Pesawat Hebat Pengubah ‘Kiblat’
- 13 Nov 2025 08:53 WIB
- Pusat Pemberitaan
KEKUATAN militer kita di angkasa sedang memasuki babak baru. Ini sebuah lompatan menuju era modern pertahanan yang melampaui negara tetangga setidaknya di ASEAN, ditandai datangnya pesawat angkut militer terbaru milik TNI Angkatan Udara (AU) Airbus A400M.
Senin 3 November 2025 pesawat bernomor A-4001 ini tiba di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Sosok ini adalah mesin angkut militer pertama yang dirancang untuk berbagai jenis operasi. Pesawat ini berperan sebagai pesawat Multi Role Tanker Transport (MRTT), mampu bertugas untuk operasi militer perang maupun nonperang.
Sepintas tampilannya mirip dengan pendahulunya, Hercules C-130 buatan pabrik Lockheed Martin, Amerika Serikat (AS), yang sudah bertugas lebih tiga dekade. Bedanya Airbus A400M menyematkan beragam ‘advance avionic technology’ yang detik ini belum tertandingi di kawasan. Bahkan bisa disebut lebih canggih dibandingkan seluruh pesawat militer yang kita punya.
Airbus Industrie yang didukung empat jagoan Eropa; Prancis, Inggris, Spanyol, Jerman, seakan ingin meruntuhkan hegemoni AS. Airbus sudah membuktikannya di kancah pesawat penumpang komersial, dengan memencundangi Boeing dalam banyak hal. Salah satu pembeda yang menyolok adalah alat kemudi berbentuk ‘joystick’ di Airbus, menggantikan ‘kemudi setir’ (Yoke) pada Boeing.
Airbus juga dikenal mampu menjaga pesawatnya tidak mudah ‘stall’, saat menghadapi situasi kritikal. Sementara produk baru Boeing 737 Max 8 pernah terjungkal gara-gara kesalahan baca instrumen kecil sensor ‘angle of attack’.
Tragedi Boeing seri 737 Max 8 itu pernah dialami Lion Air JT610 penerbangan Jakarta-Pangkal Pinang, pada 29 Oktober 2018 yang menewaskan 189 orang. Hanya lima bulan berselang fatal serupa dialami maskapai Ethiopia, penerbangan dari Adis Ababa ke Nairobi di Kenya, 10 Maret 2019 jatuh merenggut 157 orang. Bayangkan kegagalan teknologi terbaru Max 8 harus memakan korban 346 nyawa.
Berubah ‘Kiblat’
Boleh jadi kehadiran Airbus A400M ini menggeser ‘kiblat’ berbagai pesawat tempur kita yang umumnya dibuat pabrik nonjejaring Airbus di Eropa barat. Dari Rusia kita mengoleksi pesawat tempur Sukhoi Su-27 dan Su-30, buatan Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Association (KnAAPO).
Dari Amerika Serikat kita dapatkan F-16 Fighting Falcon produksi General Dynamics dan kini oleh Lockheed Martin. Sedangkan F-15EX diproduksi oleh Boeing sedang dipertimbangkan. Dari Prancis hadir Mirage 2000-5, diproduksi oleh Dassault Aviation. Juga akan didatangkan pada 2026 jet tempur Rafale buatan Dassault.
Dari Korea Selatan terdapat KF-21 Boramae: dikembangkan bersama oleh Korea Selatan dan Indonesia. Dari Turki kita beroleh Anka-S sebuah drone tempur buatan Turkish Aerospace Industries (TAI). Brasil menghadirkan EMB-314 Super Tucano, pesawat turboprop ringan yang diproduksi Embraer.
Kini kita punya pesawat angkut militer terbaru milik TNI Angkatan Udara (AU) Airbus A400M. Ia disiapkan selain operasi perang, bisa digunakan untuk mendukung pergeseran misi militer, pengisian avtur di udara (air to air refuelling) serta bantuan kemanusiaan. Presiden Prabowo Subianto kabarnya akan menambah lagi 4 Unit Airbus A400M.
Burung aluminium ini diawaki dua pilot dan satu loadmaster. Menyandang empat mesin turboprop Europrop International TP400-D6, setiap mesinnya berkekuatan 11.000 daya kuda, menjadikannya pesawat militer terkuat di dunia.
Bobot maksimum saat lepas landas 141 ton, kecepatan maksimum 433 knot (0,72 Mach), mampu terbang 8 jam tanpa isi avtur. Melayang di ketinggian 40.000 kaki, ia berada di atas alur pesawat jet komersial yang berada di 35.000 kaki.
Ruang kargonya yang berukuran 23,1×4×4 meter, tiga kali lipat Hercules, mampu mengangkut 37 ribu kilogram barang dan pasukan. Hebatnya lagi pesawat dilengkapi sistem avionik modern, seperti Head Up Display (HUD), Navigation and Tactical Display (NTD), Electronic Centralized Aircraft Monitoring (ECAM), serta sistem komunikasi dan navigasi berbasis GPS, GNSS, FMS, dan IRS.
Tersematkan juga sederet sistem surveilance (TCAS, TAWS, DASA, RWR) yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran situasional dan kinerja dalam setiap penerbangan. Perjalanan ke Tanah Air ditempuh tiga hari, dengan rute Seville-Dubai-Medan-Jakarta. Tim penerbangnya adalah Letkol Pnb Putut Satriya Yoni, Mayor Pnb Riki Sihaloho, Mayor Pnb Fathir Muhammad Hadid, dan Kapten Pnb Indra Kusuma.
Beda dengan Hercules
Perbedaan A400M dibuat di Prancis, sedangkan C-130 di AS. Hercules punya banyak varian ada versi sipil, yaitu L-100 yang pernah dipakai Merpati dan Pelita Air Service. Airbus A400M lebih sedikit variannya, dan tidak memiliki versi sipil.
Hercules lahir jauh lebih awal, penerbangan pertamanya pada 1954 dan mulai dipasarkan 1956. Sedangkan Airbus A400M terbang pertama pada tahun 2009 dan mulai dikirimkan pertama kali ke AU Perancis pada 2013. Versi terbaru Hercules adalah C-130J Super Hercules.
Beda keduanya antara lain terlihat pada jumlah bilah baling-baling mesinnya. Hercules memiliki enam bilah pada setiap mesinnya, sedangkan Airbus A400M memiliki delapan bilah di setiap mesin dan berukuran lebih besar.
Beda jumlah roda pendaratnya, pada Hercules hanya enam roda dengan posisi dua roda di depan sebagai nosewheel, dan empat roda di belakang kanan dan kiri sebagai main wheel. A400M memiliki 14 roda dengan posisi dua roda di depan sebagai nosewheel, dan 12 roda di belakang (enam kanan dan kiri) sebagai main wheel.
Paling menarik tampilan kokpitnya. C-130 memiliki dua versi kokpit yaitu analog (masih menggunakan jarum berputar), dan glass cockpit. Kokpit C-130 varian lama masih analog. Sedangkan Airbus menghadirkan kokpit modern digital yang lebih rapi, terkesan sedikit tombol dan tuas. Tongkat kendalinya bukan lagi mirip setir mobil, melainkan berbentuk joystick. Visibilitas jendela depan dan sampingnya pun lebih luas.
Itulah profil pesawat baru kita yang siap melangit. Kelak akan ada empat lagi barisan tempurnya, dengan gagah menjaga nusantara.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....