Revolusi Gen Vs Prestasi SEA Games
- 11 Des 2025 09:12 WIB
- Pusat Pemberitaan
BERKEKUATAN 1.021 atlet dari total 48 cabang olahraga, kita coba menegakkan asa di gelanggang SEA Games ke-33 di Thailand 2025. Naiknya anggaran dari Rp10 miliar menjadi Rp66 miliar menjadikan Indonesia hanya urutan keempat paling banyak berangkatkan atlet, setelah Thailand, Filipina, dan Malaysia.
Target minimal 80 medali emas, atau kedudukan ketiga juara umum, yang berarti tak beranjak dari prestasi terakhir SEA Games 2023 Kamboja. Kontingen Indonesia menempati peringkat ketiga di Kamboja dengan koleksi 87 medali emas, 80 perak, dan 109 perunggu. Sepak bola meraih medali emas setelah penantian panjang sejak 1991.
Mengapa hanya berani pasang target setara pencapaian di Kamboja, sementara secara historis kita pernah 10 kali meraih gelar juara umum sejak partisipasi pertamanya 1977? Prestasi sepanjang sejarah itu merupakan negara tersukses kedua dalam sejarah SEA Games, setelah Thailand, dalam hal jumlah gelar juara umum. Indonesia empat kali tuan rumah pada 1979, 1987, 1997, dan 2011 yang seluruhnya juara umum.
Mandek atau Mundur
Tak bisa dibantah prestasi kita mandek, kalau bukan malah mundur. Thailand hampir pasti akan keluar sebagai juara umum, disusul Vietnam. Alih-alih memecundangi Vietnam, kita bisa digusur Filipina atau Malaysia. Jika itu terjadi, negeri berpenduduk terbanyak ini sedang hadapi malapetaka prestasi.
Seluruh pencapaian hebat dicapai pada era politik Orde Baru. Masuk era kebebasan reformasi hingga sekarang, kecuali bulu tangkis dan angkat besi, kita menukik. Panjat tebing memang tembus emas olimpiade, tetapi ke mana prestasi tinju, atletik, panahan, senam, renang?
Thailand terbukti mampu membina atlet lebih baik. Vietnam pun di beberapa cabang, sudah menyulitkan kita. Sistem kompetisi liga sepak bola Thailand misalnya, dipuji Shin Tae-yong sebagai yang terbaik di kawasan ini.
Beberapa klub seperti BEC Tero Sasana, Muang Thong United, Buriram United, dan terutama Chonburi FC mencetak banyak pemain muda bersaing dengan pemain asing. Ada nama Teerasil Dangda produk Muang Thong United, Chanathip Songkrasin berasal dari BEC Tero, serta Theerathon Bunmathan dari Buriram United. Ketiganya tulang punggung timnas Thailand, bersinar di Liga Jepang.
Soal kompetisi domestik, Thai League 1 yang terbaik saat ini di Asia Tenggara. Ranking AFC menempatkan kompetisi antarklub Thailand di peringkat sembilan Asia. Di level amatir terdapat Thailand Amateur League, pesertanya klub dari 12 regional di Thailand. Di level usia muda, Thailand memulainya dari jenjang U-13, U-15, U-17, dan U-19.
Klub Indonesia pun meniru membangun akademinya antara lain Persib Bandung, Persija Jakarta, Arema FC, Persebaya, Bali United, Borneo FC, serta Barito Putera. Kompetisi usia muda di level klub, ada Elite Pro Academy U-16, U-18, dan U-20. Bedanya kompetisi di Thailand berjalan teratur dan tepat waktu, di Indonesia jadwal sering terganggu masalah non-olahraga.
Belajar dari Jamaika
Kita mengenal Jamaika melalui goyang musik reggae dan Bob Marley. Publik olimpiade justru akrab dengan Usain Bolt, sprinter halilintar tak terkalahkan di semua nomor pendek dan estafet. Usain Bolt, Elaine Thompson, Warren Weir, Yohan Blake, Elaine Thompson-Herah, Shelly-Ann Fraser-Pryce dan Shericka Jackson adalah sprinter kelas dunia.
The Guardian menuliskan hasil riset genetika dominasi pelari cepat Jamaika. Dikatakan gen pertama yang terkait dengan lari cepat yang kuat adalah gen enzim pengubah angiotensin, atau ACE.
Jika Anda memiliki varian tertentu dari gen ini (dikenal sebagai "alel D"), kemungkinan besar memiliki jantung yang lebih besar, yang mampu memompa darah beroksigen tinggi ke otot lebih cepat daripada rata-rata manusia. Tubuh mereka lebih baik dan sedikit lebih tinggi daripada manusia Eropa dan Jepang.
Di Jamaika, frekuensinya sedikit lebih tinggi daripada di Afrika Barat. Gen ini menghasilkan protein yang disebut alfa-aktinin-3, membantu otot menghasilkan kontraksi yang kuat dan berulang.
Keunggulan lain terletak pada tanah Jamaika. Peneliti University of the West Indies, Rachael Irving dan Vilma Charlton menemukan sejumlah pelari Olimpiade Jamaika-termasuk Usain Bolt dan Veronica Campbell-berasal dari wilayah yang mengandung deposit bijih aluminium di pulau itu. Banyak orang tua atlet Olimpiade lahir dan dibesarkan di sana.
Aluminium dalam lingkungan atau makanan dapat mengubah pembentukan protein tertentu oleh gen. Tanaman pangan Jamaika akan mengandung aluminium dalam jumlah sangat tinggi ketika ditanam di tanah yang kaya bauksit.
Kandungan ini meningkatkan perkembangan serat otot kedutan cepat pada janin ibu-ibu Jamaika. Fakta ini seakan tidak ada hubungannya dengan atletik.
Sebuah riset University of Glasgow mengkonfirmasi bahwa gen ACTN3 ditemukan di lebih dari 70 persen orang yang tinggal di Jamaika. Gen ini diketahui menghasilkan protein yang dapat meningkatkan performa untuk sprint, membantu otot fast-twitch menghasilkan kontraksi berulang yang kuat.
Hebatnya Afrika
Sejarah Jamaika juga ditandai dengan perbudakan dan gizi buruk. Stres ekstrem, panas, dingin, malnutrisi, dan polusi (termasuk asap tembakau) memicu perubahan dalam cara gen diaktifkan. Populasi di berbagai negara telah menunjukkan kondisi ini dapat menyebabkan dampak kesehatan buruk yang diturunkan dari generasi ke generasi .
Satu di antara dampak perbudakan, kata The Guardian, adalah kerentanan terhadap diabetes, hipertensi, dan masalah kardiovaskular lainnya. Sekitar 35 persen dari seluruh atlet pensiunan Jamaika menderita penyakit tersebut.
Hal serupa juga terjadi di Amerika: hampir separuh dari seluruh orang dewasa Afro-Amerika menderita penyakit kardiovaskular. New England Journal of Medicine pada 1990 menulis, seorang pria Afro-Amerika di Harlem bertahan hidup kurang dari 65 tahun, dibandingkan seorang pria di Bangladesh.
Anehnya populasi Afrika Barat tidak mengalami masalah serupa. Ada sesuatu yang berbeda pada keturunan budak.
Faktor epigenetik-perubahan yang mengaktifkan dan menonaktifkan gen-kemungkinan besar menjadi penyebabnya. Rasanya kita perlu mengejar cabang ilmu pengetahuan yang sulit tetapi penting ini, bagi kemajuan sains dan masa depan olahraga Indonesia.
Lihat Afrika terbukti beberapa negeri ‘miskin’ seperti Kenya, Ethiopia, Sudan, Zambia, unggul di nomor maraton dunia. Tim sepak bola mereka pun sulit dikalahkan timnas kita.
Riset mendalam tentang gen yang beragam manusia Sabang-Merauke, belum cukup serius. Sains kita sebatas membentuk atlet ‘sesudah’ dia lahir dan besar. Sementara Jamaika, Tiongkok, Jepang, bahkan Qatar melakukan ‘revolusi gen’, memulai risetnya sejak atau bahkan sebelum para atlet bersemi di kandungan ibu-ibu mereka.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....