Gagah Bawang Merah, Pedih Bawang Putih
- 23 Okt 2025 09:38 WIB
- Pusat Pemberitaan
JALAN menuju kemandirian pangan ternyata cukup terjal. Beras dan jagung telah berhasil mengibarkan bendera stop impor, sedangkan kedelai masih tergontai-gontai.
Kini kita bicara tentang bawang merah dan bawang putih, dua komoditas pertanian yang ternyata tidak berjalan seiring. Bawang merah berjaya, bawang putih merintih.
Prestasi tinggi bawang merah pernah terjadi era Orde Baru, saat kita mencapai swadaya beras. Bawang merah dan putih sangatlah berjaya, ditandai ekspor ke Singapura dan Thailand.
Namun seperti halnya beras, kisah sukses bawang putih berakhir pendek 1996. Bencana politik dan keuangan 1998 menyeret bawang putih ke jurang dalam. Terjadi impor besar-besaran yang belum berhasil dipulihkan.
Hari ini impor bawang putih kita tembus 95 persen, mencapai 400 ribu ton per tahun, terbanyak dari Tiongkok. Hal itu diungkapkan Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Hasanuddin Ibrahim.
Sekadar catatan Badan Pusat Statistik (BPS), selama Januari 2013 Indonesia memang pernah mengimpor bawang merah 2.755 ton atau Rp 13,3 miliar sebulan. Sebagian didatangkan dari Prancis dan Belanda.
Syahdan krisis 1998 drastis mengubah lanskap perdagangan kita. Tekanan IMF membuka lebar berbagai impor jenis barang, termasuk hasil pertanian. Dan, bawang putih petani kalah bersaing mutu dan harga. Akhirnya banyak petani beralih menanam komoditas lain.
Kini produksi bawang putih petani kita hanya sekitar 20.000 ton per tahun. Itu pun jenisnya bawang putih khusus (bawang lanang) banyak digunakan untuk jamu.
Bawang putih kurang cocok pada iklim tropis seperti di Indonesia. Beda dengan Tiongkok, musim panas bawang putih mulai ditanam. Setelah tumbuh, masuk ke musim dingin.
Siklus itu bagus sekali bagi bawang putih, cepat tumbuh dan hasilnya banyak. Kebergantungan kita juga dipengaruhi bertambahnya penduduk dan gaya hidup yang banyak mengkonsumsi bawang putih.
Berjaya Ekspor
Kejayaan bawang merah dibuktikan tahun ini dengan ekspor 96 ton ke Thailand senilai Rp3,4 miliar. Seluruhnya mencapai 75 kontainer atau setara Rp 73,5 miliar. Kabupaten Brebes bertahan sebagai pusat keberhasilan bawang merah.
Kementrian Pertanian rutin memantaunya, memasok bibit unggul, mendorong teknologi mekanisasi dan akses permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Digelar pula festival bawang merah yang pertama di Indonesia, untuk menyadarkan warga Brebes kekuatan ekonomi bawang merah di level nasional dan global.
Produksi memang terus meningkat. Pada 2022 produksi nasional 1,5 juta ton, sedangkan kebutuhan domestik hanya 1,2 juta ton. Sisanya diekspor ke negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand, Malaysia dan Singapura, sekalipun mereka juga negara penghasil bawang merah kecuali Singapura.
Singkat kata tahun ini komoditas pangan pokok strategis dipastikan tidak akan diimpor, yaitu jagung untuk pakan ternak, garam konsumsi, gula dan beras untuk konsumsi. Menko Pangan berharap pada 2027, kita benar-benar swasembada pangan.
Presiden Prabowo mendorong swasembada pangan hingga tingkat kecamatan. Sejumlah komoditas pangan yang sudah mencukupi kebutuhan dari hasil produksi lokal, adalah daging ayam, telur ayam, dan bawang merah. Ketiganya sudah surplus.
Buang ke Jalan
Meski sudah swadaya, konsumen bawang merah masih sering keluhkan lompatan harga pada hari-hari khusus seperti awal bulan puasa, lebaran, atau jelang tutup tahun. Keberhasilan budi daya saja tak cukup, masih perlu dijaga apakah masih ada kartel yang mempermainkan harga. Masih adakah para pengijon atau sindikat berkeliaran di sekeliling petani?
Di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta penjualan hariannya mencapai 106 ton. Sebelumnya hanya 80–90 ton. Kondisi ini menekan harga di pasar grosir hingga turun rata-rata Rp5.000 per kilogram.
Ketangguhan sentra bawang merah seperti Nganjuk, Malang, Bandung, Garut, Cirebon, dan Brebes, belum tergoyahkan. Meski diketahui sempat terjadi penurunan produksi di sentra utama Solok, Sumatera Barat.
Sampai akhir September 2025 Kabupaten Nganjuk berhasil panen 5.000 hektare, Bima Raya (Sumbawa, Dompu, Bima) 2.000 hektare, Brebes 3.600 hektare, dan Probolinggo 700 hektare. Luas panen Agustus diperkirakan 13.835 hektare dan September meningkat jadi 16.342 hektare. Produktivitas per hektarenya 12–14 ton.
Dari wilayah timur, dipastikan produksi dari sentra Enrekang, Bantaeng, dan Nusa Tenggara Barat mampu memenuhi kebutuhan Sulawesi, Maluku, Papua, Kalimantan, bahkan membantu pasokan ke Jawa. Dari Brebes kembali dilakukan ekspor 11.800 ton ke Thailand, Singapura, dan Vietnam.
Kisah pilu pernah terjadi di Brebes saat panen gagal akibat kekeringan dan serangan virus ‘janda pirang’. Petani membuang bawangnya ke jalan raya pantura, diremuk berbagai kendaraan lewat. Baru saja petani Nganjuk juga buang bawang ke jalan-jalan di Desa Banaran, Kecamatan Rejoso.
Dugaan petani Nganjuk anjloknya harga bawang lokal akibat tak ada standardisasi harga dasar bawang dan masuknya bawang impor dari sejumlah negara. Harga terjun bebas jauh di bawah biaya produksi. Seharusnya dijual paling sedikit Rp7.000/kg, anjlok hanya Rp2.000/kg. Dipertanyakan langkah Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang menerapkan harga tertinggi Rp12 ribu, tapi harga bawah dibiarkan.
Merujuk Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2025 yang diolah Badan Pangan Nasional (Bapanas) masih ada rencana impor beras industri dan beras khusus 416.220 ton hingga Desember 2025. Juga didatangkan 859.933 ton jagung, 2,05 juta ton kedelai, 495 ton bawang merah, 587.277 ton bawang putih, 485.031 ton daging ruminansia, dan 190.000 ton gula konsumsi.
Mimpi besar kita memang tak sebatas swasembada, tetapi kedaulatan pangan seluruh komoditas pertanian dan peternakan. Dan, bawang merah sukses melangkah gagah, meski bawang putih masih pedih merintih.

Penulis: T. Suwarsono (Wartawan)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....