Shutdown AS: Gaya Pemimpin Koboi Model Trump

  • 28 Okt 2025 20:04 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

BOLA panas yang digulirkan Partai Demokrat terhadap Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump belum juga redup. Buktinya sampai sekarang kongres belum meloloskan RUU Pendanaan Negara.

Akibatnya, Pemerintah AS dalam satu bulan terakhir masih shutdown, alias penghentian sementara layanan pemerintah. Beruntung Indonesia tidak pernah mengalami shutdown, seperti yang sering terjadi di Negeri Paman Sam itu.

Di sini, di Indonesia, kita lebih mengenalnya dengan istilah efisiensi atau pemangkasan anggaran. Itu adalah shock therapy buat Kementerian dan Lembaga (K/L) agar tidak boros menggunakan anggaran negara.

Kendati hanya kebijakan resmi yang tidak permanen, efisiensi sudah membuat panik semua K/L. Para pengguna anggaran mulai mengernyitkan dahi.

Sedangkan shutdown di AS itu merupakan imbas dari Undang-Undang yang diberlakukan dan harus dipatuhi. Undang-Undang di sana menyatakan lembaga federal tidak boleh menghabiskan atau mengikat dana tanpa persetujuan Kongres AS.

Akibat shutdown, warga setempat terancam krisis pangan. Sebab, bantuan pangan untuk lebih dari 42 juta warga bakal dihentikan mulai minggu depan.

Sementara krisis terus memburuk, Presiden Donald Trump justru memilih menghadiri KTT ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia. Hal ini seolah menunjukkan urusan lawatan negara lebih penting daripada krisis di negaranya sendiri.

Atau Trump ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa shutdown seakan-akan hal yang biasa? Masyarakat dunia tidak perlu panik dan khawatir, silakan tetap melakukan investasi di AS.

Dengan shutdown itu sebagian besar lembaga pemerintah federal tidak memiliki otorisasi anggaran untuk membayar gaji pegawai. Sekitar 2,2 juta pegawai pemerintah federal dan lebih dari 1 juta kontraktor juga terkena dampak.

Sebanyak 670 ribu pegawai federal terpaksa diliburkan tanpa gaji. Sementara 730 ribu lainnya tetap bekerja tanpa menerima bayaran.

Jika shutdown berlanjut, FAA (Federal Aviation Administration) juga segera meliburkan lebih dari 11 ribu pegawai. Nantinya hanya tersisa sekitar 25 persen dari total staf.

Departemen Pertanian Amerika Serikat atau USDA menyatakan Program Bantuan Pangan Utama dan Program Bantuan Nutrisi Tambahan (SNAP), tidak lagi memiliki dana untuk dibagikan mulai awal November.

SNAP adalah program bantuan pangan terbesar di AS. Tujuannya membantu keluarga berpendapatan rendah, pekerja dengan upah rendah, lansia, dan orang dengan disabilitas untuk membeli bahan makanan.

Shutdown pemerintah AS yang terjadi pada 2025 ini menjadi momen terpanjang kedua dalam sejarah. Saat ini terhitung sudah berlangsung 29 hari dan belum tahu kapan berakhir. Shutdown sebelumnya juga cukup panjang pada Desember 2018 yang berlangsung selama hampir lima minggu.

Siapa yang Terdampak?

Fungsi “esensial” seperti militer, kontrol lalu-lintas udara, penegakan hukum tetap berjalan tanpa bayaran. Sementara fungsi non-esensial seperti taman nasional, museum federal, dan beberapa layanan publik ditutup atau beroperasi terbatas.

Warga yang membutuhkan layanan federal tertentu, misalnya pengajuan izin, visa, fasilitas tertentu juga mengalami penundaan.

Situasi Pasar Modal

‘Greenback’ tetap gagah di tengah kekisruhan politik dalam negeri. Meski sempat terkoreksi di hari kedua pekan ini, karena ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) diperkirakan menurunkan suku bunga sebesar 25 bps (0,25 persen).

Secara keseluruhan USD atau Dolar AS mengawali perdagangan pekan ini dengan pijakan yang kuat. Hal itu didukung mencairnya ketegangan perang dagang AS-Tiongkok yang sebelumnya mengalami jalan buntu.

Presiden Donald Trump mengisyaratkan rencana untuk bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Eskalasi politik diyakini akan bergeser menjadi landai.

Walau demikian tetap ada kehati-hatian dari para investor terhadap Washington. Itu karena eskalasi shutdown pemerintahan federal yang masih berlangsung.

Bagaimanapun perlu diingat status USD sebagai mata uang cadangan dunia, daya tarik obligasi AS dan perbandingan risiko global, masih akan menguntungkan Greenback.

Dengan kata lain, krisis AS tidak cukup kuat untuk menggantikan posisi dominan USD. Terutama dalam sistem keuangan global.

Agenda pertemuan Trump-Putin yang telah lama dibahas, tampaknya juga masih belum dikonfirmasi. Lebih lanjut masih akan memberikan dukungan di seputar logam mulia sebagai asset lindung nilai di tengah volatilitas pasar.

Intinya guncangan geopolitik dalam negeri AS yang membuat kegelisahan luar biasa warga, juga berpengaruh terhadap pergerakan pasar modal global.

Trump pernah mengalami frustrasi yang sama ketika periode pertama memimpin AS. Ia sempat gagal dan bangkit lagi pada periode kedua.

Serangan shutdown jatuh bangun, tetapi Trump sepertinya tidak terganjal Partai Demokrat walau sebenarnya babak belur.

Begitulah gaya kepemimpinan Trump dengan politik liku-liku, jatuh di tikungan dan bangkit lagi. Satu gaya koboi yang belum pernah terjadi pada masa presiden-presiden sebelumnya.

Penulis: M. Rohanudin

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....