Haji Agus Salim, ‘The Grand Old Man’
- 10 Nov 2025 09:19 WIB
- Pusat Pemberitaan
BANYAK pejuang kemerdekaan berawal dari usia muda, Agus Salim berbeda. Ia justru cemerlang menginjak usia tua pada sekitar 1946-1950, sehingga digelari ‘Orang Tua Besar’ (The Grand Old Man).
Pria kelahiran Kota Gadang, Agam, Sumatra Barat, 8 Oktober 1884, ini nama aslinya Mashudul Haq yang berarti “pembela kebenaran”. Ia anak keempat Sultan Moehammad Salim, seorang jaksa di sebuah pengadilan negeri Riau.
Agus Salim mengawali karier politiknya di Sarekat Islam (SI) bersama dengan HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis sejak 1915. Organisasi ini menyuarakan kepentingan perjuangan Bangsa Indonesia.
Namanya meroket setelah berpidato pada Konferensi Perubahan Internasional di Jenewa, Swiss. Di sana ia berseru bahwa Indonesia memiliki kecerdasan tinggi dan mampu menguasai bahasa bahasa-bahasa asing.
Berderet panjang kontribusi pemikiran beliau untuk negeri ini. Menjelang akhir pemerintah Jepang, Agus Salim menjadi anggota panitia persiapan kemerdekaan dan merumuskan UUD 1945.
Ia juga ikut merumuskan Piagam Jakarta. Pada 1945 itu kemudian menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan berlanjut di Kabinet Hatta.
Cerdas tapi Kecewa
Banyak penjuang kita masa lalu berotak cerdas. Agus Salim muda telah menguasai sedikitnya tujuh bahasa asing, mulai Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, hingga Jerman. Pada 1903 lulus HBS (Hogere Burger School) atau sekolah menengah atas 5 tahun pada usia 19 tahun dengan predikat lulusan terbaik di tiga kota, yaitu Surabaya, Semarang, dan Jakarta.
Atas prestasinya itu ia berharap bisa melanjutkan sekolah kedokteran di Belanda. Namun harapannya pupus karena ditolak pemerintahan Belanda.
Kecerdasannya menarik perhatian pejuang wanita Kartini, anak Bupati Jepara. Kartini bersurat ke Ny. Abendanon, istri pejabat yang menentukan pemberian beasiswa Belanda.
Kartini bahkan merekomendasikan Agus Salim menggantikan dirinya berangkat ke Belanda, karena saat itu adat Jawa tak memungkinkan seorang putri seperti Kartini bersekolah tinggi. Caranya dengan mengalihkan beasiswa sebesar 4.800 gulden dari pemerintah ke Agus Salim.
Pemerintah akhirnya setuju, tapi Agus Salim menolak disebabkan atas usul orang lain, bukan karena penghargaan atas kecerdasan dan jerih payahnya. Salim tersinggung, karena Kartini berasal dari keluarga bangsawan Jawa yang erat dengan pejabat pemerintah, sehingga mudah beroleh beasiswa. Sedangkan dirinya orang biasa, tak ada beasiswa untuk inlander.
Duka-kecewa membawanya berangkat ke Jeddah, Arab Saudi, untuk bekerja sebagai penerjemah di konsulat Belanda di kota itu antara 1906-1911. Di sana, ia memperdalam ilmu agama Islam kepada Syech Ahmad Khatib, imam Masjidil Haram yang juga pamannya, serta mempelajari diplomasi.
Sepulang dari Jeddah, kemudian mendirikan sekolah HIS (Hollandsche Inlandsche School). Tak lama bersama HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis mundur dari Volksraad dan berkonsentrasi di SI.
Menggugat Sekolah
Pengalaman pahit membuat Agus Salim trauma dengan sekolah Belanda. Ia menganggapnya sebagai “jalan berlumpur” sehingga memilih mendidik sendiri anak-anaknya di rumah. Dari kedelapan anaknya, hanya si bungsu Mansur Abdurrahman Sidik yang mengenyam sekolah formal, karena lahir pasca kolonial.
Tujuh anak-anaknya; Violet Hanisah, Yusuf Taufik, Ahmad Syauket, Theodora Atia, Islam Basari, Siti Asiah, dan Maria Zenibiyang hasil didikan di rumah.
Metode pendidikan yang diterapkan Agus Salim di rumah sangat menyenangkan. Anak-anaknya sebagai ‘murid’ tak harus duduk di dalam kelas seperti di sekolah formal. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung diajarkan secara santai, seolah sedang bermain. Nilai-nilai budi pekerti, pelajaran sejarah, dan materi ilmu sosial lainnya diberikan melalui cerita dan obrolan sehari-hari.
Dibebaskan kepada anak-anaknya bertanya, mengkritik, bahkan membantah untuk mengasah daya kritis dan kebebasan berpikir. Ini penting untuk membangun sikap terhadap kolonialisme. Kemampuan retorika juga ditanamkan karena Agus Salim sendiri dikenal sebagai sosok vokal dan jago debat berjuluk singa podium.
Mungkin hanya Agus Salim satu-satunya pejuang kita yang tegas ‘menegasikan’ sistem sekolah. Sekalipun memilih cara bersekolah di rumah, pada 1970 muncul seorang Ivan Illich yang terkenal berkat bukunya Deschooling Society, diterbitkan.
Illich berargumen bahwa manajemen sekolah yang top-down membuat siswa tidak berdaya. Ini merupakan sindrom yang khas dalam ekonomi teknologi modern dan semua institusinya. Dalam konteks pendidikan yang spesifik, inilah yang menghalangi orang untuk belajar secara nyata.
Karyanya, Tools for Conviviality, merupakan kritik terhadap teknologi secara umum. Karyanya, Energy and Equity, juga menjadikan Ivan Illich salah satu teoretisi terpenting dalam gerakan ekologi radikal era 1970-an.
Bukan kebetulan bila kita sandingkan gagasan ‘bersekolah di rumah’ ala Agus Salim dan Ivan Illich, meskipun berbeda konteks. Tentu ini warisan penting keberanian menggugat esensi pendidikan umum kita di era modern sekarang.
Apakah jalan yang kita tempuh, sudah memadai dan mampu menjawab tuntutan kompetisi antarbangsa di dunia? Di kawasan ASEAN capaian IPM (Indeks Pembangunan Manusia) kita masih di bawah Singapura, Brunei, Thailand, dan Malaysia. Indonesia merdeka 1945, kini masih berlomba IPM dengan Vietnam yang baru merdeka 1972.
Agus Salim ternyata juga wartawan hebat. Ia pernah memimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Mendirikan surat kabar Fadjar Asia bersama HOS Tjokroaminoto, redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO).
Karangan beliau banyak dimuat di beberapa surat kabar seperti Neraca, Mustika, Fajar Asia Hindia Baru, Keng Po Dunia Islam, Het Licht, Pujangga Baru Hikmah, Mimbar Agama, Moslemse Reveil, Indonesia Revue, dan pernah menjabat Ketua di Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia.
Ia meninggal dunia pada 4 November 1954 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sungguh November yang di dalamnya ada peringatan Hari Pahlawan, menjadi bulan penting ‘The Grand Old Man’ karena menandai hari wafat dan legasi beliau.

Penulis: T. Suwarsono (Wartawan)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....