Melirik Profit dari BRICS

  • 15 Sep 2025 08:53 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

PERTANIAN merupakan salah satu kunci kemakmuran Indonesia. Produksi pangan menjadi isu krusial di tengah impitan ancaman kelaparan, pemanasan global, energi terbarukan, dan rivalitas produksi di antara negara-negara anggota BRICS (Gabungan Negara Brasil, Rusia, India, China, South Africa).

Sampai hari ini capaian terbaik pertanian kita masih sporadis adanya. Belum terjalin orkestrasi manajemen dari hulu ke hilir yang kuat, dan merata hasilnya.

Masih banyak petani belum sejahtera, meski sebagian potret kemakmuran terwujud di sentra-sentra penghasil pertanian. Pertanian kita juga lama dihantui barang impor, mulai beras, kedelai, bawang merah dan putih, bahkan garam. Sedihnya barang ini masuk di saat musim panen dan produksi doestik berlimpah.

Kita melirik BRICS sebagai wahana baru yang menawarkan peluang memasarkan produk pertanian, tetapi perjalanannya tak mudah. Itu karena persaingan di antara Negara anggota BRICS sendiri cukup sengit, dengan contoh ekspor biji-bijian dari negara BRICS masih didominasi beras menyumbang 39%, gandum 33%, dan jagung 23%.

Beras dan gandum merupakan makanan pokok utama, terutama di negara-negara di belahan bumi selatan. Komoditas ini menjadi kunci mengurangi risiko kerawanan pangan. India sejauh ini memasok beras terbanyak ke pasar internasional, dengan pangsa pasar global sebesar 35%, mengungguli Thailand (12%) dan Vietnam (10%).Tujuan utama ekspor beras adalah Tiongkok, Filipina, dan Bangladesh di Asia, serta berbagai negara Afrika Barat dan Afrika Selatan.

Rusia pengekspor gandum terbanyak, diikuti Amerika Serikat dan Australia (12%). Sedangkan negara pengimpor utama adalah Mesir, Nigeria, dan Aljazair di Afrika, Indonesia, Tiongkok, dan Turki di Asia, serta Brasil di Amerika Latin.

Selain digunakan sebagai pangan manusia dan pakan ternak, jagung juga berfungsi sebagai bahan baku biogas dan biofuel. Brasil merupakan eksportir jagung terbesar keempat setelah Amerika Serikat (36%), Argentina (17%), dan Ukraina (11%).

Ekspor Melonjak

Bagaimana capaian kita menghadapi persaingan ini?

Mengutip laporan Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, ekspor hortikultura melonjak 49% dibandingkan semester I 2024. Inikah awal keberhasilan strategi menekan impor sekaligus mendorong ekspor?

Menteri Perdagangan menegaskan lonjakan ekspor ini lahir dari kolaborasi lintas kementerian. Sedangkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yakin dengan menekan impor pangan hingga Rp100 triliun dan memperluas ekspor, pertanian kita bangkit.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat semester I 2025, ekspor buah-buahan mencatat nilai USD547,3 juta pada Januari dan masih di atas USD586,9 juta pada Juni. Ekspor sayur-sayuran juga menguat, dari USD168,9 juta pada Januari menjadi USD219,3 juta pada Juni.

Buah tropis seperti manggis, pisang, dan nanas tetap jadi primadona, sementara sayuran segar makin mendapat tempat di pasar regional. Nilai ekspor pertanian Januari-Juni 2025 mencapai USD 3,39 miliar atau sekitar Rp55,68 triliun. Nilai ini naik 49% dibanding Januari-Juni 2024 yang tercatat USD2,262 juta.

Hortikultura menjadi pendorong utama ekspor pertanian semester I 2025. Selain hortikultura, kopi melonjak dari USD469,8 juta ke USD1.113,8 juta, menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan.

Tanaman obat dan rempah juga naik dari USD194,9 juta menjadi USD308 juta. Namun masih ada komoditas yang melemah yakni tembakau dan sarang burung walet.

Mengungguli Vietnam

Tekad kemandirian pangan ditandai dengan capaian per 13 Mei 2025 stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tembus 3.701.006 ton, menandai rekor tertinggi sejak Bulog berdiri pada 1969. Tak lama setelah Presiden mengucapkan “tidak ada lagi impor beras” pada awal 2025, impor beras berhasil distop.

Tahun lalu kita masih mengimpor besar-besaran hingga 4,5 juta ton akibat dampak El Nino yang menekan produksi padi hingga berkurang 760 ribu ton. Dalam waktu kurang dari 5 bulan, Bulog menyerap lebih dari 2 juta ton beras dari petani.

Sejarah membuktikan pada 1984 kita berhasil mencapai swasembada dengan jumlah penduduk 166,6 juta jiwa. Kini, dengan populasi yang meningkat menjadi 283 juta jiwa, rekor stok beras tahun 1985 terlampaui.

Perbaikan lainnya adalah harga pembelian gabah naik dari Rp5.500 ke Rp6.500 per kg. Hal ini ditunjang tambahan pupuk subsidi, penguatan alat mesin pertanian, optimalisasi lahan hingga perbaikan irigasi pertanian dengan pompanisasi yang menyerap dana Rp1,7 triliun.

Juga disiapkan 25 ribu unit gudang prioritas baru untuk menampung panen yang terus meningkat. Pada 2025 ini produksi beras nasional diproyeksi mencapai 34,6 juta ton, menjadikan Indonesia produsen beras tertinggi di ASEAN, mengungguli Thailand dan Vietnam.

Bila pada 2024 impor beras mencapai 4.519.420,6 ton, dipicu tekanan produksi padi yang turun 760 ribu ton, saat ini Indonesia sama sekali tidak impor. Impor utama saat itu berasal dari Thailand mencapai 1,36 juta ton, atau 30,19% dari total impor beras.

Kini, Thailand merana. Vietnam dan Kamboja pun terpaksa harus mencari pasar baru bagi berasnya.

Prestasi ekspor produk hortikultura dan stop impor beras, menjadi dua andalan meraih potensi profit lebih jauh di kawasan BRICS. Meski di sana terbuka lebar potensi pasar, tetapi kompetisinya tidaklah mudah. Dibutuhkan stamina dan ketahanan prima.

Penulis: T. Suwarsono (Praktisi Media)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....