Relevansi Pemikiran Kartini dengan Perempuan di Era Digital

  • 19 Apr 2025 18:03 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

PADA tahun 2007, ketika Francisca Sestri saat ini Rektor Universitas Insan Pembangunan Indonesia (UNIPI), meluncurkan buku biografi Kanti Redjeki (1923-1976) yang ditulis sendiri, menceritakan kegigihan seorang Tenaga Medis perempuan.

Sosok ini fasih berbahasa Belanda, dan melayani kesehatan masyarakat di desa. Menurut salah satu pembedah buku itu, Nina Akbar Tanjung seorang tokoh pemerhati budaya mengatakan, bahwa Kanti Redjeki sosok Kartini zaman modern yang mampu mendobrak pengekangan budaya yang diterapkan orang tuanya di pusat Kabupaten Sragen.

Hingga Kanti lari dan nekad menyelesaikan pendidikan Bidan di zaman Belanda di Surakarta, tanpa meninggalkan dendam, seperti yang ditulis pada "Jejak Gula" (Krisnina A.Tanjung, 2010).

Berdasarkan latar belakang itu, Francisca Sestri sependapat dengan pandangan Nina Akbar Tanjung, dalam menilai perilaku Kanti atau akrab disapa Ibu Widji adalah ibunya, yang sangat dikagumi adalah implementator dari pemikiran seorang Kartini, dituangkan dalam buku "Kanti Redjeki" (F.Sestri, 2007)

Pandangan Francisca Sestri, bahwa perempuan era digital, harus bisa memahami dan menerapakan konsep 3B. Yaitu, Belajar, Berkolaborasi dan Beradaptasi.

Dengan demikian kesetaraan berfikir dan bertindak antara laki-laki dan perempuan akan terwujud tanpa meninggal kodrati perempuan sebagai ibu, dari putra putrinya, dan isteri dari suaminya.

Maka pemikiran RA. Kartini sangat relevan dengan situasi era digital saat sekarang, Ungkap Prof. Francisca Sestri yang aktif sebagai Sekjen Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER), Penasihat Perempuan Indonesia Maju (PIM) ini.

(Oleh: Prof. Dr. Francisca Sestri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....