‘Melangitkanmu’ Lagi Garuda
- 27 Okt 2025 09:48 WIB
- Pusat Pemberitaan
ADA yang terasa hilang di langit Asia. Jika kita tengadah, yang acapkali terlihat melintas adalah burung-burung aluminium milik maskapai Singapura, Thailand, Malaysia, Jepang, Hong Kong, bahkan Filipina dan Vietnam. Ke mana Garuda Indonesia yang kita rindukan kepak sayapnya?
Reputasi maskapai flag carrier ini pernah sangat menjulang. Ada penerbangan ke London, Amsterdam, Tokyo, Los Angeles via Biak, Kanada, Seoul, dan Aukland di Selandia Baru. Setidaknya Garuda yang terdepan di ASEAN, bersaing dengan Singapore Airlines, yang memiliki rute ke hampir semua negara ASEAN dan global.
Padahal negara tetangga lebih banyak masuk ke Indonesia, antara lain Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam dan Filipina. Royal Brunei pun pernah melayani Surabaya-Bandar Seri Begawan. Rute Filipina dan Vietnam selalu padat ke Jakarta.
Dalam perjalanan bisnisnya Garuda Indonesia jatuh-bangun antara untung sekejap dan rugi berkepanjangan. Negara tak pernah absen membantu melalui suntikan dana APBN. Namun setelah kini BUMN Garuda bergabung dengan Danantara, rasanya Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dipastikan stop segala jenis skema talangan utang.
Krisis terberat Garuda Indonesia terjadi saat Covid-19 meruntuhkan seluruh moda transportasi. Waktu itu semester pertama 2021 saja Garuda tekor Rp 12,82 triliun, atau naik 26 persen dibandingkan tahun 2020 yang mencapai Rp10,17 triliun.
Beban biaya terjadi akibat minimnya penumpang dan bayar sewa pesawat. Bersama direksi yang dipimpin Irfan Setiaputra, Garuda Indonesia kalah dalam pengadilan arbitrase London, melawan Leasing SAS dan Atterisage SAS.
Jejak Utang
Jauh sebelum bencana Covid-19 keuangan Garuda Indonesia tergerus dua anak usahanya, PT Merpati Nusantara Airlines dan PT Nusa Dua Hotel. Dimulailah jejak utang Garuda Indonesia yang pada periode 1982 hingga 1986 saja utang jangka pendek Rp247,8 miliar dan utang jangka panjang Rp649,5 miliar.
Catatan ‘Kata Data’ pada 1987, Garuda menderita rugi terbesar di antara 47 BUMN. Memasuki 1988, Garuda dipimpin M. Soeparno dan berhasil mengubah rugi menjadi laba Rp129,57 miliar. Laba berlanjut dua tahun berikutnya, tetapi kembali meredup saat meletus Perang Teluk dan masuknya Singapore Airlines ke Jakarta.
Kerugian berlanjut saat 1996 Garuda membeli dua Boeing 747-400 dan tujuh Boeing 737-400. Lahirlah utang yang semula miliar, menjadi triliun rupiah. Utang terbaru 1997 sudah Rp 3,1 triliun plus rugi Rp122,8 miliar.
Garuda Indonesia menjual asset antara lain enam pesawat Boeing 747-200, satu pesawat Fokker 28, dua hotel di Bali dan Lombok. Merpati Airlines dilepas saat terbeban utang Rp600 miliar.
Seiring beruntunnya utang dan kerugian, bos Garuda Indonesia juga silih berganti. Ada Robby Djohan di saat krisis moneter 1997-1998 mengakibatkan perusahaan merugi sehingga menutup 16 rute internasional. Utang mencapai Rp4,6 triliun dan dapat menyebabkan kolaps.
Robby berhasil menekan kerugian, meski hanya enam bulan menjabat dan dipuji sebagai dewa penyelamat maskapai ini dari kebangkrutan. Emirsyah Satar datang gantikan Robby Djohan pada 2005. Ia melakukan transformasi internal, manajemen organisasi, sistem operasional, dan mengenalkan konsep ‘Indonesian Hospitality’ atau ‘Keramahan Khas Indonesia’ sebagai trade mark layanan Garuda.
Pelayanan kabin diubah mencerminkan estetika budaya dan kuliner Indonesia. Saat itulah Skytrax menobatkan awak kabin Garuda Indonesia dengan predikat ‘World’s Best Cabin Crew’ selama lima tahun berturut-turut.
Setelah lima tahun untung, krisis ekonomi global dan depresiasi nilai tukar rupiah kembali menghembalang Garuda Indonesia. Prestasi gemilang Emirsyah runtuh saat dirinya menjadi tersangka suap hingga dihukum delapan tahun penjara.
Ia tersandung kasus pengadaan pesawat dan pilihan mesinnya apakah buatan Rolls Royce Trent, General Electric, atau Pratt & Whitney. Garuda Indonesia pun terpaksa mengembalikan 10 pesawat dan menutup beberapa rute, disusul pemecatan hampir 1.000 pegawai.
Penerbangan terjauh ke London via Singapura nyaris distop, kalah bersaing dengan Singapore Airlines dan British Airways di jalur yang sama. Terdapat saran agar rute ke London ini disinergikan dengan pesona Liga Inggris.
Banyak fans bola asal ASEAN yang ingin menonton langsung sambil piknik. Bukankah kenyamanan pesawat Garuda Indonesia dan awak kabinnya setara dengan Singapore Airlines dan masih lebih baik dari maskapai Inggris?
‘Melangitkanmu Lagi’
Era mutakhir Garuda Indonesia ditandai dengan sejumlah pergantian direktur utama. Ada Irfan Setiaputra, lalu Wamildan Tsani Panjaitan seorang mayor penerbang TNI AU yang pernah menjabat Plt Dirut Lion Air.
Terbaru Letjen (Purn) Glenny Kairupan, diangkat sejak 15 Oktober 2025. Glenny, mantan pilot TNI Angkatan Darat juga dikenal sebagai anggota Dewan Pembina Partai Gerindra periode 2020-2025. Ia menghadapi turbulensi Garuda Indonesia yang sempoyongan memikul utang besar dan kerugian berturut-turut.
Laporan keuangan semester I 2025, perusahaan rugi USD142,835 juta atau sekitar Rp2,37 triliun. Nilainya bertambah 42,7 persen jika dibandingkan dengan semester I 2024 ketika Garuda mencatatkan kerugian Rp1,66 triliun.
Bersama Glenny juga direkrut dua orang asing dalam jajaran direksi baru. Keduanya adalah Balagopal Kunduvara mantan eksekutif Singapore Airlines sebagai Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, kemudian Neil Raymond Mills mantan bos Scandinavian Airlines sebagai Direktur Transformasi.
Pelibatan profesional internasional bukan berarti kurangnya kemampuan nasional, melainkan strategi untuk memperluas perspektif global dan mempercepat proses transfer pengetahuan. Kendali penuh tetap di tangan pemegang saham negara.
Manajemen baru ini meneguhkan prinsip meritokrasi dan profesionalisme, bagian penting dari proses penyembuhan menyeluruh. Restrukturisasi ini juga bukan ‘bailout’, karena fokus pemerintah bukan menutupi kerugian, melainkan membangun sistem bisnis yang tangguh dan profesional.
Segunung asa kini tersemat di benak warga bangsa, ingin saksikan cakar Garuda Indonesia menembus awan comulus nimbus kekalutan. Demi mewujudkannya kita perlu meminjam judul lagu Ghea Indrawari, ‘Melangitkanmu…’, membawa kepak sayap Garuda Indonesia ke langit tinggi.

Penulis: T. Suwarsono (Wartawan)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....