Stigma Berat Perempuan di Balik Label Pelakor
- 13 Nov 2025 11:09 WIB
- Palembang
KBRN, Palembang: Di mata masyarakat, kata pelakor terdengar begitu tajam, seolah menjadi vonis moral bagi seorang perempuan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pelakor merupakan akronim dari perebut laki orang, istilah yang digunakan untuk menyebut perempuan yang menggoda atau merebut suami orang lain.
Namun di balik kata itu, tersembunyi cerita panjang yang tidak selalu hitam putih. Ada luka, kesepian, dan bahkan keputusasaan yang kerap menjadi bagian dari kisah di balik hubungan terlarang tersebut. Pertanyaan yang kerap muncul adalah: apakah seorang pelakor benar-benar bahagia setelah merebut cinta orang lain? Atau justru hidup dalam rasa bersalah yang tak pernah selesai?
Perempuan yang dijuluki pelakor sering digambarkan sebagai perusak rumah tangga dan simbol kehancuran moral. Namun jarang ada yang mau menelisik sisi lain dari mereka.
Sebagian mungkin tertawa bersama pria yang ia rebut, tetapi di dalam hatinya menyadari bahwa cinta yang dimulai dari air mata orang lain jarang berakhir bahagia. “Cinta yang tumbuh di atas luka takkan membawa kebahagiaan sejati. Ia hanya memperpanjang rantai penderitaan,” demikian penggalan pandangan sosial yang kini ramai diperbincangkan di media.
Menurut psikolog Bagus H Hadi dalam kanal YouTube Alat Kesehatan ID, fenomena pelakor tidak dapat dilihat dari satu sisi saja. Ia menilai perselingkuhan merupakan hasil dari dinamika yang melibatkan semua pihak.
“Dalam situasi munculnya pelakor, kesalahan bisa berasal dari ketiganya — pihak laki-laki, pasangan sahnya, dan si pelakor itu sendiri. Bisa jadi sang suami berselingkuh karena kebutuhan emosionalnya tak terpenuhi, lalu mencari kenyamanan di tempat lain,” ujar Bagus.
Ia menambahkan, dalam banyak kasus, perselingkuhan tumbuh dari ruang kosong dalam hati seseorang — entah karena kesepian, kurang perhatian, atau bahkan dorongan nafsu yang tidak terkendali.
“Ada cinta yang tumbuh bukan karena niat buruk, tapi karena luka lama yang tak pernah disembuhkan. Namun tetap saja, cinta seperti itu biasanya berakhir dengan rasa bersalah, bukan kebahagiaan,” jelasnya.
Sementara itu, Dra. Suzy Azeharie, MA., M.Phil, dalam tulisannya berjudul Fenomena Pelakor dan Menyalahkan Perempuan, menilai bahwa masyarakat sering kali bias gender dalam melihat kasus perselingkuhan.
“Ada kesan bahwa laki-laki itu pasif, tidak berdaya, sehingga bisa direbut. Padahal hubungan itu dua arah — kedua pihak sama-sama aktif dan memiliki tanggung jawab moral yang sama,” tulisnya.
Menurut Suzy, stigma “pelakor” menempatkan perempuan dalam posisi yang salah dan membuat laki-laki seolah tidak bersalah. Padahal, dalam kenyataannya, perselingkuhan terjadi karena dua orang yang sama-sama melanggar komitmen.
Secara sosial, pelakor sering dianggap “pemenang” karena berhasil merebut cinta seseorang. Namun kenyataannya, banyak dari mereka justru menjadi “pecundang” dalam hal kejujuran, harga diri, dan ketenangan batin.
Cinta yang lahir dari pengkhianatan hanya meninggalkan ruang hampa. Tak ada kebahagiaan sejati di atas penderitaan orang lain. “Memahami bukan berarti membenarkan. Tapi setiap manusia punya kisah yang mungkin membuatnya tersesat di jalan yang salah,” tulis Suzy dalam refleksinya.
Perselingkuhan, sejatinya, tak pernah melahirkan pemenang. Hanya luka, penyesalan, dan kenangan pahit yang terus bergema di hati semua pihak yang terlibat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....