Sape, Alat Musik Tradisional Masyarakat Dayak yang Mendunia
- 22 Mei 2024 19:44 WIB
- Sintang
KBRN, Sintang: Sape, alat musik tradisional masyarakat Dayak, kini meraih sorotan global sebagai simbol warisan budaya yang kaya. Dilansir dari warisanbudaya.kemdikbud.go.id, Sape dikenal sebagai salah satu alat musik petik yang berasal dari suku Dayak Kayaan di wilayah Sungai Kapuas Hulu. Selain sebagai hiburan, Sape juga memiliki peran penting dalam mendukung tarian dan upacara ritual adat Suku Dayak.
Sape, yang berasal dari kata "tiga" dalam bahasa Dayak, merujuk pada jumlah dawai yang dimilikinya, yakni hanya tiga buah. Meskipun ada dua jenis Sape, yaitu Sape Kayaan dan Sape Kenyah, secara umum keduanya memiliki karakteristik yang serupa, dengan perbedaan hanya pada asal suku pembuatnya.
Proses pembuatan Sape dipengaruhi oleh tradisi dan kebudayaan Suku Dayak, mencerminkan nilai-nilai artistik yang kaya. Bentuk Sape yang menyerupai perahu dan dihiasi dengan motif khas Suku Dayak merupakan contoh nyata dari keindahan seni tradisional.
Awalnya, dawai Sape terbuat dari rotan atau ijuk pohon raruk, namun seiring perkembangan waktu, kini digantikan dengan kawat rem sepeda atau senar gitar. Bagian dasar Sape terbuat dari rotan yang menggunakan sarang kelulut sebagai penempel grid, menciptakan suara yang khas saat dimainkan.
Dalam tradisi masyarakat Dayak yang erat dengan alam, alunan Sape sering kali mengikuti ritme alam sekitarnya. Pola permainannya yang mengulang-ulang beberapa birama menambah keindahan musik Sape, di mana birama pertama bisa saja muncul kembali pada birama kesepuluh dan seterusnya.
Dengan keunikan dan keindahan musiknya, Sape tidak hanya menjadi bagian dari kebudayaan lokal, tetapi juga mendapat perhatian global sebagai salah satu warisan budaya yang patut dijaga dan diapresiasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....