Haruskah Terjajah Mobil Listrik?
- 24 Nov 2025 10:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
BABAK baru ‘penjajahan’ mobil listrik di Indonesia telah dimulai. Negeri ini kembali berada di ambang tak berdaya otomotif, menjadi konsumen lestari peradaban electric vehicle.
Sejarah industri mencatat, kita pernah berupaya keras memiliki mobil nasional (flagship) sejak Tommy Soeharto merakit Timor hasil kolaborasi KIA Motors Corporation dari Korea. Krisis politik dan devaluasi 1978 meruntuhkannya.
Secara bersamaan, benih produksi mobil dalam negeri yang dirintis bersama Jepang, pun serentak berguguran. Seluruh modal industri otomotif nasional balik ke pemilik induknya di Jepang. Kita kembali tak berswadaya, bahkan melampaui pergantian lima Presiden hingga sekarang.
BJ Habibie, sang pemuka industri dirgantara, menilai portofolio kontrak bidang otomotif lemah menghadapi pemilik merk asli Jepang. Industri otomotif kita seakan mentok dalam skema kerjasama penyedia tempat, serapan tenaga kerja, pendapatan pajak/devisa, dan rasio komponen lokal. Posisi ini belum cukup meneguhkan terwujudnya industri otomotif yang sepenuhnya mandiri.
Era Jokowi pernah coba mengangkat mobil Esemka. Dan, kini Presiden Prabowo melecut PT Pindad untuk hasilkan mobil yang kompetitif.
| Baca juga: Gaduh Impor Ribuan Mobil Utuh |
Sayangnya ekosistem dan dominasi pasar telanjur dikuasai Jepang, Korea, Jerman, Amerika. Daya dukung utama industri ini seperti jaringan bengkel, ketersediaan suku cadang, ruang pamer, dan persaingan harga tidak mudah dilawan. Kita butuh kesungguhan pemerintah di banyak aspek seperti dukungan perbankan, regulasi, infrastruktur, promosi dan banyak lagi.
Dan, di saat kita keasyikan menjadi konsumen mobil mesin bakar (internal combustion engine), tiba-tiba datang tsunami mobil baterai dari Tiongkok, Korea, Amerika. Awalnya kita terpesona oleh Tesla, sang pioneer mobil listrik. Dalam hitungan bulan merk-merk baru Tiongkok mengubah peta persaingan.
Transisi ini didukung insentif diskon harga yang menarik, berikut insentif lain yang membuka lebar pasar bagi berkembangnya mobil listrik. Swasta dalam negeri tergerak mencoba bersaing.
Misalnya sempat lahir sedan Polytron (grup Djarum) yang rentang jelajahnya lebih 400 km sekali isi baterai. Unjuk kerja Polytron langsung menandingi Tesla yang beda harganya menyolok.
Disambar Tiongkok
Umpan empuk ini langsung disambar Tiongkok, menggeruduk pasar dengan banyak merk dan tipe sekaligus. Rupanya Tiongkok telah berinvestasi besar-besaran dan berambisi memimpin teknologi EV, menggusur dominasi pasar di Asia dan dunia.
Nama besar Tesla pun terhuyung menghadapi BYD (Build Your Dream) dari Tiongkok kini menjadi produsen mobil listrik terbesar di dunia. BYD langsung tawarkan berbagai tipe, hatchback kompak seperti Dolphin hingga sedan sporty Seal. BYD bahkan membuat baterai sendiri (blade battery) yang dikenal andal dan efisien ruang.
Pasar domestik mobil konvensional seketika terguncang. Ratusan ruang pamer dan bengkel EV Tiongkok bermunculan di seluruh kota besar. Akselerasi cepat ini menyalip berbagai merk prestisius seperti BMW, Mercedes Benz, Ford, Chevrolet, yang terkesan lambat mengantisipasi datangnya EV.
Tiongkok selain menawarkan harga murah didukung biaya pabrik yang lebih rendah, teknologi baterai, mutu perakitan, dan kelengkapan fitur canggihnya juga unggul. Sudah dibuat mobil anti guncangan mendekati 100 persen, mampu berputar 180 derajat di atas sumbu rodanya, berenang di kedalaman 80 cm, dan mobil kokoh sekuat tank lapis baja. Berbagai capaian ini menempatkan merk mobil di dunia keteteran.
Kini pasar domestik kita bertaburan merk baru EV, antara lain BYD raksasa energi dan otomotif Tiongkok yang memproduksi baterai sendiri dan hadirkan lini produk lengkap. Wuling Motors mengutamakan keterjangkauan harga dan fungsi transportasi ringan perkotaan, seperti Air EV dan BinguoEV.
Chery dikenal fokus pada segmen SUV kompak premium (SUV= Sport Utility Vehicle) dengan desain yang stylish dan fitur keamanan unggul. Neta berfokus pada teknologi pintar dan desain modern, fitur yang melimpah.
GAC Aion mengedepankan teknologi self-developed untuk baterai, motor, dan sistem kontrol. Daya pesona mobil Tiongkok terletak pada deretan fitur berteknologi maju dan diskon harganya, yang menghempas semua produk Jepang terasa kemahalan.
Banyak Keunggulan
Faktor kompetitif produk Tiongkok didukung oleh beberapa keunggulan, antara lain dominasi teknologi baterai, BYD adalah pemasok baterai terbesar di dunia. Ia menawarkan mobil listrik berkapasitas baterai besar dengan harga terjangkau. Inovasi seperti Blade Battery BYD dan baterai Magazine GAC Aion menetapkan standar baru untuk keamanan dan kepadatan energi.
Selain itu tipe terbaru Tiongkok selalu menyandang sederet fitur canggih seperti Advanced Driver Assistance Systems (ADAS), layar sentuh super besar, dan integrasi konektivitas dijital yang mulus. Wuling dan Chery, serta dalam waktu dekat BYD, berkomitmen membangun pabrik perakitan lokal. Hal ini tidak hanya mengurangi harga jual berkat insentif pajak, tetapi juga menjamin ketersediaan suku cadang dan layanan purna jual.
Anggapan lama bahwa tampilan mobil Tiongkok itu jadul, terjawab melalui lompatan desain modern dan artistik oleh tangan perancang kelas dunia seperti Pininfarina, Lambhorgini dari Italia, Jerman maupun Amerika. Uniknya mereka mampu memahami selera Asia dan menciptakan medan flanking yang melebur ke gaya mobil Jepang. Berangsur pembeli Jepang tak sadar teralihkan selera pilihannya secara halus.
Dikutip dari Carnewschina.com, pada bulan Mei 2025 saja telah terjual 1 jutaan unit mobil dengan nama formal “New Energy Passenger Vehicle” di seantero Tiongkok. Jika dikumpulkan sejak bulan Januari sudah terjual 4,3 juta unit. Asosiasi dealer mobil Tiongkok mencatat bulan Mei lalu Geely Geome Xingyuan sehari terjual 905 unit, bagian dari total penjualan terbanyak di negaranya 164.049 unit selama Januari hingga Mei 2025.
Sukses ini diikuti BYD Seagull 144.204 unit, BYD Qin Plus 124.985 unit, Wuling Hongguang Mini EV- 144.953 unit, Xiaomi SU7 sebanyak 132.467 unit, BYD Qin L 103.646 unit, Tesla Model Y dari Amerika 126.643 unit, BYD Song Plus 110.511 unit, Li L6 tercatat 79.883 unit, Geely Geome Panda 77.778 unit, BYD Seal 74.042 unit, Wuling Bingo 65.360 unit, Aito M9 sejumlah 46.209 unit.
Artinya mobil EV sudah berhasil menguasai pasar Tiongkok sendiri, mengalahkan Tesla. Kini mereka membanjiri pasar Indonesia, bertekat menggusur dominasi Jepang, Korea Selatan, Eropa, dan Amerika. Dan, kita rasanya masih akan bertahan sebagai pengagum dan pembeli setia.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....