SWASEMBADA pangan memanggil kesiapan beragam komoditas; beras, jagung, kedelai, bawang, gula, dan kini garam. Bagaimana mewujudkannya, Menko Pangan Zulkifli Hasan berkeyakinan menutup keran impor empat komoditas pangan di 2025, beras, jagung pakan, gula konsumsi, dan garam konsumsi.
Ternyata garam, bahan sederhana yang mengisi kebutuhan dapur, penting bagi sebuah negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Ditunjang matahari sepanjang tahun, harusnya kita menjadi lumbung garam dunia. Toh ratusan ribu ton garam, khususnya garam industri, masih tetap harus diimpor 577 ribu ton lagi pada 2026.
Tahun lalu produksi garam nasional sekitar 2,04 juta ton garam. Sekarang di 2025 ditargetkan menjadi 2,25 juta ton, dengan stok cadangan 836 ribu ton.
Namun kebutuhan nasional garam diperkirakan 4,9 hingga 5 juta ton, dengan lebih dari 3 juta ton diserap industri pangan, farmasi, dan Chlor Alkali Plant (CAP). Mutu dan jumlah produksi garam domestik belum mencukupi kebutuhan industri.
Sentra Garam
Mungkinkah swasembada garam industri tercapai 2027. Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 17 tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional akan menjawabnya.
Di sini swasembada garam akan dipacu melalui keterlibatan aktif pemerintah pusat dan daerah, berikut seluruh pemangku kepentingan. Kebutuhan garam nasional meliputi garam konsumsi, garam untuk industri aneka pangan, industri penyamaan kulit, garam untuk penjernih air, pakan ternak, dan pengolahan ikan. Masih ada juga garam untuk peternakan dan perkebunan, industri sabun dan deterjen, untuk kosmetik bahkan garam untuk pengeboran minyak.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga menyiapkan diri, melibatkan petambak garam, pemerintah daerah serta pelaku industri. Nusa Tenggara Barat (NTB) disiapkan sebagai sentra garam nasional, meliputi Desa Labuhan Bontong, Kecamatan Tarano; Desa Sepayung dan Plampang di Kecamatan Plampang di Kabupaten Sumbawa, dan desa Donggobolo, Kecamatan Woha di Kabupaten Bima. Lahannya luas, potensi kualitas produksinya tinggi. KKP juga menggarap lahan 2.500 ha di Nusa Tenggara Timur (NTT) menggunakan metode gabungan konvensional dan mekanisasi.
Awal Juni 2026 mulai dibangun Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Desa Matasio, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Kawasan khusus ini seluas 10.764 hektare, tersebar di 13 desa di kecamatan Landu Lenko, Pantai Baru, dan Rote Timur, dan Teluk Pantai Baru. Dari kawasan inilah diharapkan kita segera keluar dari kebergantungan impor garam industri. Rote Ndao akan jadi model industri garam nasional.
Masih di Jawa
Sebagian besar garam tambak diproduksi di Pulau Jawa sebanyak 491.857 ton. Provinsi Penghasil Garam Tambak Terbesar di Indonesia didominasi Jawa Tengah dengan 214.503 ton, Jawa Timur 211.800 ton, NTB 119.036 ton, dan Jawa Barat 65.554 ton. Provinsi lain penyumbang garam adalah NTT, Bali, Sulawesi Tengah, Aceh, dan Gorontalo.
Lalu apa kabar produksi ‘Pulau Garam’ Madura? Anomali cuaca ternyata masih menjadi kendala serius produksi garam tambak. Petani garam menghadapi kemarau basah yang mengacaukan proses kristalisasi garam dan menggerus pendapatan para petambak di wilayah pesisir.
Di Kabupaten Bangkalan produksi tahun ini menukik drastis. Ramalan cuaca menyebut kemarau basah masih berlanjut selama beberapa bulan ke depan. Bahkan hingga akhir Oktober ini curah hujan tetap tinggi, dan sebentar lagi masuk musim hujan.
Hal serupa pernah terjadi pada 2021. Saat itu kemarau basah menyebabkan produksi anjlok dan kualitas garam menurun. Petambak sudah melakukan persiapan lahan, tetapi tak bisa memulai produksi garam. Target dari Bangkalan sebanyak 5.000 ton pun jauh panggang dari api.
Garam Spa
Dari kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tercipta produk garam spa bernama ITSpa. Temuan ini sebagai bentuk hilirisasi hasil riset kampus, dari program hibah Higher Education for Technology and Innovation Asian Development Bank. Produk garam Spa ini dikembangkan dari riset teknologi pembuatan garam dengan metode tunnel yang telah diimplementasikan di Kusamba, Bali.
Produk ini dihasilkan kolaborasi lintas disiplin ilmu antara Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem (FTIRS), Fakultas Teknologi Kelautan (FTK), dan Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital (FDKBD) ITS. Seluruh proses produksi ITSpa dilakukan dengan dukungan fasilitas Science Techno Park (STP) Maritim ITS.
Bahan baku garam laut yang digunakan berasal dari Madura, dikombinasi dengan garam Himalaya, dan garam Epsom. Lalu dipadukan dengan minyak esensial seperti lavender, jasmine, rose, peppermint, lemon-grass, yang memberikan efek aromaterapi.
Swasembada garam memang penting, tetapi garam mentah nilainya rendah. Masih dibutuhkan beragam inovasi dan penghiliran yang bermutu untuk naikkan nilai produk.
Tanpa campur tangan rekayasa teknologi, garam tambak akan hanya bikin geram, tersingkir dari persaingan nasional dan global. Jadi masih panjang jalan menuju swasembada berkualitas.

Penulis: T. Suwarsono (Wartawan)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....