Ketika Roh Musik Arek Masuk Ruang Akademik
- 12 Nov 2025 08:47 WIB
- Pusat Pemberitaan
MUSIK sebagai ekspresi budaya bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk perlawanan, identitas, dan pencarian makna. Inilah yang menarik dari ujian karya doktoral seni musik yang baru-baru ini digelar, sebuah upaya serius untuk mengangkat budaya arek Surabaya ke ruang akademik, melalui semangat egaliter dan kebebasan ekspresi yang dikenalkan dengan istilah ceblang-ceblung.
Namun, seperti halnya seni yang lahir dari jalanan dan kemudian masuk ke galeri, tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga semangat aslinya tanpa kehilangan kedalaman reflektif. Seperti penguatan Jula-Juli dengan parikannya, cukupkah hanya dengan logat, aksen dialog, kandel tipis, nada dan cengkoknya? Apakah justru harus dengan teriakan-terikan bahkan pisuhan yang itu dianggap melambangkan kearekan itu sendiri? Penulis menangkap ada keraguan dalam hal ini. Entah karena pertimbangan peraga atau lainnya.
Ceblang-ceblung sebagai bentuk ekspresi bebas bisa menjadi kekuatan sekaligus jebakan. Tanpa pengendalian artistik dan struktur yang matang, kebebasan bisa berubah menjadi kekacauan. Dalam konteks ini, kebaruan ide bukan hanya soal keberanian melawan arus, tapi juga kemampuan membangun narasi, metode, dan bentuk yang bisa dipertanggungjawabkan secara intelektual, bahkan bisa memberikan kekuatan pada sektor seni musik tradisi.
Hal lain yang layak dicatat adalah bagaimana budaya lokal digunakan. Apakah ia hanya menjadi latar simbolik sekadar membungkus karya dengan aroma “lokalitas” atau benar-benar dijadikan sumber idiom musikal yang baru? Sebuah karya besar semestinya tidak hanya bercerita tentang Surabaya dan sekitar, tetapi juga berbicara dengan bahasa musikal Surabaya dan sekitarnya yang otentik dan hidup.
Lebih jauh, dalam presentasi seni modern terutama dalam ujian karya penciptaan penggunaan media visual tidak bisa dianggap sekadar pelengkap. Setiap angle kamera, pergerakan visual, pemotongan gambar, hingga pencahayaan dan blocking, seharusnya menyatu secara organik dengan warna nada, dinamika tempo, dan bentuk musikal yang sedang dimainkan.
Kekeliruan kecil dalam pengambilan sudut pandang bisa membuat pertunjukan terasa terlepas dari semangat musikalnya. Visual bukan hanya menggambarkan musik, tetapi harus menjadi bagian dari musik itu sendiri.
Demikian juga tentang komposisi audio (stereo system) ketika pemirsa (YouTube) betul-betul bisa menikmati dan merasakan seperti keberlangsungan pertunjukan di lokasi. Apa yang didengar sesuai apa yang dipandang.
Sebagai publik, saya sangat mengapresiasi keberanian seniman yang membawa identitas lokal ke jenjang akademik. Namun saya juga berhak berharap lebih: bahwa di balik semangat bebas dan egaliter, ada kedalaman berpikir, ketajaman konsep, dan keberanian untuk tetap berpijak pada tanah tanpa kehilangan arah. Karena di ujungnya, seni tak cukup hanya ceblang-ceblung (ding dong), tetapi lebih dari itu harus menggugah, mengubah, dan mengakar.

Penulis: Kukuh Setyo Budi (Pemerhati Budaya)
Ket: Tulisan ini merupakan apresiasi kepada Dr. Joko 'Porong' Winarko, S.Sn., M.Sn, atas kelulusan ujian doktoral.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....