Langkah Gontai Swadaya Kedelai
- 13 Okt 2025 09:53 WIB
- Pusat Pemberitaan
SWADAYA beras dan jagung telah mengukir capaian hebat. Tahun ini dan periode berikutnya sangat mungkin kita berhenti impor beras dan jagung, dan sebaliknya justru mampu ekspor. Namun dibandingkan capaian cepat beras dan jagung, langkah menuju swadaya kedelai terasa amat gontai.
Ini disebabkan kebutuhan domestik kedelai kian melonjak tajam, ditambah program Makan Bergizi Gratis.
Masa keemasan kedelai pernah terjadi tahun 1992, atau 33 tahun lalu saat kita mencapai produksi 1,8 juta ton.
Namun angka tersebut terus menurun karena areal pertanian kian berkurang, sehingga produksi terjun bebas satu juta ton, tinggal 800 ton per tahun. Kemerosotan ini berpotensi terus berlanjut, karena petani enggan menanam kedelai lokal.
Produktivitasnya rendah dan kalah bersaing dengan kedelai impor. Para petani patah arang, menolak teknologi budidaya.
Padahal sejumlah lembaga penelitian dan perguruan tinggi sukses kembangkan berbagai varietas kedelai unggul dan mampu bersaing dengan impor. Bila rata-rata produktivitas petani 1,3 ton per hektar, varietas unggulan bisa panen 3-4 ton per hektar.
Kini produksi kedelai kita kurang dari 10 persen kebutuhan nasional. Lebih 80 persen terpaksa dicukupi dari impor yang hingga Juli 2025 saja sudah mencapai 1,47 juta ton dari rencana impor 2,6 juta hingga Desember 2025. Dari total volume impor itu, sekitar 70 persen diserap produksi tempe, 25 persen untuk produksi tahu, dan sisanya produk lain.
Amerika Serikat (AS) pemasok kedelai terbesar mencapai 1,94 juta ton. AS konsisten menjadi pemasok terbesar selama 7 tahun terakhir. Posisinya diikuti Kanada yang mengirimkan 271,28 ribu ton; Brasil 24,22 ribu ton; Argentina 23,12 ribu ton; dan Malaysia 6,33 ribu ton.
Kebutuhan kita 3 juta ton setahun. Sementara penghasil kedelai dalam negeri disumbangkan provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara, paling tinggi di atas 20 ku/ha. Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, NTB, Kalimantan Tengah, rata-rata produktivitas 15,00-20,00 ku/ha.
Ogah Mencoba
Pakar Agronomi UGM Prof. Dr. Didik Indradewa, menyebutkan krisis kedelai yang kembali menerpa Indonesia saat ini salah satunya dikarenakan kurangnya lahan pertanian. Kita butuh setidaknya tabahan 2 juta hektar lahan, sebab tanaman juga mengalami persaingan di tingkat lahan.
Misalnya kalau produksi kedelai naik maka akan menggeser produksi jagung dan sebaliknya. Jadi lahan harus dinaikkan agar produksi kedelai lokal bisa mencukupi.
Para perajin tempe lebih memilih kedelai impor selain harganya lebih murah juga terjamin selalu tersedia setiap waktu. Berbeda dengan kedelai lokal yang musiman. Kedelai impor lebih bagus karena berukuran besar.
Kedelai lokal rata-rata berukuran 15 gram per 100 butir, sementara kedelai impor 18 gram per 100 butir. Yang impor berwarna putih dan memiliki kandungan protein tinggi 35 persen.
Bandingkan dengan varietas unggulan kita sendiri yaitu Burangrang, Bromo, dan Argomulyo yang bisa 18 gram per 100 butir dan kandungan protein hingga 45 persen. Berbagai keunggulan ini masih teronggok di lembaga penelitian, petani masih ogah menerapkan.
Petani pernah mencoba varietas Wilis yang hanya berukuran 13 gram per 100 butir. Itupun karena tidak banyak yang memakai akhirnya benih tidak dikembangkan.
Kini dibutuhkan terobosan koboi cepat ala Menkeu Purbaya, agar krisis kedelai tak kian melesak dalam. Perlu ketersediaan lahan pengganti yang cukup, memanfaatkan lahan diam seperti kawasan hutan Perhutani atau kebun-kebun rakyat yang kurang produktif.
Petani perlu dirangsang memanfaatkan teknologi budidaya baru dan varietas unggul. Ketersediaan lahan dan bibit saja tak memadai jika skema ekonomi pasca panen tidak menguntungkan petani.
Tempe Amerika
Pada masa Presiden Joko Widodo, pemerintah pernah membeli kedelai dengan harga minimal Rp10.000/kg. Selama ini harga kedelai petani hanya Rp4.500/kg.
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo bahkan pernah bertekad bersama kementerian dan lembaga lain berkerja keras memenuhi kebutuhan kedelai nasional. Dilakukan penanaman khusus kedelai, kurang lebih 351 ribu ha, yang ditanam baru 67 ribu ha.
BUMN pun oleh Presiden diminta melakukan pembelian dengan harga yang menguntungkan petani dan pedagang. Logistik dan transportasi terus dikawal. Petani akan malas tanam kedelai jika harganya di bawah Rp10.000/kg karena kalah dengan harga impor dari AS yang hanya Rp7.700 atau bahkan lebih murah.
Petani juga diarahkan menggunakan bibit unggul yang telah direkayasa secara genetik atau genetically modified organism (GMO). Dengan bibit ini produksi per hektarnya itu naik dari yang sekarang 1,6-2 ton per hektar menjadi 3,5-4 ton per hektar.
Disiapkan pula anggaran perluasan lahan dari sekitar 150 ribu ha menjadi 300 ribu ha, dan 600 ribu tahun berikutnya. Targetnya penanaman kedelai 1 juta ha.
Biaya untuk menghasilkan 1 kg kedelai saat ini Rp6.000 per kg. Ongkos terbanyak kegiatan budidaya kedelai adalah biaya tenaga kerja.
Sewa tenaga kerja untuk menggarap lahan kedelai di Jawa Timur adalah Rp50 ribu hingga 55 ribu/orang/hari melebihi UMR Jatim yang jika dihitung perhari hanya sekitar Rp38 ribu. Ini diperparah rendahnya produksi kedelai.
Berbagai upaya mengurai sengkarut sudah pernah dicoba. Hasilnya belum signifikan. Swadaya kedelai masih menempuh jalan terjal karena volume impor, khususnya dari AS bertahan tinggi. Dan saking dominannya kedelai dari AS, muncul ironi publik: tempe kita telah berubah ‘made in Amerika’.

Penulis: T. Suwarsono (Praktisi Media)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....