Kebangkitan Radio saat Gen Z Lelah dengan Algoritma
- 29 Des 2025 18:19 WIB
- Pusat Pemberitaan
“RADIO, memangnya masih ada yang dengar dan efektif?" Komentar itu sering terdengar di negara ini.
Eksistensi radio di Indonesia kerap dipandang berada dalam siklus yang terjepit di antara disrupsi teknologi dan perubahan perilaku masyarakat.
Banyak anggapan dari kalangan awam apatis—bahkan antidetail—bahwa radio akan punah, tergilas algoritma media sosial dan platform streaming. Namun uniknya ada beberapa platform (Spotify, YouTube Music, dan lain-lain yang membuat menu dengan nama "RADIO”, padahal isinya sekadar daftar lagu yang ‘ready to play’ atau costum. Ini bisa membuat persepsi atau pengertian tentang media radio yang sebenarnya jadi 'kacau’.
Dilihat dari fenomena global, pandangan radio sudah tidak seksi tampak terlalu sempit dan mengabaikan nilai fundamental dari media audio. Di negara-negara maju, frekuensi FM dan bahkan AM terbukti tetap tangguh. Contohnya di Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan banyak negara di Asia.
Mungkin spontan muncul komentar, “Ah, yang suka pasti sudah tua-tua.” Benarkah begitu?
Mari kita cek dengan fakta menarik bahwa Generasi Z di berbagai negara tadi justru mulai kembali melirik radio. Lirikan itu sebagai pelarian dari kejenuhan media sosial atau ‘social media fatigue’.
Analisisnya, karena media radio menawarkan kurasi manusia yang autentik, sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya digantikan mesin (kecuali Anda memilih ‘mengabdi’ pada mesin/AI).
Di Indonesia, praktisi radio saat ini sebenarnya sedang berada dalam fase transisi, bukan eliminasi. Kekuatan radio terletak pada sifatnya yang lokal, personal, dan intim.
Ketika masyarakat jenuh dengan visual yang menuntut perhatian penuh, radio hadir sebagai pendamping setia tanpa beban digital yang melelahkan.
Berdasarkan data terbaru 2025, fenomena Gen Z yang kembali mendengarkan radio lewat AM/FM atau analog revival memang nyata. Itu terjadi di beberapa negara dengan alasan yang cukup unik, misalnya:
- Keinginan untuk lepas dari algoritma yang hanya dikendalikan robot atau Artificial Intelegent (AI).
- Kebutuhan akan koneksi manusia yang nyata.
- Keinginan diam, tenang, dan mendengarkan untuk dapat ide inspirasi dari pikiran sendiri.
Jadi, selama praktisi radio di Indonesia mampu menjaga kualitas konten dan koneksi emosional dengan pendengarnya, radio tidak akan hilang. Radio hanya berganti baju, menyesuaikan diri dengan perangkat baru, tetapi tetap membawa jiwa yang sama, yaitu suara yang menghubungkan manusia.
Tapi bagaimana dengan regulasi yang mengatur tentang media radio di Indonesia? Mari kita menunggu dengan optimistis dan realistis karena, “Radio, someone still love you,” begitu kata Queen.

Penulis: Aries Widojoko, S.Kom. M.M. CPM (Praktisi Radio)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....