Sogososha, Chaebol, Temasek
- 29 Sep 2025 12:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
AKHIR-AKHIR ini Presiden Prabowo Subianto mencetuskan banyak ide pengelolaan keuangan dan investasi. Sebagian ide itu sudah ada contohnya di negara lain, sudah berjalan baik dan menjadi model keberhasilan. Sebagian ide lagi dipetik dari model asing, dan coba dimodifikasi dengan kondisi domestik.
Tujuan utamanya mengarah ke satu titik, memperkuat belanja pemerintah dengan menggali pajak seluas-luasnya, tanpa membebani rakyat. Pajak sudah menjadi sumber pendapatan absolut bagi penyelenggara pemerintah di semua tingkatan.
Presiden menyebut beberapa instrumen investasi untuk menjadikan BUMN perkasa melalui Danantara, meniru keberhasilan Temasek Holding di Singapura. Disebut pula akan dibentuknya ‘Family Office’ wadah pengelola kekayaan para super kaya. Yang terbaru disinggung perlunya ‘Indonesia Incorporated’, sebuah ide yang pernah dicetuskan dua dekade lalu oleh wartawan dan pengamat ekonomi, Christianto Wibisono.
Istilah 'Indonesia Incorporated' disebut Presiden di musyawarah nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia 16 Januari lalu. Istilah ini menekankan persatuan di internal para pengusaha.
Pemerintah dan pelaku bisnis harus berjalan seiring di bawah satu komando presiden. Tujuannya menjadikan pengusaha unggul dalam persaingan global.
Konsep ini lebih dari sekadar gotong royong atau kolaborasi, melainkan kesadaran kolektif bangsa untuk berperan aktif membawa Indonesia semakin kuat.
Peran lebih besar diberikan kepada swasta. Berbagai proyek infrastruktur yang sebagian besar masih ditangani BUMN, akan diserahkan kepada swasta. Kata Presiden, swasta lebih efisien, lebih inovatif juga lebih berpengalaman.
Pembangunan jalan tol, pelabuhan, bandara, saya serahkan kepada swasta. Silakan bergerak semuanya. Pemerintah akan fokus menangani bidang yang menyangkut layanan dan perlindungan masyarakat, antara lain swasembada pangan.
China juga sudah lama membangun sinergi korporasi (China Investment Corporation) untuk menguatkan perdagangan global. Bahkan di beberapa Negara Afrika, Asia Tengah, dan sebagian Asia ekspansinya berhasil mendominasi perekonomian domestik Negara sasaran.
Sogoshosha, Chaebol
Keinginan mendorong swasta sebagai backbone pertumbuhan, mirip dengan konsep Sogoshosha yang diperkenalkan di Jepang, dan Chaebol di Korea Selatan. Sogoshosha dirancang untuk mempercepat pertumbuhan Jepang melalui peningkatan ekspor, ekspansi investasi internasional, dan transfer teknologi, mengandalkan jaringan global dan kemampuan perdagangan yang luas.
Perusahaan ini fokus pada penyediaan layanan logistik, keuangan, dan pengembangan investasi. Ia memiliki modal dan kemampuan finansial besar.
Konsep ini sudah lama ditiru Malaysia, dan sebagian juga sudah dilakukan di sini. Caranya, perusahaan lokal yang terlibat kegiatan ekspor dan perdagangan internasional, diberi kemudahan kredit dan pengecualian pajak.
Sogoshosha memiliki kemampuan manajemen risiko yang luas karena mereka berdagang di banyak pasar, menjaga saldo dalam banyak mata uang asing dan dapat menghasilkan pasokan dan permintaan. Skala dagang yang luas memungkinkan mereka untuk menyediakan modal kredit, pembiayaan dan layanan ekspor dengan biaya rendah.
Sogoshosha itu perusahaan dengan gaji tertinggi di Jepang. Jadi rebutan lulusan universitas ternama karena tingkat kompensasi yang tinggi, stabilitas kerja, dan beragamnya peluang yang tersedia bagi calon karyawan.
Sejenak kita terbang ke negeri ginseng untuk mengintip Chaebol yang dihuni beberapa lusin grup raksasa perusahaan. Begitu kuatnya kolaborasi Chaebol, ia mampu memainkan peran penting dalam politik Korea Selatan.
Meski memiliki reputasi hebat, toh warga pernah melancarkan kritik tajam terhadap chaebol yang dikelola keluarga super kaya. Chaebol dikritik karena pembayaran dividen yang rendah dan praktik tata kelola yang lebih memihak pemegang saham pengendali dengan mengorbankan investor biasa.
Temasek Holding
Tak kalah menarik, Presiden juga mengajak kita pelajari Temasek Holding Singapura. Temasek sangat bisa menginspirasi Danantara sebagai super-holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Laman resmi Temasek menyebutkan holding ini dibentuk 1974 dengan aset USD275 miliar per Maret 2017. Temasek bergerak di jasa keuangan, telekomunikasi, media dan teknologi, transportasi dan industri, konsumer dan real estat, pertanian, energi dan sumber daya alam.
Selain Singapura, Malaysia juga memiliki holding BUMN, yaitu Khazanah Nasional Berhad (Khazanah). Khazanah resmi terbentuk pada 3 September 1993 sebagai perusahaan terbatas.
Beberapa perusahaan di bawahnya antara lain Axiata Group Berhad, CIMB Group Holdings Berhad, Tenaga Nasional Berhad, Telekom Malaysia Berhad, Malaysia Airports Holdings Berhad, IHH Healthcare Berhad, dan UEM Sunrise Berhad. Khazanah juga bertugas meningkatkan nilai dan manfaat bagi pertumbuhan ekonomi Malaysia.
Super holding memungkinkan BUMN bergerak lebih leluasa dan lincah. Bisa berinvestasi di luar negeri seperti halnya korporasi swasta. Tidak lagi menjadi beban pemerintah yang kadang harus menomboki modal. Di Indonesia, super-holding akan menggeser peran Kementerian BUMN yang selama ini menjadi pemegang kekuasaan atas BUMN. Super holding justru akan mudah mengawasi kinerja dan tata kelola BUMN yang selama ini ada di tingkat kementerian.
Rakyat bertanya, di manakah jalan sukses beragam instrumen investasi yang sudah dikutip Presiden itu. Gol utamanya menciptakan BUMN dan korporasi swasta yang perkasa, membuka ladang deviden dan pajak besar bagi Negara.
Soal model bisnis perusahaan mudah diadopsi. Regulasi yang business friendly pun bisa dipelajari. Yang masih menjadi tantangan besar adalah trust dan ‘budaya kerjasama korporasi’. Kita terbiasa dengan kompetisi hidup-mati, saling lumpuhkan pesaing untuk mendominasi pasar. Inilah yang membuat ide Indonesia Incorporated, nun jauh di masa lampau, tenggelam dalam lumpur fatamorgana.
Ibarat sebuah grup musik Berlin Philharmonic Orchestra, kita perlu hadirkan dirijen sekaliber Herbert von Karajan, atau Claudio Abbado. Namun di atas itu semua, sangatlah penting menyusun partitur indah yang siap dimainkan. Partitur musik itulah ‘strategic plan’ untuk sang dirijen mengorkestrasi ide-ide Presiden.

Penulis: T.Suwarsono (Praktisi Media)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....