JALAN menuju swasembada pangan agaknya masih terjal dan berkelok. Keberhasilan menghentikan impor beras dan jagung cukup mengundang decak kagum, meski masih terkesan temporer.
Pembenahan sektor budi daya beras dan jagung, masih belum menyeluruh dan signifikan. Akselerasi produksi beras misalnya dicapai dengan mengerahkan ribuan pompa, yang menyedot air tanah rembesan dari sungai-sungai besar seperti Brantas, Bengawan Solo, Citarum, dan lain-lain
Langkah itu terbilang sukses memutus siklus kekeringan sawah saat kemarau dan menaikkan siklus panen tiga kali setahun. Namun secara umum, kita masih butuh ketangguhan permanen dalam hal pasokan pupuk, bibit unggul, luasan lahan, sistem pengairan, mekanisasi alat bertani, skema adaptif finansial, dan teknologi pascapanen.
Stok beras nasional 2024 mencapai lebih 4 juta ton. Tertinggi selama 41 tahun, bila dibandingkan produksi puncak pada 1984 yang 3 juta ton. Lonjakan ini tercepat dalam sejarah, hanya empat bulan stok meningkat tajam dari 1,7 juta ton pada Januari 2025 menjadi 3,5 juta ton per 4 Mei 2025. Kenaikan 1,8 juta ton ini sepenuhnya produksi petani lokal, setidak-tidaknya pada 2025 ini dan diharapkan berlanjut supaya kita tak lagi mengimpor beras.
Terbuai Bombai
Kita tidak boleh gegabah menepuk dada soal swasembada komoditas pertanian lainnya. Sebab, ternyata kebergantungan negeri ini terhadap bawang bombai masih telak, seperti halnya terhadap bawang putih, bawang merah dan kedelai.
Catatan impor bawang bombai sejak Mei 2020 saja sudah mencapai 35.157 ton. Sebulan sebelumnya, April 2020 impornya 23.393 ton. Bila digabungkan selama April-Mei 2020, impor bombai mencapai 58.530 ton atau mendominasi keseluruhan impor selama Januari-Mei 2020 sebesar 58.588 ton dengan nilai USD30,16 juta.
Siapakah penyumbang terbanyak bawang bombai? Tak heran bila itu India, karena asal kata ‘bombay’ memang dari sana. India selama Januari-Mei 2020 mengirim 22.502 ton atau senilai USD8,18 juta.
Di posisi kedua Selandia Baru dengan total 20.045 selama Januari-Mei 2020, lebih tinggi dua kali lipat dari India. Di posisi ketiga, Tiongkok dengan 15.673 ton, diikuti Australia dengan 222 ton. Negeri kecil Myanmar pun pernah menyumbang 87 ton.
Toh, harga bawang bombai pernah melenting tinggi. Menteri Perdagangan menyebut sebagian besar kebutuhan bawang bombai kita berasal dari impor, sementara relaksasi impor bawang putih dan bombai sudah berakhir per 31 Mei 2020. I
Ikatan Pedagang Pasar Tradisional (Ikappi) menyebut harga normal bawang bombai di kisaran Rp20 ribu per kilogram. Saat langka melangit hingga menyentuh Rp150 ribu per kilogram seperti di pasar DKI Jakarta. Bahkan ada pedagang yang menjualnya Rp180-200 ribu per kilogram.
Anehnya data resmi impor 2025 belum terbaca jelas. Dikutip dari berbagai pemberitaan, persetujuan impor bawang bombai tahun ini sebanyak 21.074 ton milik PT PPI, holding BUMN pangan ID Food, ditawarkan di media sosial Facebook dengan harga sangat rendah Rp3.700 per kilogram.
Disebutkan ketersediaan kuota impor bawang bombai 3.492 ton dari Tiongkok dan Selandia Baru 8.791 ton, total 21.074 ton. Lazimnya izin impor melalui BUMN harus atas penugasan pemerintah, karena bawang bombai dinilai bukan komoditas penting yang memerlukan intervensi.
Tercemar, Dimusnahkan
Sementara, Badan Karantina Indonesia (Barantin) dan Komisi IV DPR RI pernah melakukan pemusnahan terhadap 86,4 ton bawang bombai impor asal Belanda yang terdeteksi tercemar nematoda aphelenchoides fragariae. Pemusnahan dilakukan dengan cara pembakaran bertekanan tinggi di insenerator Balai Uji Terap, Teknik dan Metode Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (Karantina Uji Terap) di Bekasi.
Virus itu merupakan nematoda patogen Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) yang menyerang daun, akar dan umbi. Pemusnahan bertujuan menjaga keamanan pangan bagi masyarakat, sekaligus mencegah menyebarnya OPTK ke lingkungan yang berpotensi dapat menyerang tanaman strategis, seperti bawang merah dan bawang putih.
Indonesia memiliki sistem karantina yang berlapis, yaitu tahapan ‘pre-border’ merupakan sistem karantina yang memastikan semua komoditas yang akan dikirim harus dijamin kesehatan dan keamanannya oleh negara asal. Sedangkan ‘at border’ adalah pemeriksaan di pelabuhan atau bandara, sementara ‘post border’ merupakan monitoring komoditas setelah pemasukan ke wilayah Indonesia.
Masuknya bawang bombai tercemar virus melalui Pelabuhan Tanjung Priok pada 5 Februari 2025 itu bisa menimbulkan kerugian ekonomi Rp731 miliar, terutama pada komoditas bawang merah dan bawang putih, juga stroberi.
Data dari sistem Best Trust Barantin, jumlah impor bawang bombai Indonesia pada 2024 sebanyak 89.457 ton berasal dari Australia, Tiongkok, Belanda dan Selandia Baru. Badan karantina sudah memiliki layanan ‘Digital Best Trust’, sehingga layanan bisa dipantau secara terbuka oleh masyarakat.
Akhirnya, bawang bombai ini masih berderet dengan bawang merah dan putih yang belum teratasi banjir impornya. Janganlah kita terbuai si bombai ini begitu lama.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....