“The Fate Of Ophelia” dan Pesan Patriarki Terselubung

  • 10 Jan 2026 13:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: “Ku kira ini lagu, ternyata ini kisahku.” Celoteh tongkrongan itu dulu hanya candaan santai dan sebatas komentar digital di media sosial saat mendengar lagu. Namun kini ungkapan itu benar-benar disetujui secara kolektif oleh para perempuan terutama untuk lagu The Fate of Ophelia karya Taylor Swift.

Banyak perempuan merasa relate dengan lirik lagu The Fate of Ophelia karena lagu ini seolah mencerminkan pengalaman yang lebih dalam, dimana perempuan hari ini boleh hidup, bekerja, dan memiliki mimpi, tetapi dalam praktiknya, ruang untuk menentukan hidupnya sendiri masih kerap dibatasi oleh berbagai tuntutan dan ekspektasi. Dengan narasi membalikan akhir tragedi Ophelia, Taylor Swift telah membuat Kisah Ophelia menjadi sesuatu yang diinginkan perempuan yang pernah mengalami relasi yang salah. Barangkali inilah yang membuat The Fate of Ophelia, lagu terbaru Taylor Swift, begitu menarik perhatian.

Lagu ini bukan hanya mencatatkan rekor streaming dan menempati posisi #1 Billboard Hot 100 selama sembilan pekan, tetapi juga terasa relatable dan familier dengan pengalaman emosional relasi yang dialami banyak perempuan Indonesia.

Tokoh Ophelia dalam Hamlet karya William Shakespeare sejak lama dipahami sebagai simbol perempuan yang terjebak dalam struktur patriarki. Tubuh, pikiran, dan pilihannya dikendalikan oleh ayah, kekasih, serta norma sosial maskulin. Ia tidak pernah benar-benar memiliki ruang untuk menentukan kehendaknya sendiri.

Tragedinya bukan lahir dari perlawanan, melainkan dari kepatuhan. Ia hancur bukan karena melawan, tetapi karena tidak pernah diberi ruang untuk melawan.

Melalui The Fate of Ophelia, Taylor Swift seolah menawarkan akhir yang berbeda. Ophelia tidak lagi tenggelam dan mati, melainkan “diselamatkan”. Banyak ulasan media menyebut lagu ini sebagai simbol pemulihan dan keberanian untuk bertahan. Tak heran jika lagu ini cepat mendapat tempat istimewa di tangga lagu dan di hati pendengarnya.

“Ketika sebuah kisah atau pola terasa familier, otak cenderung mengenalinya sebagai rasa aman bukan lagi menimbang apakah kisah itu sehat atau tidak,” ujar seorang pengamat psikologi sosial.

Jika dipahami lebih kritis, narasi lagu ini ini tidak sepenuhnya membebaskan. Dalam Hamlet, Ophelia tidak dihancurkan oleh kekerasan fisik. Ia hancur oleh nasihat “baik”, norma moral, dan harapan sosial yang ia terima sebagai sesuatu yang wajar.

Ia hidup dalam budaya patriarki yang menuntut kepatuhan perempuan sebagai kebajikan. Tidak ada pemaksaan kasar, hanya argumen moral yang dibungkus kasih sayang. Justru di situlah patriarki bekerja paling efektif.

Lirik “The eldest daughter of a nobleman” dalam The Fate of Ophelia menegaskan posisi serupa. Ophelia digambarkan sebagai perempuan yang dibesarkan untuk menjaga kehormatan, patuh pada otoritas, dan menomorduakan keinginannya sendiri. Identitasnya dibentuk oleh harapan orang lain, bukan oleh kehendaknya.

Dalam konteks Indonesia, narasi ini terasa akrab. Banyak anak perempuan tumbuh dengan pola asuh dan pesan-pesan yang terdengar wajar. Ungkapan seperti “anak perempuan harus nurut”, “perempuan jangan keras kepala, nanti susah jodoh”, “istri anu taat mah ganjaranana surga”, “ridho Allah tergantung ridho suami” kerap didengar dalam obrolan lintas generasi di masyarakat.

Pesan tersebut jarang dipertanyakan karena dibungkus sebagai nasihat “baik”. Kepatuhan tidak dipaksakan, tetapi diyakini sebagai bentuk kebaikan, cinta, keimanan, kewajaran, dan pilihan terbaik.

Hal serupa terjadi pada lirik lagu ini, kita tidak banyak mempertanyakan tentang pengorbanan bentuk baru dilakukan Ophelia dalam karya Taylor Swift karena kita merasa familier dengan konsep pengorbanan dan kepatuhan adalah bentuk cinta. “Mekanisme ini merupakan hegemoni, dimana kekuasaan yang bekerja melalui persetujuan, bukan paksaan,” kata Gramsci.

Perempuan menerima struktur yang membatasi dirinya karena dianggap sebagai kebaikan, cinta, atau kewajaran. Hal ini tergambar jelas dalam lirik “You wrap around me like a chain, a crown, a vine.” Rantai melambangkan keterikatan, mahkota melambangkan legitimasi, dan sulur tanaman melambangkan ketergantungan yang tumbuh perlahan.

Relasi ini terasa memuliakan sekaligus membelenggu. Cinta hadir bukan sebagai kekerasan, melainkan sebagai ikatan emosional yang sulit dilepaskan.

Tak sedikit perempuan yang bertahan dalam relasi seperti ini karena pola tersebut terasa familier. Sistem emosional otak menyimpan pengalaman masa kecil sebagai rujukan rasa aman, bukan kesehatan relasi. “Aku tahu dia posesif, tapi mungkin itu cara dia nunjukin sayangnya,” ujar Nelly (28), bukan nama sebenarnya, yang mengaku terjebak dalam toxic relationship

Ketika perempuan dibesarkan dengan keyakinan bahwa larangan itu bentuk cinta, kepatuhan adalah kodrat, batas antara cinta dan kontrol diri menjadi kabur. Sikap posesif atau manipulatif kerap tidak dikenali sebagai tanda bahaya, melainkan sebagai bentuk perhatian.

Dalam lirik “Pledge allegiance to your hands” dan “’Cause now, you’re mine” menunjukkan penyerahan diri dan loyalitas penuh. Kebahagiaan Ophelia kini bergantung pada relasi romantik.

Inilah yang oleh Gramsci disebut sebagai persetujuan hegemonik. Ketertundukan diterima secara sukarela karena dibungkus rasa syukur dan cinta.

Di Indonesia, pola ini diperkuat oleh tafsir nilai agama yang kerap melenggangkan patriarki masuk. Ungkapan seperti “istri taat balasannya surga” atau “melayani suami adalah ibadah” menempatkan pengorbanan perempuan sebagai standar moral. Cinta, iman, dan kepatuhan melebur, sementara batas diri perempuan makin kabur.

Ophelia versi Taylor Swift memang tidak mati. Ia diselamatkan dan diberi ilusi “harapan” keselamatan baru. Namun, jika dilihat lebih jauh, takdirnya tidak banyak berubah.

Ia tetap tidak memiliki ruang untuk benar-benar bersuara atas namanya sendiri dan bangkit oleh kehendaknya sendiri. Sehingga kehancuran Ophelia dipersepsikan seolah-olah berasal dari ketidakmampuannya sendiri untuk bangkit, menyembuhkan luka, dan berdiri tanpa bergantung pada figur penyelamat yang hampir selalu dilekatkan pada laki-laki.

Lirik “You dug me out of my grave / And saved my heart from the fate of Ophelia” menunjukan figur “You” hadir sebagai penyelamat. Namun, penyelamatan ini tidak menghancurkan struktur yang melukai Ophelia. Ia hanya memindahkannya ke bentuk baru.

Dalam lagu ini figure “You” ditempatkan sebagai hero yang memiliki otoritas moral dan naratif, sementara perempuan direduksi menjadi subjek pasif yang menunggu diselamatkan. Ketika figur penyelamat itu absen atau gagal, tragedi dianggap sebagai takdir yang tak terhindarkan.

Dengan demikian, kisah Ophelia modern tanpa disadari reartikulasi hegemoni patriarkal yang mana tidak hanya melalui tindakan, tetapi melalui narasi yang terus-menerus menormalisasi kuasa laki-laki sebagai pusat makna dan keselamatan.

Patriarki hari ini tidak selalu hadir sebagai larangan atau penjara. Ia hadir dalam narasi cinta, perlindungan, dan pengorbanan yang dinormalisasi. Ophelia tidak lagi tenggelam, tetapi juga belum sepenuhnya merdeka.

Ia boleh hidup, asal patuh. Ia boleh dicintai, asal rela menghapus sebagian dirinya, menyesuaikan dengan keinginan pasangannya.

Melalui The Fate of Ophelia, kita disadarkan bahwa “diselamatkan” dari tragedi tidak selalu berarti membebaskan. Selama suara perempuan masih diredam, dan keselamatan masih bergantung pada pihak lain, Ophelia dalam berbagai wajah akan terus hidup di sekitar kita.

Dalam kacamata hegemoni Gramsci, The Fate of Ophelia dapat dibaca sebagai refleksi tajam tentang bagaimana patriarki bertahan dengan cara yang semakin halus.

Penulis: Salbia Salsabila Mulki

Magister Universitas Bakrie


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....