Pemkab Sintang Perkuat Kesiapsiagaan Masyarakat Hadapi Gempa Bumi
- 23 Agt 2026 14:15 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang – Kabupaten Sintang tercatat mengalami tujuh kali gempa bumi sejak 2019 hingga April 2026. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Sintang untuk memperkuat edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana gempa bumi.
Upaya tersebut diwujudkan melalui dukungan terhadap pelaksanaan Sekolah Lapang Gempa Bumi Kabupaten Sintang Tahun 2026 yang digelar Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II Sintang di Hotel Bagoes Sintang, Kamis 20 Agustus 2026.
Staf Ahli Bupati Sintang Bidang Perekonomian, Pembangunan dan Keuangan, Helmi, yang mewakili Bupati Sintang sekaligus membacakan sambutan Bupati, mengatakan gempa bumi merupakan bencana yang tidak dapat dihentikan maupun diprediksi secara pasti. Namun, risiko korban dan dampaknya dapat ditekan melalui pengetahuan serta kesiapsiagaan masyarakat.
“Gempa bumi mungkin tidak bisa kita hentikan, tetapi korban dan dampaknya bisa kita kurangi. Kita tidak memiliki kemampuan untuk memerintahkan bumi agar tidak bergerak. Kita juga tidak bisa mengetahui dengan pasti kapan sebuah gempa akan terjadi, tetapi kita mempunyai sesuatu yang sangat penting, yaitu pengetahuan, kesiapsiagaan dan kecepatan bertindak,” ujarnya.
Menurut Helmi, Sekolah Lapang Gempa Bumi bukan sekadar kegiatan pelatihan, melainkan bagian dari upaya membangun kemampuan masyarakat agar mampu menghadapi bencana dengan tepat. Edukasi tersebut dinilai penting karena gempa bumi dapat berdampak kepada siapa saja tanpa mengenal usia, pekerjaan, jabatan maupun status sosial.
“Karena itu, saya menyambut baik dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya Sekolah Lapang Gempa Bumi Kabupaten Sintang tahun 2026 ini. Kegiatan ini bukan sekadar kegiatan pelatihan. Ini adalah sekolah untuk menyelamatkan kehidupan,” katanya.
Ia menegaskan, ketika gempa terjadi, masyarakat harus mengutamakan pemahaman dan tindakan yang tepat, bukan kepanikan. Informasi terkait gempa juga harus dibaca dan dipahami dengan benar agar masyarakat tidak mengambil keputusan yang keliru.
“Ketika gempa terjadi, yang kita perlukan bukan kepanikan. Yang kita perlukan adalah pemahaman. Ketika informasi gempa diterima, kita tidak boleh salah membaca informasi. Yang kita perlukan adalah ketepatan dan ketika guncangan terjadi, kita tidak boleh terlambat mengambil tindakan. Yang kita perlukan adalah aksi cepat,” tambahnya.
Pemkab Sintang berharap kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi dapat meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan seluruh elemen masyarakat, sehingga apabila gempa terjadi, masyarakat mampu merespons secara cepat, tepat dan terukur untuk meminimalkan risiko korban maupun kerugian. (ril/din)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....