Berkaca pada Gatotkaca

  • 06 Nov 2025 08:11 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

MUNGKIN sudah banyak yang lupa, Gatotkaca sungguh pernah terbang di langit nusantara. Tokoh wayang putra Sang Bima Sena ini, melambung perdana selama 55 menit pada 10 Agustus 1995, disusul melangit berikutnya pada 19 Desember 1996.

Inilah yang asli ‘berotot kawat dan bertulang besi’. Ia berwujud pesawat terbang yang dibangun otak dan tangan para insinyur Indonesia. Dibiayai negara sendiri tanpa berhutang.

Wujud pertama adalah pesawat N-250 regional komuter turboprop rancangan asli IPTN (Sekarang PT Dirgantara Indonesia). Seri ‘N’ ini berbeda dengan pesawat sebelumnya CN-235, kode ‘CN’ menunjukkan CASA-Nusantara atau CASA-Nurtanio, hasil patungan CASA Spanyol dengan IPTN. Sedangkan ‘N’ sepenuhnya karya kita.

Sempat membintangi pameran dirgantara Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng, tetapi akhirnya pesawat ini dihentikan produksinya setelah krisis ekonomi 1997. Rencananya program N-250 akan dibangun kembali oleh B.J. Habibie setelah mendapatkan persetujuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kala itu.

Supaya harganya bersaing, kapasitas mesin dan sistem fly-by-wire yang dipakai dikurangi. Momentum produksinya tepat untuk menggantikan Fokker F-50 yang sejak 1996 pabriknya di Belanda tutup.

Sekadar diketahui, Fokker didirikan pemuda Belanda bernama Anthony Fokker kelahiran Kediri, Jawa Timur. Indonesia tercatat pengguna pesawat Fokker terbanyak di dunia.

N-250 ditenagai mesin turboprop Allison AE 2100 C, berbaling-baling 6 bilah dan mampu terbang 610 kilometer per jam. Angka itu merupakan kecepatan tertinggi di kelas turprop 50 penumpang. Ia mengepak sayap setinggi 25 ribu kaki (7.620 meter) dengan daya jelajah 1.480 kilometer.

Gugur di Bharatayudha

Entah sebuah kebetulan, Gatotkaca gugur dalam perang Bharatayuda. Di padang Kurusetra, sang gagah berani tumbang dihantam senjata Kunta Wijayandanu yang dilepaskan Senapati Kurawa, Adipati Karna.

Begitu pula N-250, harus tumbang dihantam krisis politik 1997. Akhirnya 21 Agustus 2020 tubuh pesawat ini terkulai di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Sleman, DI Yogyakarta.

Krisis Indonesia yang ditukangi bos IMF Michel Camdessus itu akhirnya menumbangkan berbagai industri strategis; pesawat terbang (IPTN di Bandung), perkapalan (PT PAL di Surabaya), persenjataan (PT Pindad di Bandung dan Malang), dan industri kereta api (PT Inka Madiun). Industri otomotif kita pun dihempas rontoknya kurs rupiah atas Dolar AS, dan direbut balik prinsipalnya di Jepang.

Syahdan, gugurnya seakan meruntuhkan capaian tinggi bidang teknologi dan rekayasa industri canggih kita. Banyak insinyur pintar terpaksa hengkang ke Boeing di Amerika, Airbus di Prancis, dan galangan kapal Pappenburg Jerman.

Investasi otak dan kelihaian rancang bangun anak negeri, semburat ke mana-mana, dan gagal dimanfaatkan. Lalu tiba saatnya kita berbangga pada kereta cepat yang utuh didatangkan dari China, dengan berutang pula. Padahal sejatinya teknologi dirgantara jauh melampaui kecanggihan kereta cepat.

Kini republik yang disebut Presiden Prabowo Subianto sangat kuat ini, bagai mati suri di bidang teknologi maju. Kita justru asyik menjadi konsumen produk asing. Mulai HP hingga mobil, kita belum mandiri. Bersyukur masih ada prestasi Inka Madiun dan KAI, serta perusahaan karoseri bus yang hebat.

Di industri kelautan kita belum mencapai galangan skala besar. Banyak kapal niaga dan penumpang masih saja diimpor. Di industri pesawat kelas menengah dan kecil, maskapai kita lebih suka membelinya dari Prancis, Kanada, China.

Gagal Masuk PSN

Belakangan kita trenyuh mendengar proyek prestisius pesawat Regio, yaitu RAI-80 (Regio Aviasi Industri) yang dikembangkan Ilham Akbar Habibie terpaksa menggalang dana masyarakat. Proyek kelanjutan N-250 itu mandek di meja gambar, karena gagal masuk beleid PSN (Projek Strategis Nasional), sementara Whoosh justru lolos.

Sementara pesawat kelas menengah yang cukup bermesin turbo-prop, sejatinya bisa mengisi kebutuhan domestik negeri kepulauan. Dia hanya butuh landasan pendek, perawatan rendah, dan ongkos terbang murah. Ini sesuai untuk melayani bandara kecil di tingkat kabupaten, baik sebagai angkutan utama maupun pengumpan (feeder) bandara internasional.

Padahal saat N-250 pertama kali unjuk kebolehan pada Paris Air Show 1989, tercatat sebagai pemuka teknologi fly by wire pertama di dunia. Waktu itu N-250 rencananya akan dibuat empat empat tipe.

Tipe pertama adalah Gatotkaca kapasitas 50 penumpang, terbang perdana selama 55 menit pada 10 Agustus 1995. Tipe kedua N250-100, berpenumpang 68, terbang perdana 19 Desember 1996. Pesaing pesawat ini adalah ATR 42-500, Fokker F-50, Bombardier, dan Dash 8-300.

Pesawat ATR produksi Prancis paling banyak dipakai di sini, terutama varian ATR-42 dan 72. Penggunanya Wings Air, Trigana Air Service, TransNusa, Citilink. Bahkan tipe ATR72-600 digunakan Garuda sehari-hari melayani rute di Kalimantan.

Keunggulan ATR bisa menjangkau bandara kecil dengan landas pacu kurang 1.600 meter. Interior kabinnya cukup nyaman karena mendapat sentuhan perancang mobil sport, Giorgetto Giugaro dari Italia.

Sedangkan Bombardier diciptakan Bombardier Aerospace, merupakan perusahaan terbesar ke-4 di dunia. Bombardier CJR700 pernah melayani wilayah timur Indonesia.

Jika industri perkapalan melengkapi tol laut, maka penerbangan akan menjadi jembatan udara. Keduanya alat transportasi yang pas untuk negeri kepulauan nusantara. Sayang isu ini kurang memikat panggung politik elite. Masih banyak yang pesimistis, meski kebutuhan kita nyata, masih banyak yang pesimistis, meski kebutuhan kita nyata.

Gatotkaca boleh gugur, tetapi ujung perjuangan Pandawa di medan Bharatayudha tidak bisa dikalahkan Kurawa. Kewajiban kita menghidupkan kembali keunggulan teknologi, agar tak tercecer dari kompetisi dunia. Nyalakan kembali jiwa dan semangat!

Penulis: T.Suwarsono (Wartawan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....