Bakudapan Angkat Ketahanan Pangan Lokal lewat Film “Miselia”

  • 26 Agt 2026 19:40 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang - Bakudapan Food Study Group kembali hadir di Kabupaten Sintang melalui kegiatan diseminasi film dokumenter “Miselia Yang Tumbuh, Tersisa, dan Menjalar".

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari perjalanan Bakudapan untuk mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan kekayaan pangan lokal dan berbagai upaya masyarakat dalam mempertahankan tradisi di tengah perubahan lingkungan.

Perwakilan Bakudapan Food Study Group, Mepi, saat ditemui di Jerau Space pada 12 Juni 2026 mengatakan Bakudapan merupakan kolektif yang mempelajari pangan sekaligus melihat keterkaitannya dengan persoalan sosial, budaya, dan lingkungan.

“Bakudapan Food Study Group yang di mana itu adalah semacam kolektif yang belajar bersama soal pangan dan melihat relasinya dengan isu-isu lain gitu. Misalnya soal lingkungan, soal sosial dan budayanya,” ujar Mepi.

Melalui proyek “Telusur Pangan Kalimantan Barat”, Bakudapan sebelumnya melakukan perjalanan penelitian di tiga kabupaten, yakni Kapuas Hulu, Sintang, dan Sanggau.

Penelitian tersebut menggali hubungan antara pangan lokal, adat budaya, serta perubahan fungsi lahan yang terjadi secara masif. Hasil perjalanan kemudian dikembangkan menjadi film dokumenter berjudul “Miselia”.

Menurut Mepi, “Miselia” menggambarkan berbagai siasat masyarakat dalam mempertahankan hal-hal yang dianggap penting, termasuk pangan warisan leluhur.

“Dalam film ini kami mau meng-highlight gimana orang-orang terus bersiasat untuk menjaga apa yang mereka anggap penting, seperti pangan dan lain-lain,” katanya.

Ia menjelaskan, proses pemutaran film yang dilakukan saat ini belum menjadi tahap akhir. Bakudapan masih mengumpulkan masukan dari komunitas dan masyarakat yang terlibat dalam film sebelum karya tersebut dipublikasikan secara lebih luas.

Masukan tersebut diperlukan untuk memastikan isu yang diangkat dalam film telah mewakili pengalaman dan suara masyarakat di setiap wilayah.

Mepi menilai keberlangsungan pangan lokal sangat bergantung pada kondisi ekosistem. Kerusakan lingkungan berpotensi menghilangkan sumber pangan yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi.

“Kalau lingkungannya rusak, pangan yang kita tahu yang dimakan oleh orang tua kita atau nenek moyang kita pun juga akan hilang,” ujarnya.

Melalui “Miselia”, Bakudapan berharap suara komunitas dapat didengar lebih luas sekaligus membangun solidaritas antardaerah. Perubahan fungsi lahan dan ancaman terhadap ruang hidup masyarakat dinilai bukan hanya terjadi di Kalimantan Barat, tetapi juga di berbagai wilayah lainnya.

Film tersebut diharapkan menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana masyarakat terus menjaga pangan, budaya, serta lingkungan di tengah perubahan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....