Ketika Sejarah Memaksa Kita Membaca Banyak Warna

  • 10 Nov 2025 17:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

SENIN 10 November yang bertepatan dengan Hari Pahlawan, Istana Negara terasa hening dalam makna yang dalam. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, berjejer penyangga foto berpigura klasik keemasan, masing-masing menampilkan wajah mereka yang pernah menyalakan api di zamannya.

Di samping setiap foto, para ahli waris berdiri tegak. Membawa kenangan dan kebanggaan yang sulit dijelaskan dengan kata.

Acara dimulai dengan hening cipta, lalu pembawa acara mulai membacakan kisah perjuangan dan daerah pengusul dari setiap tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Suaranya tenang, tetapi setiap kalimat seperti menggema.

Ada 10 nama disebut, satu per satu. Mereka datang dari berbagai penjuru Tanah Air, dengan latar perjuangan yang berbeda, tapi dengan tujuan yang sama: menghidupkan Indonesia.

Tiga nama langsung menyedot perhatian publik: Soeharto, Abdurrahman Wahid, dan Marsinah. Tiga sosok yang datang dari jalan sejarah yang berbeda.

Soeharto dikenang sebagai pemimpin yang membawa stabilitas dan pembangunan nasional. Gus Dur, sebaliknya, diingat sebagai pembela kemanusiaan dan kebebasan berpikir.

Sedangkan Marsinah, buruh pabrik dari Nganjuk, adalah lambang keberanian tanpa pangkat, yang membayar mahal perjuangannya menuntut keadilan.

Kini, ketiganya berdiri sejajar di ruang penghormatan yang sama. Satu berjuang dari podium kenegaraan, satu dari lantai pabrik.

Presiden Prabowo melangkah perlahan di antara deretan penyangga foto. Satu per satu ia menyerahkan kotak berwarna coklat dengan tutup kaca, berisi piagam resmi bertanda tangan Presiden dan tanda kehormatan yang menjadi simbol gelar Pahlawan Nasional.

Setiap kotak diserahkan langsung kepada ahli waris. Disertai dengan tatapan hormat dan jabat tangan yang singkat tapi hangat.

Untuk Gus Dur, penghargaan diterima Sinta Nuriyah, didampingi Yenny Wahid. Dari keluarga Soeharto, hadir Siti Hardijanti Hastuti Rukmana dan Bambang Trihatmodjo.

Untuk Marsinah, dua saudarinya, Marsini dan Wijiati, berdiri di sisi foto sang kakak dengan mata berkaca-kaca. Dari sisi lain, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi ahli waris Sarwo Edhie Wibowo dan berdiri di samping foto sang jenderal.

Nama-nama lain pun tak kalah berharga. Syaikhona Muhammad Kholil dari Bangkalan disebut sebagai ulama yang menanamkan cinta Tanah Air sebagai bagian dari iman, guru dari para pendiri Nahdlatul Ulama yang mengajarkan nasionalisme dengan bahasa spiritual.

Mochtar Kusumaatmadja dikenang sebagai arsitek hukum laut Indonesia yang membuat dunia mengakui kedaulatan maritim nusantara. Rahmah El Yunusiyyah dari Sumatra Barat menjadi pelopor pendidikan perempuan yang memerdekakan lewat ilmu pengetahuan.

Sementara Sultan Muhammad Salahuddin dari Bima dan Zainal Abidin Syah dari Maluku Utara diingat sebagai pemimpin daerah yang menolak tunduk pada penjajahan dan memilih setia kepada republik. Setiap nama yang disebut pembawa acara disambut dengan tepuk tangan perlahan dari hadirin, bukan sebagai formalitas, tetapi sebagai tanda hormat.

Penganugerahan kali ini memantik beragam tafsir. Ada yang menyebutnya langkah berani untuk memperluas makna kepahlawanan. Ada pula yang menilai, keputusan ini menyatukan kembali nama-nama dengan catatan sejarah yang dulu bertentangan.

Namun mungkin di sanalah kekuatannya: bahwa kepahlawanan bukan satu warna. Ia bisa lahir dari ruang kekuasaan, dari pesantren, dari ruang kuliah, atau dari lantai pabrik.

Langkah Prabowo Subianto menyematkan gelar kepada 10 tokoh ini bisa dibaca sebagai ajakan untuk menatap sejarah dengan kepala dingin, bukan untuk melupakan tetapi untuk memahami. Setiap masa memiliki pergulatannya sendiri, setiap tokoh memiliki caranya berjuang.

Ada yang berjuang dengan kebijakan, ada yang berjuang dengan doa, ada yang berjuang dengan pena. Ada juga berjuang dengan tangan kosong.

Sejarah tidak menuntut keseragaman. Ia menuntut kejujuran. Dari ruang rapat kabinet hingga pesantren di Madura, dari podium kenegaraan hingga lantai pabrik di Nganjuk, semua perjuangan itu berpadu menjadi satu cahaya yang sama.

Cahaya itulah yang membuat Indonesia tetap berdiri, bukan karena satu tangan, melainkan karena begitu banyak tangan. Tangan-tangan itulah yang tak pernah berhenti bekerja, percaya, dan berkorban demi kemanusiaan.

Penulis: Rudi Zein (Penyiar)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....