sampah di TPS 3R. Kota Kediri dan Mojokerto (Jawa Timur): Masuk 10 besar nasional. Kabupaten Dairi (Sumatra Utara) dan Pelalawan (Riau) juga masuk 10 besar.
TPST Kertamukti (Bekasi) pun mendapat apresiasi sebagai TPST terbaik karena efisien dan hasil olahan RDF. Secara umum, kabupaten/kota ini berhasil mengintegrasikan partisipasi masyarakat, pemilahan sampah dari sumbernya, serta inovasi teknologi pengolahan (maggot, kompos, RDF) untuk mengurangi ketergantungan pada TPA.
Inovasi Ciamis
Kabupaten Ciamis meraih sertifikat pengakuan kategori Clean Land untuk kota kecil. Ciamis berhasil menurunkan sampah ke TPA dari 45 truk per hari pada 2019 menjadi hanya 9 truk per hari di 2024.
Pemdanya mendorong 298 unit Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recylce (TPS3R) dan bank sampah, termasuk bank sampah induk berbasis masyarakat. Program inovatif lainnya “Sedekah Sampah”, pelarangan plastik kurban, hingga insentif sepeda motor bagi penabung sampah terbaik. Gas metana diubah menjadi energi di TPA Banjaranyar dan Ciminyak.
Program Environmentally Sustainable Cities (ESC) diberikan kepada kota dan kabupaten di ASEAN yang berhasil mewujudkan udara bersih, air bersih, lahan bersih, keragaman hayati perkotaan, ruang terbuka hijau, dan penerapan ekonomi sirkular. Lima daerah di Indonesia menerima penghargaan ini, yaitu Kabupaten Banyumas dan Ciamis, Kota Malang, dan Bandung.
Kota Malang meraih kategori udara bersih karena rutin menguji emisi kendaraan, tanam 518 pohon, serta menurunkan konsentrasi polutan hingga memenuhi standar internasional yaitu 88,36, positif bagi kesehatan, produktivitas, dan kualitas pendidikan.
Problem ini sampai ke Presiden Prabowo. Terbitlah Perpres no 109/2025 yang mengatur penanganan sampah perkotaan menjadi Energi Terbarukan berbasis Teknologi Ramah Lingkungan (PSEL).
Upaya ini bertujuan mengatasi darurat sampah dengan mengubah sampah menjadi energi (listrik/bioenergi) secara terintegrasi, mempercepat pembangunan fasilitas PSEL, memberikan kepastian investasi (tarif listrik tetap USD0.20/kWh), serta mewajibkan pemerintah daerah menyiapkan lahan dan pasokan sampah.
PLN wajib membeli listrik dari PSEL dengan harga tetap USD0.20/kWh selama 30 tahun. Pemda wajib menyediakan lahan minimal 5 hektar dan pasokan sampah minimal 1.000 ton/hari, serta menyusun perda retribusi kebersihan. Diawali di DKI Jakarta, daerah lain akan diatur kemudian.
Wahai para pemimpin setiap daerah bergegaslah, sebelum diri dan wargamu ditenggelamkan gunung sampah.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....