Bagaimana Media dan Ideologi Membentuk Solidaritas Ferry Irwandi

  • 27 Des 2025 21:47 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Fenomena penggalangan dana “10 Miliar untuk Sumatera” oleh Ferry Irwandi menunjukkan bahwa solidaritas di era digital tidak lagi hadir begitu saja sebagai tindakan kemanusiaan spontan. Aksi kepedulian hari ini banyak dipengaruhi oleh kerja media sosial, budaya populer, serta cara kita membangun makna tentang empati dan kebaikan di ruang digital.

Di media sosial, rasa iba publik tidak hanya lahir dari kondisi korban, tetapi juga dari cara cerita disampaikan: melalui video, visual yang menyentuh, figur publik yang dekat dengan penonton, dan narasi yang membuat orang merasa terlibat secara emosional. Karena itu, fenomena ini dapat dibaca bukan hanya sebagai aksi sosial, tetapi juga sebagai proses di mana publik dipanggil untuk melihat dirinya sebagai “orang yang peduli” dalam ekosistem budaya populer.

Marshall McLuhan pernah mengatakan, “The medium is the message.” Artinya, media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mempengaruhi cara kita memahami kenyataan. Dalam kasus Ferry Irwandi, publik tidak berhadapan dengan data angka, laporan resmi, atau berita birokratis.

Yang dihadirkan kepada mereka adalah video lapangan, suara korban, ekspresi emosional, dan sosok penolong yang hadir langsung di layar. Empati pun muncul bukan hanya karena apa yang terjadi, tetapi karena bagaimana peristiwa itu ditampilkan.

Realitas sosial terasa dekat dan personal, padahal sebenarnya ia telah dipilih dan disusun melalui cara kerja media. Di sinilah pemikiran Louis Althusser tentang ideologi menjadi relevan.

Menurut Althusser, ideologi tidak bekerja dengan paksaan dari luar, melainkan hadir dalam kehidupan sehari-hari dan membentuk cara kita berpikir, merasa, dan bertindak. Ideologi bekerja melalui proses yang ia sebut interpelasi yaitu ketika individu “dipanggil” untuk mengenali dirinya sebagai subjek tertentu, lalu secara sukarela menempatkan diri dalam posisi itu.

Ketika orang menonton video Ferry Irwandi, membagikan unggahan, ikut berdonasi, atau menulis komentar dukungan, mereka tidak sekadar menjadi penonton pasif. Mereka seolah sedang dipanggil untuk menjadi “warga yang peduli” atau “bagian dari komunitas kemanusiaan.”

Mereka merasa tindakan itu lahir dari hati mereka sendiri, padahal nilai-nilai tentang kepedulian tersebut sebagian telah lebih dulu dibentuk oleh media, figur publik, dan budaya populer yang memberi makna tertentu pada tindakan solidaritas. Dalam proses ini, individu bukan hanya membantu korban, tetapi juga sekaligus menegaskan identitas dirinya sebagai subjek moral.

Solidaritas digital akhirnya tidak hanya menjadi praktik berbagi dan menyumbang, tetapi juga menjadi cara seseorang memaknai dirinya di ruang publik. Figur seperti Ferry Irwandi pun tidak hanya hadir sebagai relawan kemanusiaan, melainkan juga sebagai simbol penolong dalam imajinasi publik.

Narasi kepedulian dipersonalisasi: bukan lagi sekadar bencana sebagai peristiwa besar, tetapi kisah tentang seseorang yang hadir, membantu, dan menjadi jembatan empati.

Menurut Althusser, hal ini terjadi melalui apa yang ia sebut Ideological State Apparatus (ISA), yaitu perangkat ideologis seperti media, pendidikan, agama, keluarga, dan budaya populer yang mempengaruhi perilaku tanpa paksaan langsung. Media sosial menjadi salah satu alat yang sangat efektif, karena di sanalah nilai-nilai kepedulian dipertukarkan, dihayati, dan diterima bersama.

Sementara Repressive State Apparatus (RSA) seperti hukum atau aparat tidak hadir secara nyata dalam fenomena ini, sebab orang tidak dipaksa membantu mereka memilih untuk tunduk secara sukarela pada nilai solidaritas yang ditanamkan. Karena itu, solidaritas digital bergerak di wilayah yang halus.

Ia tampak sebagai tindakan bebas, tetapi kebebasan tersebut tetap berada dalam kerangka nilai dan makna yang sudah lebih dulu hidup dalam masyarakat. Orang berdonasi bukan hanya karena ingin membantu, tetapi juga karena ingin dikenali oleh diri sendiri maupun orang lain sebagai pribadi yang peduli.

Solidaritas menjadi tindakan kemanusiaan sekaligus pengalaman identitas. Namun hal ini tidak perlu dilihat secara sinis.

Justru karena bekerja melalui budaya dan narasi, solidaritas dapat menjangkau lebih banyak orang. Media membantu empati menemukan jalannya, sementara budaya populer memberi bahasa emosional agar kepedulian dapat dirasakan bersama.

Yang penting adalah memastikan bahwa solidaritas tidak berhenti sebagai simbol atau tren sesaat, tetapi tetap terhubung dengan akuntabilitas, keberlanjutan, dan tanggung jawab sosial. Pada akhirnya, fenomena Ferry Irwandi “10 Miliar untuk Sumatera” menunjukkan bahwa solidaritas hari ini adalah praktik sosial yang dimediasi oleh media dan dibentuk oleh ideologi.

McLuhan membantu kita melihat bagaimana medium membingkai empati, sementara Althusser menunjukkan bagaimana kita dipanggil dan sekaligus membentuk diri sebagai subjek yang peduli. Di antara layar, narasi, figur, dan identitas, manusia bukan hanya menyaksikan kemanusiaan, tetapi juga sedang belajar memahami kembali siapa dirinya dalam masyarakat digital.

Judul: Di Era Viral "Galang Dana 10 Miliar Untuk Sumatera": Bagaimana Media dan Ideologi Membentuk Solidaritas Ferry Irwandi

Penulis: Erica Thomas Gracemonia Lim

Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....